BERBEDA dengan apa yang terjadi di Kecamatan Melak Kutai Barat, yang diberitakan bahwa Shalat Gerhana di tempat itu berlangsung dengan lancar (Kaltim Post 27 Januari 2009). Bahkan, shalat gerhana yang dilaksanakan di Masjid YAMP (Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila) atas kerjasama Nahdhatul Ulama Kubar melalui Masjid Sabilussalam Melak, Masjid Al-Hidayah Melak dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kubar itu diikuti oleh ratusan ummat yang ingin menegakkan sunnah rasulnya.
Wakil Bupati Kubar H Didik Effendi yang ikut hadir mengikuti shalat gerhana dengan menyertakan seluruh keluarganya itu mengakui, ini adalah Shalat Gerhana yang kedua kalinya diikuti. Pertama Shalat Gerhana tahun 1983 dan kedua kalinya tahun 2009.
Di Samarinda justru sebaliknya, di beberapa masjid Shalat Gerhana terhambat oleh adanya berita cacat yang di muat oleh media yang dikenal sebagai Harian Pagi Pertama dan Terbesar di Kalimantan Timur (26/1-2009) beredar dan terbaca oleh masyarakat. Dalam berita pagi itu dimuat, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Stasiun Geofisika Balikpapan Ronny Watimena mengatakan, untuk wilayah Indonesia, gerhana hanya bisa disaksikan di Lampung. Untuk wilayah Kaltim tidak bisa disaksikan. Ini juga menepis kabar bahwa gerhana cincin bisa dilihat dari Samarinda.
Berita cacat yang tidak akurat itu ternyata sempat mengecoh ummat, termasuk Jamaah Masjid Jami’ Ar-Rasyiddin dan Masjid Istiqlal Kelurahan Loa Bakung Kec. Sungai Kunjang Samarinda yang sebagian besar jamaahnya adalah warga Perumahan KORPRI. Shalat Gerhana yang telah direncanakan jadi terhambat.
Gerhana matahari cincin (GMC) yang terjadi Senin lalu tanggal 29 Muharram 1430 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 26 Januari 2009 Miladiyah mendapat perhatian khusus bagi Ummat Muslim tidak terkecuali Jamaah Masjid Jami’ Ar-Rasyiddin, Jamaah Masjid Istiqlal dan Mushalla Al-Azhar Loa Bakung. Jamaah berbondong-bondong menuju masjid dan mushalla sejak menjelang waktu dhuhur untuk melaksanakan shalat gerhana berjamaah sebagaimana pernah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Memang, sehari sebelumnya pengurus masjid dan mushalla telah mengumumkan akan dilaksanakannya shalat gerhana pada hari Senin tanggal 26 Januari 2009 setelah Shalat Dhuhur menyesuaikan dengan informasi dari berbagai media yang menyebutkan bahwa fenomena alam itu akan terjadi mulai pukul 12.56 WITA.
Berita cacat itu telah membuat kesulitan bagi para pengurus masjid sehingga saling melakukan kontak untuk mencari info yang lebih akurat. Walaupun banyak sumber lain di media maya menyebutkan bahwa gerhana matahari akan terlihat dari berbagai tempat di Indonesia termasuk dari Samarinda Kalimantan Timur, rupanya ebagian pengurus masih lebih percaya dengan berita cacat yang dimuat koran terkenal di Samarinda itu.
Setelah berunding, maka jalan tengah diambil, disepakati untuk mengisi waktu dengan ceramah singkat dengan topik yang diangkat adalah ”Menyikapi Fenomena alam Gerhana”. Pengurus masjid tetap mempersilahkan nanti apabila memang gerhana terjadi akan dilaksanakan shalat.
H. Abdul Qoim SAg., MM. dalam ceramahnya di hadapan jamaah Masjid Jami’ Ar-Rasyidin berpesan bahwa dalam menyikapi fenomena alam gerhana agar segenap Ummat Islam meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dikatakan selanjutnya bahwa matahari dan bulan adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Oleh karena itu jangan sampai manusia menyembah matahari atau menyembah bulan. Matahari dan bulan yang ada di alam itu beredar sesuai dengan ketentuan dan ketika posisi bulan berada tepat pada garis lurus antara bumi dan matahari, maka terjadilah gerhana matahari. Pada saat lain, ketika posisi bumi berada pada garis lurus diantara bulan dan matahari maka terjadilah gerhana bulan. Rasulullah Muhammad SAW telah mencontohkan pada saat terjadi gerhana matahari maka beliau melakukan shalat berjamaah, menganjurkan untuk bersedekah dan amal shaleh. Ketua Badan Pengelola Masjid Jami’ Ar-Rasyidin Ir. H. Ibnoe Nirwani, MM. juga hadir saat itu.
Ketika ceramah selesai, maka para jamaahpun kembali ke rumah masing-masing dengan masih menyisakan tanda tanya, betulkah bahwa gerhana matahari yang terjadi tidak dapat di lihat dari Samarinda? Jawabanpun diperoleh ketika melihat tayangan TV, berbagai stasiun TV mencantumkan teks berjalan bahwa gerhana matahari cincin dapat dilihat dari berbagai tempat di Indonesia termasuk dari Samarinda Kalimantan Timur.
