(Penjaga dan Pembawa Pesan yang Menjadi Korban)
Oleh : Kunarso *)
KANDUNGAN cerita dalam kaitan nama Aksara Jawa yang sering disebut sebagai “HONOCOROKO”, memiliki makna yang bernilai tinggi, mengingatkan kita semua untuk selalu membangun dan memelihara komunikasi agar terhindar dari salah persepsi dalam memberi, menjaga dan membawa pesan sehingga dapat dicegah dan dihindari adanya pertengkaran dan permusuhan yang dapat merugikan berbagai pihak.
Nama Honocoroko sendiri diambil dari baris pertama dalam deretan Aksara Jawa, yang lengkapnya adalah sebagai berikut :
HO NO CO RO KO
DO TO SO WO LO
PO DHO JO YO NYO
MO GO BO TO NGO
Dua puluh Aksara Jawa yang tersusun dalam empat baris itu dalam sejarahnya memiliki muatan cerita :
Ono Caroko = ada utusan (abdi setia)
Doto Sawolo = saling berseteru
Podho Joyonyo = sama-sama sakti
Mogo Bothongo=Keduanya jadi bangkai
Dalam cerita, adalah seorang Satria namanya Ajisaka yang tinggal di sebuah pulau terpencil bersama dua orang abdi setianya, yaitu Dora dan Sembodo. Pada suatu hari Ajisaka bertekad untuk memperbaiki hidupnya dengan hijrah pergi ke ibukota kerajaan. Dora diajak ikut, sedangkan Sembodo tetap ditinggal di pulau dengan dititipi sebuah keris. Ajisaka berpesan agar keris tersebut dijaga dan disimpan, jangan sampai diberikan kepada orang lain. Sebagai abdi yang setia, maka pesan itupun diterima dan disanggupinya dengan tekad akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kemudian setelah sekian lama, berbagai liku-liku perjalanan hidup dilaluinya, Ajisaka sukses menjadi Raja. Ketika itu, Ajisaka memerasa perlu untuk mengambil kerisnya, maka diutuslah Dora untuk menemui Sembodo guna meminta kembali keris yang dititipkan.Apa yang terjadi kemudian, sungguh diluar dugaan, kedua abdi yang setia, thaat dan sangat hormat itu merasa berada pada posisi yang berseberangan. Masing-masing abdi tidak ingin melanggar dan mengabaikan pesan Ajisaka. Sulitnya, kondisi pada saat itu tidak memungkinkan untuk berkomunikasi kembali sehingga masing-masing tetap berpegang teguh pada pesan awal yang diterimanya.Ketika Dora datang menyampaikan pesan Ajisaka yang mengutusnya untuk mengambil keris, maka Sembodo tidak mau menyerahkan keris tersebut. Sikap ini adalah sesuai dengan pesan yang diterima sebelumnya. Kedua Abdi setia itupun saling bersikukuh melaksanakan pesan Ajisaka, yang satu tidak mau memberikan keris yang dititipkan Ajisaka kepadanya, sementara itu yang satu lagi bertekat tidak akan kembali kepada Ajisaka yang kini menjadi Raja sebelum keris dibawa serta.
Pertengkaranpun terjadi tak terhindarkan lagi. Kedua abdi saling memperebutkan keris dengan mengeluarkan tenaga, kemampuan dan kesaktian yang dimilikinya untuk merebut dan membela diri. Kekuatan keduanya berimbang, tidak ada yang mau mengalah dan akhirnya keduanyapun jadi korban, tewas menjadi bangkai tertusuk keris.Adapun pelajaran berharga dari cerita yang penuh makna itu adalah betapa penting dan perlunya membangun serta memelihara komunikasi antar berbagai pihak sejak dini secara rutin maupun berkala, terus-menerus dan tidak terhenti.Lebih-lebih pada era modern seperti sekarang ini, ketika alat komonikasi sudah semakin canggih dan hampir tak terhalangi, sungguh amat sayang jika masih ada pihak yang belum paham, tidak mengerti dan tidak mau belajar teknologi informasi.
Penegakan disiplin kehadiran pegawai yang belakangan ini menggunakan alat deteksi sidik jari sebagai perekam data kehadiran pegawai, tidak mustahil pada saatnya nanti dapat menimbulkan perbedaan persepsi. Apalagi jika petugas yang menangani kurang memahami makna hakiki dari penggunaan alat pendeteksi yang masih perlu dikonformasi dengan fakta sebenarnya yang terjadi. Bisa jadi, ada pegawai yang pada suatu hari sudah hadir dan bekerja tetapi karena sesuatu hal baik karena lupa atau karena ada hal lain tidak atau terlambat menempelkan jari. Jika hanya mengandalkan data mati dan tidak disertai komunikasi, maka keputusan salah akan dapat terjadi, yaitu memotong uang insentif pegawai yang dianggapnya mangkir atau terlambat tidak permisi.
