Mar
11th

Jika Dia Ibumu

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Selalu ada cerita yang mengiringi turunnya hujan di pagi hari. Mulai dari canda riang anak-anak yang saling berkejaran, beradu kencang dengan teriakan sang ibu yang khawatir anaknya jadi meriang.

Sampai senyum sumringah mbak Yati yang optimis dagangan gorengannya bakal laris manis. Juga mas Diyo yang terpaksa menunda senyum hingga panas matahari mulai terasa, saatnya untuk membuka warung es kelapa muda miliknya.

Bagiku, hujan yang turun di pagi hari kembali memberi pelajaran berharga tentang sabar dan syukur. Secangkir kopi panas, sepiring pisang goreng, sambil membaca koran atau menonton televisi, tentu sangatlah nikmat.

Tapi demi tanggung jawab pada keluarga dan pekerjaan, aku abaikan semua godaan. Dan meski dingin, paling tidak aku masih lebih beruntung karena masih ada jas hujan yang melindungiku, tidak seperti mereka yang terpaksa berbasah kuyup di bawah siraman langsung air hujan.

Bismillahirrohmanirrohiim, berharap ridho Allah dan keberkahan rejeki, aku tetap berangkat kerja, menerobos derasnya hujan.

Belum setengah perjalanan, kulihat seorang perempuan turun dari angkutan umum. Sebuah payung merah kecil ia gunakan untuk melindungi tubuhnya dari guyuran air hujan. Dilihat dari seragam yang dikenakan, aku berkesimpulan bahwa dia adalah karyawan perusahaan garment yang ada di seberang jalan.

Hanya berselang beberapa detik, seorang pengendara motor besar melaju dengan kecepatan tinggi, melintas tepat di depan perempuan berpayung merah. Sang perempuan terpekik kaget.

Suaranya mengejutkanku, juga pengguna jalan lainnya. Spontan, semua pandangan tertuju ke sumber suara. Sang perempuan terlihat kesal, sedih dan putus asa. Baju seragam yang ia kenakan hampir semuanya basah. Bukan karena air hujan, tapi air bercampur tanah.

Sang pengendara motor yang melewati genangan air dengan kecepatan tinggi hanya menoleh sesaat, dan kembali melanjutkan perjalanannya. Ia sama sekali tak peduli dengan perempuan yang baju seragamnya kini bukan saja basah, tapi juga kotor.

Bagaimana selanjutnya nasib perempuan malang itu? Pertanyaan ini terbawa sampai ke tempat kerjaku. Apakah dia akan nekat bekerja dengan pakaian yang basah dan kotor seperti itu? Rasanya tak mungkin. Bukan saja malu, tapi bisa membuatnya sakit. Tapi jika dia memilih untuk pulang dan berganti pakaian, mungkinkah dia memiliki waktu yang cukup untuk itu? Di mana rumahnya, aku tak tahu. Aku sama sekali tak mengenali perempuan itu.

Jika dia memaksa pulang, apakah di rumahnya masih ada seragam yang siap untuk dipakai? Jangan-jangan belum disetrika atau bahkan belum kering karena hujan selalu turun dalam beberapa hari terakhir.

Jika dia bisa berganti seragam, apakah dia tidak akan telat mengingat kemacetan selalu terjadi disaat jam-jam orang berangkat kerja? Bagaimana dia harus menjelaskan pada atasannya agar mau mengerti alasan keterlambatannya? Atau jangan-jangan dia memilih tidak masuk kerja dengan resiko akan dimarahi atau bahkan dipotong gaji?.

Astaghfirulloh, aku menyesal. Aku menyesalkan sikap sang pengendara motor yang tak peduli dengan perempuan itu. Aku juga menyesali diriku sendiri yang tak bisa membantu. Maaf, maafkan aku saudariku.

Wahai lelaki pengendara motor. Siapapun dirimu dan apapun kepentinganmu, tak terpikirkah olehmu bahwa ngebut di jalan raya bukan saja berbahaya bagi dirimu tapi juga bagi orang lain?

