Kepedihan masih terpancar dari Patricia Bingley. Perempuan asal Inggris ini mengaku amat terpukul kehilangan putra tercintanya, Kevin Dennis.Ya, Kevin Dennis, adalah satu dari ribuan orang yang menjadi korban tregedi 11 September, sembilan tahun silam. “Saya masih sangat kehilangan,” kata ibu berusia 76 tahun.Kendati begitu, Patricia mengaku berada di garis depan, menentang rencana Terry Jones, sosok yang dianggap pastor oleh 50 orang pengikutnya yang berencana membakar Al Quran sebagai bentuk peringatan tragedi 11 September. “Membakar Al Quran tak mampu menghapus ingatan saya akan Kevin,” tegas Patricia sebagaimana laporan The Sun, Jumat (10/11/2010).
Dalam hemat Patricia, andai ide Jones terlaksana, hal itu sama saja dengan membuat bencana baru. “Itu sama saja dengan rencana membakar Injil-nya orang Kristen atau Taurat-nya orang Yahudi. Semua itu adalah kitab suci,” kata Patricia.
“Ekstremis yang membunuh anakku adalah segelintir orang dari jutaan orang Muslim yang baik. Termasuk, jutaan orang Kristiani dan jutaan orang Yahudi,” imbuhnya.
Bagi Patricia kemudian, perwujudan membakar Al Quran sama saja memberi angin segar bagi para ekstremis dimaksud. “Tindakan membakar Al Quran sama saja dengan mengakui tindakan para ekstremis,” ujarnya lagi.
Maka, yang terpenting adalah mengurungkan niat membakar Al Quran. “Kalau Anda (Terry Jones-red) mau melancarkan protes, lakukanlah dengan cara-cara konstruktif. Saya melakukan protes terhadap para ektremis itu dengan berbicara lantang dan menulis di surat kabar. Mengapa Anda (Terry Jones-red) tak melakukan seperti yang saya lakukan?” kata Patricia.
Patricia menekankan dirinya tak hendak kenangan akan Kevin dinodai oleh tindakan-tindakan seperti rencana Terry Jones. Bagi Patricia, lalu, mengenang Kevin adalah dengan datang ke tempat peringatan tragedi tersebut. Kalau di London, lokasi peringatan ada di Grosvenor Square, di pusat kota London. “Saya akan meletakkan bunga mawar di situ, mendoakan Kevin seraya berharap ia pun memandang saya,” tutur Patricia.
“Cara yang saya lakukan adalah cara terbaik untuk mengenang para korban, bukan dengan cara pembakaran seperti rencana itu,” demikian Patricia Bingley.
?
Sumber : Kompas.com
Putri Terry Jones: Ayah Saya Sakit Jiwa, Bantu Obati
Emma Jones, putri Terry Jones, pendeta di Florida Amerika Serikat yang mengancam akan membakar kitab suci Alquran menyatakan yakin bahwa ayahnya itu sudah gila dan membutuhkan bantuan untuk mengobatinya.
Emma yang tinggal di Jerman, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media Jerman, Spiegel Online, Jumat (9/9), mengatakan dia telah mengirim pesan melalui e-mail ke ayahnya itu. Isinya, mendesak agar ayahnya membatalkan rencananya untuk membakar Alquran. Ia menulis: Ayah batalkan itu!
Namun, lanjut Emma yang berusia 30 tahun ini, ayahnya tidak menjawab surat yang dikirimkannya itu.
Jones sebelumnya sempat menyatakan akan membatalkan rencananya membakar Alquran pada 11 September ini menyusul kecaman dari berbagai kalangan di penjuru dunia.
Tapi Jones kemudian mengancam akan tetap melakukan niat gilanya itu jika pertemuan yang diusulkan gagal berlangsung pada Sabtu ini di New York dengan para pemimpin muslim yang berencana membangun pusat Islam dan masjid di dekat lokasi serangan 11 September.
“Ayah saya bukan merupakan orang yang mudah menyerah,” kata Emma. “Sebagai seorang putri, saya melihat sebenarnya ada niat baik dalam hati ayah tapi saya rasa dia memerlukan bantuan. Saya kira dia sudah gila,” kata Emma.
Emma menceritakan bagaimana ayahnya dulu membangun sebuah komunitas Kristen selama bertahun-tahun di Cologne, Jerman. Namun kemudian ayahnya mengalami disorientasi dalam memahami Alkitab. “Waktu saya berusia 17 tahun, ayah saya meninggalkan komunitas tersebut,” ungkapnya.
Emma menjelaskan bahwa masyarakat setempat mengusir ayahnya karena menilai ajarannya menyimpang dan kemudian ayahnya pergi ke Amerika Serikat. Saat bertemu kembali dengan ayahnya pada 2005, ia mengetahui bahwa ayahnya membangun komunitas kembali seperti sekte.
“Saya melihat bahwa ayah saya berkhotbah dan melakukan hal-hal yang saya tidak temukan sama sekali di Alkitab. Dia menuntut kesetiaan total kepada dirinya sendiri dan istri keduanya,” kata Emma. Istri pertamanya, ibunya, meninggal pada 1996.
“Sesungguhnya saya melihat ajaran itu khayalan religius ayah. Seperti bukti khas sekte. Saya sangat berharap ayah mendapatkan kembali akal sehatnya,” katanya


















By irwan basri on Sep 11, 2010 | Reply
Terselip khilaf dalam canda,
tergores luka dalam tawa,
Terbelit pilu dalam tingkah,
Tersinggung rasa dalam bicara, Mari kita saling maaf memaafka, taqabbalallahu minna waminkum
Balas
By abdullah bin fulan on Sep 17, 2010 | Reply
saya teringat seseorang dari “Naturei Karta” (yakni sebuah kelompok penganut judaism yg mereka klaim mempertahankan kemurnian ajaran taurat bukan talmud) berkata : “dulu (sebelum 1948 [awal berdirinya israel]) kami selalu saling sapa antara org islam & nasrani. kala kami sibuk, kami menitipkan anak kami kpd org2 palestin islam begitupun dgn org2 islam ketika sibuk mereka menitipkan anak2nya di pangkuan kami. tapi sejak gerakan politik thn 1948 entah knp yg terjadi malah konflik agama antar islam-nasrani-yahudi..
saya mengambil kesimpulan memang ada “sekte2 tertentu/secret society” dibelakang tangan2 mereka.
Balas