Terbukti kemudian, ternyata pada sore hari gerhana matahari terlihat dari Samarinda. Telepon dan sms pun beredar memberitahukan tentang terlihatnya gerhana matahari dari berbagai tempat di Samarinda dan Bontang. Pengurus Masjid Istiqlal kembali menginformasikan melalui pengeras suara bahwa gerhana matahari telah terlihat dan mengajak jamaah untuk melaksanakan shalat sunat gerhana.
Adalah suatu pelajaran berharga bagi Ummat Muslim agar meningkatkan ilmu pengetahuan dalam berbagai hal termasuk astronomi agar tidak lagi mudah terkecoh dan terombang-ambing oleh berita menyesatkan yang cacat dan tidak akurat. Disarankan agar Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ormas Islam dapat menaruh perhatian dalam hal ini.
Adanya klarifikasi berita oleh Kepala BMG Stasiun Geofisika Balikpapan Ronny Wattimena (Kaltim Post 27/1-2009) memperjelas adanya cacat berita yang telah dimuat. M. Yunus, SH. Koordinator Seksi Ibadah dan PHBI Masjid Jami’ Ar-Rasyiddin Loa Bakung menyesalkan adanya berita yang menyesatkan ummat. Lebih dari itu Kunarso Sekretaris Umum Masjid Jami’ Nurul Huda Loa Bakung Samarinda menyarankan agar sumber dan media yang memuat berita cacat itu meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat.
Sumber Kunarso, http://loabakungceria.blogspot.com/

















By blogngeblog on Feb 5, 2009 | Reply
Waaah mulai nih mau nembak keyword Samarinda kelihatannya
blogngeblog´s posting terakhirnya adalah..Ikutan Kompetisi Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Balas
admin Reply:
February 5th, 2009 at 9:15 am
itu artikel orang, bukan aku
liat aja sumber penulisnya
Balas
By Sarimin on Feb 5, 2009 | Reply
di Jawa ga keliatan…
Balas
By zoel on Feb 5, 2009 | Reply
ado gerhana yo da.. kok dibukik ndak “D
zoel´s posting terakhirnya adalah..Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Balas
Sarimin Reply:
February 5th, 2009 at 10:37 am
yup
Sarimin´s posting terakhirnya adalah..Install Opera web browser di Linux Mint
Balas
By ipanks on Feb 5, 2009 | Reply
berita yg bagus zy,kayapalah gerhananya itu soalnya di yogya mendung dan agak hujan
ipanks´s posting terakhirnya adalah..Watching Your Favorite Film
Balas
By deden on Feb 5, 2009 | Reply
Menyikapi berita tentang simpang siur saat menyambut Gerhana Matahari 26 Januari 2009 ini hahaha tak ada kata lain dari saya: KEBODOHAN dan TAK MAU BELAJAR.
Perhitungan gerhana ini sebenarnya sudah dari jauh – jauh hari dihitung oleh ahli ilmu falak yang ironisnya bukan muslim dan bahkan telah ditampilkan dengan sangat – sangat rinci hingga ke daerah lintasan gerhana dan waktu hingga satuan detiknya. Bukan mereka mendahului kekuasaan Allah, namun mereka dengan akal fikirnya telah menghitung dan melihat melalui mata ILMU, sekali lagi MATA ILMU bukan mata kepala, tentang bakal terjadinya gerhana ini.
Melihat melalui mata bisa saja salah, karena seringkali pandangan mata menipu kita, tapi melihat melalui ILMU akan mengurangi kesalahan itu.
Menyedihkan ummat Islam saat ini sangat kurang menggali teknologi hingga kalah bersaing dengan para ilmuwan Yahudi dan non muslim.
deden´s posting terakhirnya adalah..Renungan Pasca Gerhana Matahari
Balas
By harry seenthings on Feb 6, 2009 | Reply
selamat malam salam kenal yah kang….wah mantab nih nembak keywordnya…ayo kang maju terus
Balas
By Ramdan on Feb 8, 2009 | Reply
Kelihatan ya gerhananya disana?
Balas
kunarso Reply:
February 9th, 2009 at 11:34 pm
Ya, terimakasih atas respon yang demikian banyak terhadap berita tentang tentang gerhana.
Alhamdulillah, setelah belajar dari pengalaman itu, maka hari ini Senin 9 Februari 2009 dengan mantap Pengurus Masjid Jami’ Ar-Rasydin dan Masjid Istiqlal Loa Bakung Samarinda menyelenggarakan Shalat Gerhana Bulan dengan lancar. Ratusan jamaah hadir mengikuti Shalat Gerhana. Ummat Muslim telah bertambah ilmunya setelah mengikuti ceramah tentang gerhana. Mereka tahu bahwa matahari dan bulan beredar sesuai dengan perhitungan tertentu, sehingga saat gerhana dapat diketahui waktunya.
Balas