Terlebih dalam kondisi hujan, jalan menjadi licin dan tentunya banyak genangan air. Kuyakin kau tahu, seorang perempuan menderita karena ulahmu. Bagaimana jika dia ibumu, istrimu, anakmu, kekasihmu atau saudara perempuanmu? Terimakah kau jika dia diperlakukan oleh orang lain seperti itu?

Seberapa pentingkah urusanmu? Berapa menitkah waktu yang dapat dihemat olehmu? Kalau tak ingin terlambat, seharusnya berangkat lebih awal, sebab ngebut di jalan bukanlah solusi yang tepat.

Matamu melihat, tapi hatimu sama sekali tak tergerak untuk menolongnya. Kaulah satu-satunya yang melintas tepat di depan perempuan itu, bukan orang lain yang menyebabkan pakaiannya basah dan kotor seperti itu! Dimanakah tanggung jawabmu?

Jalan yang kau lewati bukan milikmu, bukan milikku dan juga bukan milik perempuan itu. Ini jalan umum, milik bersama. Tak ada hak bagimu atau bagi siapapun untuk menggunakannya sesuka hati. Jika kau ingin selamat sampai tujuan, maka orang lainpun demikian. Jika kau ingin sampai tepat waktu, maka orang lainpun begitu.

Demi kelancaran dan keselamatan bersama, menghormati sesama pengguna jalan adalah sebuah keharusan. Pengguna kendaraan menghormati para pejalan, begitupun sebaliknya.

Tapi sayang, pemahaman ini tidak ada padamu, paling tidak saat itu. Kau terlalu egois, hanya memikirkan urusanmu sendiri. Bagaimana orang lain, kau tak mau tahu. Coba jawab pertanyaanku, bagaimana jika perempuan itu adalah ibumu, istrimu, anakmu, kekasihmu atau saudara perempuanmu ? Jawab, jawab dengan hatimu!

Saudariku, maafkan aku yang tak bisa membantumu. Bukan aku juga tak peduli padamu. Semoga saja ada orang lain yang menolongmu. Kalaupun kau terlambat masuk kerja, semoga saja atasanmu bisa mengerti dengan permasalahanmu. Semoga, semoga saja saudariku.

penulis Abi Sabila, http://abisabila.blogspot.com

Mar
4th

Pakaian Untuk Shalat

Files under Bengkel Hati | 3 Comments

Artikel Bengkel Hati hari jumat ini adalah tentang pakaian yang kita gunakan sebelum sholat, terkadang kita sering tidak memperhatikan pakaian yang kita pakai untuk sholat, untuk jalan atau pergi ke acara undangan kita menggunakan pakaian yang baru, bersih dan wangi, sedangkan untuk sholat terkadang kita memakai sarung yang sudah seminggu tidak dicuci atau pakaian yang kurang bersih, terus terang saya sendiri juga melakukan itu, semoga dengan cerita dibawah ini bisa membuka hati dan pikiran kita.

Adzan ashar berkumandang, saatnya menghentikan aktivitas bekerja dan bersiap pergi ke musalla kecil yang ada di lorong bagian ujung kantor, kuambil peralatan shalat dan berjalan tidak tergesa dan tetap berharap masih mendapatkan pahala jama’ah.

Musalla kecil yang bisa memuat kurang lebih delapan orang dewasa menjadi sarana kami pula untuk bertatap muka dengan rekan lain yang berbeda ruangan, karena di kantor kami sebagian besar pekerja adalah perempuan maka secara otomatis musalla kami menjadi musalla khusus perempuan, legitimasi yang tanpa perlu publikasi.

Selepas mengambil wudhu, saya tunaikan shalat ashar dan alhamdulillah masih kebagian rezeki shalat berjama’ah. Selepas shalat, bergantian rekan yang lain shalat berjama’ah dan ada satu rekan yang kelihatan tergesa agar kebagian shalat jama’ah dan ups, lupa memperhatikan mukena yang dia pakai. Mau menegur, tapi dia sedang shalat, akhirnya hanya bisa mendo’akan dalam hati saat itu dan saya pun kembali ke ruangan.