Begitu pula, ketika Gubernur Kaltim menaruh perhatian besar dalam penegakkan hukum berkaitan dengan pemberantasan korupsi, bersamaan dengan itu juga menghendaki adanya suasana kondusif bagi pegawai dalam melaksanakan tugas sehari-hari, maka dibentuklah KORMONEV (Koordinasi, Monitoring dan Evaluasi). Wakil Gubernur sebagai ketua Kormonev dengan beberapa anggotanya bertugas untuk mengawasi, mencermati, meneliti, mendalami semua laporan yang masuk terkait korupsi. Laporan akan dievaluasi, jika memang ada bukti kuat maka akan ditindak lanjuti. Apabila terbatas pada administrasi akan ditindak lanjuti Bawasprov, sedangkan yang memang benar ada tindak pidana maka ditindak lanjuti oleh pihak Kepolisian, Kejaksaan atau KPK. Gubernur berpesan agar pegawai yang dipanggil KPK, Kejaksaan atau Polisi mendapatkan ijin dari Gubernur. Yang diperlukan kemudian adalah kejelasan aturan agar tidak terjadi salah persepsi bagi aparat pelaksananya. Intinya, komunikasi perlu diperjelas, terus berlanjut, tidak terhenti.InsyaAllah dengan komunikasi yang terus berlanjut dipelihara dan diperbaharui, dapat dicegah jatuhnya korban yang merugikan berbagai pihak, baik pemberi, penjaga, penerima dan pembawa pesan, termasuk aparat penegak hukum yang mendapat pesan dan bertugas mengamankan pelaksanaan aturan undang-undang dan peraturan yang berlaku.
*) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur.
http://loabakungceria.blogspot.com.

















By Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 on Feb 17, 2009 | Reply
Saya koq serasa kembali duduk di bangku SMP lagi mendengarkan pelajaran bahasa daerah
Balas
By ipanks on Feb 17, 2009 | Reply
weh weh weh tumben nih wal ikam membahas pelajaran sejarah
Balas
By deden on Feb 17, 2009 | Reply
Nah ini maka, ulun kada paham. Apa jar kesah ni julak?
Balas
By bacablog on Feb 17, 2009 | Reply
siang..salam kenal dari BacaBlog
wah.. saya orang jawa tapi ga ngerti,hehe besanya di kalimantan soalnya
Balas
By firanza on Feb 17, 2009 | Reply
OOooo. ternyata ada sejarahnya to… tak kiro cuma susunan alphabet koyok abcdefg dst. gitu. ASyik juga wong jowo ya…
Balas
By up1x on Feb 17, 2009 | Reply
wah jd inget guru bhs daerahku dulu…
ngomong2 mas rozy ni orng jawa tah?
Balas
By Napi on Feb 17, 2009 | Reply
wah..\pelajaran bahasa jawa ya..
aku paling seneng banget tuch…
tapi kalau di suruh nembang aku paling benci..
gk bisa soalnya…
baru tahu sekarang kau tentang abjad tersebut Mas…
Balas
By Atca on Feb 18, 2009 | Reply
ohhh..ada sejarahnya ya mas…
Aku tuh dari SD nilai bahasa jawa jeblok mulu hehehe..
mas award dah kupasang yahhh
Atca´s posting terakhirnya adalah..Langsing tanpa diet berat
Balas
By kunarso on Feb 19, 2009 | Reply
Terimakasih atas segala perhatian dan komentar para pembaca. Soal cerita itu adalah sebagai pembuka atau kembangan saja agar membuat tulisan jadi menarik. Lebih dari itu yang penting isi pesan adalah agar kita semua saling memelihara komunikaai atau yang lebih pas adalah silaturahiem. Silahkan tunggu tulisan berikutnya. Wassalam.
kunarso´s posting terakhirnya adalah..KANDUNGAN CERITA HONOCOROKO
Balas
By aprie on Feb 20, 2009 | Reply
ma kasih mas infonya..
dari dulu pengen tau yang beginian.
masa orang jawa ga tau beginian.
hahah..
cuma mels gugling aja..
aprie´s posting terakhirnya adalah..Surat Suara Pemilu 2009
Balas
kunarso Reply:
March 1st, 2009 at 4:38 am
Terimakasih Mas Aprie, Ipanks, Deden, Atca, Napi, Upix, Firanza dan lainnya atas komentar anda. Alangkah baiknya jika kita sering membaca cerita yang mengandung pelajaran hikmah agar kita bisa lebih luas memahami kandungan dan makna dari segala fenomena sosial dan kemasyarakatan yang banyak kita jumpai dalam kehidupan di dunia yang fana. Silahkan tunggu tulisan berikutnya.
kunarso´s posting terakhirnya adalah..KANDUNGAN CERITA HONOCOROKO
Balas
By remo-xp on Jul 11, 2010 | Reply
ini cerita sewaktu pas ane SD gan, cerita ini ane baca di buku bahasa indonesia kalau nggak salah,, jadi inged masa SD,, kaykanya bru kemaren, skrg ane udah kuliah aja,, huhuhu
Balas