Kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang membawa misi kemanusiaan Indonesia dan jurnalis tvOne ditembaki helikopter Israel di perairan Gaza, Palestina.
Di dalam kapal ini terdapat aktivis Mer-C Indonesia yang membawa misi kemanusiaan. Juga ada jurnalis tvOne yang melakukan liputan di atas kapal ini.
Mer-C atau Medical Emergency Rescue Committee adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis.
Relawan MER-C Indonesia yang ikut dalam misi ke Gaza adalah Nur Fitri Moeslim Taher selaku ketua tim dengan anggota dr Arief Rachman, Abdillah Onim, Nur Ikhwan Abadi, dan Muhammad Yasin. Mereka ikut rombongan misi “Flotilla to Gaza” (kebebasan untuk Gaza) tahun 2010 bersama berbagai elemen dan pegiat kemanusiaan dan hak asasi manusia dari 50 negara yang masuk Gaza pada tanggal 25 Mei 2010.
Sukarelawan dari 50 negara yang ikut misi ini ada di bawah koordinasi Insani Yardim Vakfi, Turki. Misinya menghentikan blokade militer-politik-ekonomi Israel yang mengepung Gaza dan sudah berjalan hampir 4 tahun ini, serta memakan korban ribuan jiwa. Kapal ini juga membawa sekitar 10 ribu ton bantuan kemanusiaan.
Israel mengancam akan mengebom kapal-kapal yang mengangkut misi kemanusiaan untuk warga di jalur Gaza.
Korban tewas dalam serangan militer Angkatan Laut Israel hingga saat ini mencapai 19 orang. Namun pemerintah Israel mengumumkan cuma 9 orang saja yang tewas.
“Sejauh ini, 83 telah ditahan, 25 di antaranya telah sepakat untuk dideportasi. Sisanya akan dipenjara,” kata juru bicara kepolisian Israel Sabine Hadad.
Hadad mengatakan, kepolisian Israel masih akan melakukan penangkapan terhadap ratusan relawan lainnya.
Pemerintah Israel sebelumnya mengatakan, penembakan terhadap para relawan untuk Palestina tersebut sebagai langkah pembelaan diri. Namun pengakuan Israel tersebut tidak begitu saja dipercayai dunia. Berbagai aksi kecaman atas tindakan kekerasan tersebut terus berlangsung, termasuk di Indonesia.
Berikut nama 12 WNI yang berada di Kapal Mavi Marmara:
Dari Mer-C:
1. Nur Fitri Moeslim Taher (Ketua Tim)
2. dr Arief Rachman
3. Abdillah Onim
4. Nur Ikhwan Abadi
5. Muhammad Yasin (Jurnalis TV One)
Dari Kispa:
1. H Ferry Nur (Ketua Kispa)
2. Muhendri Muchtar (Wakil Ketua Kispa)
3. Okvianto Baharudin
4. Hardjito Warno
Dari Sahabat Al Aqsha – Hidayatullah:
1. Dzikrullah Ramudya
2. Surya Fahrizal
3. Santi Soekanto






















By hosting murah indonesia indositehost.com on Jun 2, 2010 | Reply
israel tu gila ya..
heran dah..
Balas
By joko sampoerna on Jun 3, 2010 | Reply
Itulah sebabnya makanya kita perlu mempertimbangkan keputusan kita, jangan sembarangan jadi relawan, karena ini ke luar negeri maka orang-orang berhamburan mengambil kesempatan, ini bukan resmi dan di programkan pemerintah, malahan kalau dah ada masalah seperti ini relawan di tahan di israel, maka semua menuduh Pemerintah tidak ada tanggung jawab, kalo anda bermain api dan terbakar itu bukan salah pemerintahan SBY, itu adalah salah anda sendiri, Kita Rakyat indonesia tidak mengetahui bagaimana hidup di sana itu, udah beda bro dengan kita di sini, saling menghormati, coba anda pergi ke Arab saudi jalan-jalan dengan istri anda, dan naik taxi, pasti ada hal yang menngkelkan dari pengemudinya, mari kita berjihad untuk negeri sendiri yang kelaparan ini, mengumpulkan duit untuk bantuan ke negara orang adalah suatu yang janggal sementara masyarakat kita sangat memerlukan bantuan, JANGAN LAH ANDA MELIHAT BIJI SESAWI DI MATA TEMANMU SEDANGKAN BALOK DI MATAMU TIDAK DAPAT KAU LIHAT.
MAKASIH
Balas
By Ahmed Dihjaat on Jun 4, 2010 | Reply
mungkin kita musti melihat semua ini dengan kacamata yang jernih
bukan dengan pikiran kotor dan demi solidaritas yang tidak sehat..
semua selalu merasa benar dan ingin selalu dibenarkan..
kita lihat dulu dari segi mana kita memandang….
dari segi kemanusiaan atau dari segi solidaritas keagamaan???
jika memang bantuan itu diperlukan maka bantuan kemanusiaan ini perlu dipertahankan..
tetapi jika memang tidak diperlukan
mengapa harus memaksa diri.
telaah dulu problem yang terjadi antara israel dan Palestina
coba lihat alasan keduanya
jangan hanya menerima satu alasan karena rasanya tidak adil.
pahami dulu misi kedua negara tersebut baru kemudian disimpulkan ada apa sebenarnya dengan kedua negara tersebut..
kita tetap boleh solidaritas jika memang untuk kemanusiaan, tapi pahami terlebih dahulu supaya tidak salah jalan.
Balas
By era brunei on Jun 4, 2010 | Reply
relawan indonesia berani…. aku kagum!
Balas
By SSHD on Jun 9, 2010 | Reply
ISRAEL HARAM di MUKA BUMI
Balas