Pakaian atau mukena layak shalat yang kadang kurang kita perhatikan apabila kita tidak membawa peralatan shalat dari rumah atau hijab (pakaian) kita yang kurang memenuhi syariat untuk shalat misalnya kotor tapi tetap saja kita shalat dengan pakaian tersebut.

Seringkali kita sembarangan memakainya, entah mukenanya kebalik, bawahan mukena bolong dan robek, mukena milik umum yang bau nya naudzubillah min dzalik karena sudah tidak dicuci mungkin berbulan-bulan tapi tetap kita kenakan untuk menghadap Ilahi, menunaikan ibadah yang kelak akan dihisab pertama kali nanti, yaitu shalat.

Kadang kita lupa, kita hanya sekedar menunaikan kewajiban tapi lupa adabnya, lupa etika nya, lupa sopan santunnya, padahal kita mau menghadap kepada Yang Maha Menciptakan kita, Yang Maha Berkuasa, Yang Menggenggam jiwa kita. Ya, adab yang kadang kita lupa (kan) atau (ter) lupa, lain hal jika Presiden memanggil (serasa menteri, hehehe) atau ada orang penting dalam kehidupan kita memanggil, atau menghadiri undangan pernikahan tentu kita akan memakai pakaian terbaik, rapih, bagus dan bersih, dan tidak mungkin kita memakai pakaian yang rok nya bolong atau sobek, jilbabnya bau tak sedap atau pakaiannya seperti ketumpahan kopi yang hitam pekat, pastinya kita akan menyiapkan busana yang terbaik.

Sudah seharusnya itu pula yang kita persiapkan ketika Alloh memanggil kita melalui adzan yang berkumandang untuk shalat menghadapnya, menyiapkan jasad kita, hati, pikiran dan tentu saja pakaian yang kita kenakan untuk menghadapNYA saat shalat termasuk menyiapkan mukena layak shalat. Karena Alloh menyukai keindahan, dan mengenakan pakaian (mukena) layak shalat pun salah satu bentuk keindahan tadi disamping juga merupakan adab kita kepada Pemilik Jiwa kita, Alloh Subhanahu Wata’ala…

Mari mulai sekarang sama-sama kita persiapkan pakaian atau mukena layak shalat, dan tulisan ini pun menjadi pengingat penulis untuk berupaya menyiapkan pakaian atau mukena yang layak digunakan untuk shalat.

Wallahu’alam…?

Penulis Fatimah Ali Salsabila

Feb
25th

Ketika Suami Lupa Memikirkan Yang Satu Ini

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Hari jumat ini Blog IT akan memberikan cerita motivasi dan pengalaman yang semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua, insyaallah.

“Aku sudah gak tahu lagi, rasa sedih sepertinya sudah lewat, hari ini mantan istriku menikah dengan eks kawan SD-nya, bayangin setelah gak ketemu selama 25 tahun lalu, mereka reuni gara-gara Facebook, hasilnya mereka berkencan, memadu kasih, dan akhirnya merencanakan hidup bersama, tanpa peduli bahwa mantan istriku sudah punya suami yang gantengnya kayak aku gini, wk wk wk… dan cerai akhirnya ku lemparkan dengan gembira pada istriku yang manis bermulut tipis,” demikian status yang panjang lebar di Facebook Andi membuat banyak kawan-kawannya geleng-geleng kepala.

Comment pun datang bergantian, ada yang bersimpati, menghujat ataupun nada bercanda tidak peduli. “Cari ajaa laggee..” demikian comment dari Sri Ningsih. “Dalam Islam ternyata istri yang selingkuh harus ditalak tiga, ya Ndi..?” comment dari Rita Rafida. “Selamat menempuh hidup baru sebagai duda,” comment dari mas Irvan geng duda miskin. Namun ada juga comment yang bersifat simpati seperti, “Innalillahi wa innailahi roji’un, kok sampai sebegituya yaa, sabar yaa mas, semoga mendapat ganti yang lebih baik,” komentarnya bu Imas.

