Kasus Siami berawal 16 Mei 2011, empat hari setelah ujian nasional berakhir. Dari wali murid lain ia mengetahui bahwa anaknya, Alif, yang termasuk berotak encer diminta memberi contekan pada murid lain. Ia pun mengklarifikasi putranya itu – yang mengaku sambil menangis.
Siami lantas mengonfirmasi hal ini ke kepala sekolah. Tak puas, ia lalu mengadu ke komite sekolah. Tak mendapat tanggapan, ia membawa masalah ini ke sebuah radio di Surabaya. Lalu, kasus ini sampai ke telinga Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Setelah diproses, sanksi dijatuhkan pada pihak yang dinilai bertanggung jawab: satu kepala sekolah dan dua guru.
Sanksi pada tiga pendidik ini lantas memicu kemarahan wali murid. Mereka menilai Siami, dan keluarganya tak punya hati. Mencemarkan nama sekolah dan kampung. Setidaknya empat kali warga menggelar demonstrasi di depan rumahnya.
Puncaknya terjadi pada Kamis 9 Juni 2011. Lebih dari 100 warga Kampung Gadel Sari dan wali murid SDN Gadel II ‘menghakimi’ Siami dan keluarga. Mereka menuntut Siami meminta maaf.
![]()
Dengan tangis berlinang Siami telah meminta maaf. Namun warga belum puas. Mereka mengusir Siami dan keluarganya dari kampung.”Usir, usir!,” teriakan warga Gadel menggema di Balai RW 02 Kelurahan Gadel, Kecamatan Tandes, Surabaya.
Siami pun tambah menangis. Ia tak menyangka tetangga kampungnya setega itu mengusirnya. Aksi dorong-mendorong membuat jilbabnya nyaris terlepas. Tubuh Siami yang mungil, limbung. Ia harus dievakuasi agar luput dari kemarahan warga.
Hidup Nyonya Siami bagai dua keping mata uang yang saling berlawanan. Di satu sisi, ia dibenci, dicaci, dicap sok pahlawan, bahkan terusir dari rumah dan kampungnya sendiri. Namun, justru itu membuat namanya harum. Masyarakat Indonesia kini mengenalnya sebagai simbol kejujuran yang terzalimi.
Bahkan, Majelis Permusyawaratan Rakyat, melalui wakil ketuanya, Lukman Hakim Syaifuddin menyatakan, pihaknya akan memberi penghormatan pada sosok ibu yang berani menguak kasus mencontek massal dalam pelaksanaan ujian nasional di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya.
“Kejadian di Surabaya itu sesuatu yang sangat menggugah kemanusiaan kita, bahwa kejujuran tidak diapresiasi, atau mendapat kehormatan tapi justru malah dikucilkan bahkan diusir dari kampungnya. Ini sesuatu yang sangat mengancam kita sebagai sebuah bangsa,” kata dia saat ditemui di DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 15 Juni 2011.
Predikat ‘ibu kejujuran’ juga akan dilekatkan pada Siami. Agar virus kejujuran dapat tersebar di masyarakat. “MPR tidak hanya sekedar memberikan empati, simpati kepada Ibu Siami, tetapi ingin memberikan penghormatan dan apresiasi bahwa kejujuran seperti dia itu sesuatu yang mulia, dan harus kita hormati,” kata Lukman.
Lantas, apakah sikap menokohkan seperti itu bukan sesuatu yang berlebihan? “Saya pikir tidak, karena bangsa ini butuh figur-figur seperti ini. Kita sedang krisis, lihat saja korupsi di mana-mana, dan akar dari korupsi itu ketidakjujuran. Figur Siami itu harus kita lihat pada sisi yang berbeda,” ungkap Lukman. Sumiati dan Alif, anaknya, dijadwalkan akan bertemu pimpinan MPR, Kamis 16 Juni 2011.
Sementara, Komisi Nasional Perlindungan Anak justru berpendapat, tak hanya Siami yang layak mendapat pujian. Ketua Dewan Konsultatif Komnas Perlindungan Anak, Seto Mulyadi menyatakan, suami, juga putranya juga layak diberi penghargaan. “Mereka layak disebut ‘pahlawan kejujuran’, menjadi contoh bagi keluarga lain,” kata Kak Seto.
Dari kasus Siami, jelas Kak Seto, bisa ditarik banyak pelajaran. Salah satunya, mengoreksi sistem ujian nasional. “Jika UN menjadi penentu kelulusan, yang terjadi justru banyak tindakan yang mencerminkan ketidakjujuran,” kata dia. Bayangkan, kata Kak Seto, jika sekolah tak bisa memenuhi target sekian persen kelulusan, ganjarannya adalah sekolah itu bisa ditutup. “Sehingga sekolah menghalalkan segala cara, sementara pemerintah belum bisa menyediakan sarana, prasarana, juga guru yang memadai,” kata dia. (vivanews.com)


















By Semua Ada on Jun 16, 2011 | Reply
kejujuran di negeri ini mahal banget harganya gan, tapi menurut saya , kalau bohong untuk kebaikan orang lain juga tidak masalah gan, kalau aq jadi dia aku nggak akan lapor gan, demi kebaikan bersama, hehe:D
Balas