Lalu, “sesungguhya lelaki yang baik akan mendapakan perempuan yang baik, lelaki yang jahat akan mendapat lelaki yang jahat, begitu janji Allah dalam Al qur’an surat An Nur ayat 30,” comment dari ustadz Iqbal, pesantren Darul Ihsan. “Tabah yaa…” dan banyak lagi ungkapan-ungkapan comment di Facebooknya Andi.

Hari-hari Andi yang masih nyeri, antara sakit karena dikhianati dan juga sakit karena harga dirinya sebagai lelaki seperti dinjak-injak dengan suksesnya, serta tidak diakui keberadaanya oleh sang istri maupun sang pacar istri.

Selama ini pernikahan mereka biasa-biasa saja, tak ada pertengkaran yang hebat yang mewarnai hari-hari mereka, tak ada bentakan ataupun KDRT dalam rumah tangga mereka yang manis dan harmonis.

Namun bila cinta datang tiba-tiba, dan setan pun memiliki pekerjaan yang paling besar yaitu menceraikan suami istri, maka dalam hal ini, Andi sebagai suami yang baik-baik saja, tidak mampu berkata apa-apa, dan masih terheran-heran kok bisa yaa istriku yang di rumah saja, dan yang selama ini manis-manis serta baik-baik saja, bisa bersikap khianat padaku.

Sebenarnya ada satu hal yang Andi lupa, bahwa istri yang baik-baik saja diam di rumah juga bukanlah berarti negara sudah aman. Seorang istri tetap memerlukan pujian, perhatian, keromantisan, dan juga sikap mengalah yang dapat membuat istri merasa tenang.

Diayomi dan dimanjakan, itulah yang dirasakan Rina, mantan istrinya Andi. Rina mendapatkan pujian yang menyanjung, perhatian dan tatapan yang dalam, juga sikap melindungi dari sang bekas teman SD nya itu, di mana hal-hal seperti itu sudah tidak pernah didapatkan lagi dari Andi, suami yang dinikahinya 10 tahun yang lalu dengan menghasilkan 2 anak.

Disamping Andi sebagai kepala keluarga haruslah memberikan masukan-masukan yang Islami, entah berupa pengajian atau membimbing istrinya untuk sholat malam, hal lain ternyata keruntuhan rumah tangga itu tidak hanya dari pihak suami saja, namun bisa datang dari pihak istri, dan untuk menjaga keutuhan rumah tangga itu harus dilakukan oleh kedua belah pihak dangan sungguh-sungguh dan dilakukan setiap hari tanpa henti.

Dan ada satu lagi yang sangat penting yang Andi sungguh lupa akan yang satu ini, yaitu menjaga diri dan keluarganya dari api neraka, dengan mengajak istrinya selalu beribadah serta juga memberikan hak istri untuk mendapatkan siraman rohani, bahkan ketika goncangan itu tiba, Andi pun tidak dapat berbuat apa-apa, karena Andi merasa telah memberikan apapun pada istrinya.

Bagi Andi pujian, keromantisan dan lain-lain sudah cukup diberikan, namun Andi sekali lagi lupa akan yang satu ini, memberikan bekalan pengajian atau mengikutsertakan istrinya dalam kajian rutin buat para muslimah. Ingatlah akan peringatan Allah,

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahriim [66] : 6)

sumber eramuslim

Feb
18th

Belajar Dari Masa Lalu

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

“Ngapain belajar pada masa lalu, yang sekarang saja sudah repot dan yang akan datang belum jelas, ah ada-ada saja” Mungkin begitu kata orang yang tak peduli dengan masa lalu, padahal masa lalu adalah “bangku sekolah” yang tak pernah bisa di ulang, tapi bisa dipelajari sepanjang waktu, hebatkan. Apapun bentuk masa lalu adalah tempat kita belajar untuk masa sekarang dan masa akan datang. Nah karena saya di Rusia, maka kasus masa lalunya saya ambil tentang Rusia.

Ibarat buku terbuka, siapapun bisa membacanya, begitu juga dengan kondisi sekarang bagi Rusia, siapapun bisa datang dan belajar pada Rusia. Negara “tirai besi” di jaman Uni Soviet dulu, kini tinggal kenangan, Uni Soviet telah terkubur dalam sejarah pedaban manusia! Namun jangan lupa ada pewaris syahnya, yaitu Rusia. Rusia di jaman Uni Soviet beda dengan era sekarang ini, Rusia sekarang lebih terbuka dan menerima demokrasi dengan tangan terbuka, tapi tetap dengan menghargai sejarah masa lalunya.

Banyak yang dapat kita pelajari di Rusia, negeri yang begitu luas, bahkan terluas di dunia telah melahirkan karya-karya besar di berbagai bidang, mulai dari tehnologi ruang angkasa sam pai seni dan budaya, ternyta semua itu berasal dari hal-hal kecil yang kelihatannya sepele, tapi telah menjadi kebiasaan yang amat baik yang terus saja dipelihara sampai saat ini, apa itu? Tiada lain menghagai sejarah masa lalu.

Rusia sangat menghargai masa lalunya, betapapun buruknya masa lalu tersebut! Apa lagi masa lalu yang baik, peninggalan sejarah tak dibiarkan hilang begitu saja, apa lagi yang berbentuk karya arsitektur masa lalu. Peninggalan masa lalu hanya boleh dipugar atau direnovasi, namun tak boleh dirubah dari masa lalunya, harus tetap dibiarkan seperti semula sesuai dengan kondisi saat dibangun, baik warna cat atau motifnya.

Menghargai sejarah belajarlah pada Rusia, banyak anda temukan peninggalan sejarah yang ada di Rusia dan tetap terpilahara sampai saat ini. Mungkin anda bila ke Eropa atau ke Rusia sampai saat ini masih bisa menemukan tremway, namun coba lihat di Indonesia, jangan-jangan relnya juga sudah tak, kalau tak salah di Jakarta jaman dulu ada tremway. Dan itu sebenarnya bisa dijadikan obyek wisata yang menarik bagi generasi di belakangnya dan jangan-jangan mereka ingin naik dan merasakan bagaimana rasanya naik tremway, bukan kereta, kereta lain lagi ceritanya!

Jadi jangan karena alasan pembangunan gedung-gedung bersejarah, masjid-masjid tua di berhangus begitu saja. saya jadi teringat masjid tua di Marunda, masih adakah? Ituloh yang berada di dekat rumah Si Pitung, si Banteng Betawi, masih ada tidak? Jangan- jangan habis tergerus oleh erosi pantai dan diamkan begitu saja oleh pemerintah Jakarta, tak ada usaha untuk memperthankannya dengan di buat semacam “benteng” atau tetap tegak berdiri! itu peninggalan sejarah yang harus dipelihara, agar generasi mendatang tahu bahwa di situ ada peninggalan mesjid bersejarah yang sudah berabad-abad! Jangan dibiarkan saja sampai sang ombak laut menelannya mentah-mentah!

Masih ingat kasus majis “embah priok” yang entah alasan perluasan pelabuhan, mau seenaknya saja di gusur dan dihilangkan bahwa di situ ada masjid dan pesantern! Untung masyarakat bertindak dan berani melawan petugas yang tak ngerti sejarah, mereka seperti robot, yang tak mau berpikir bahwa itu bukti sejarah, mau main menghancurkan saja. Yang jadi atasnyapun main perintah saja, tak mikir bahwa itu tempat bersejarah bagi ummat Islam yang ada di Tanjung Priok khususnya dan pada masyarakat Betawi umumnya!

Apa yang terjadi? Korban jiwa, untungnya pemerintah pusat cepat tanggap dan akhirnya dapat direda. Semoga kasus yang di Priok itu tak terjadi lagi, semoga masjid di pantai Marunda tetap berdiri walaupun ada pembanguna perluasan pelabuhan Tanjung Priok, semoga masjid Pangeran Jayakarta tetap terpilihara dan berdiri kokoh.

Hal tersebut mestinya tidak terjadi, kalau semua pihak menghargai sejarahnya sendiri, sejarah bangsanya sendiri, sejarah masa lalu! Makanya Bung Karno sampai mengatakan” Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)!” Orang sering melupakan sejarah tidak akan menghargai sejarah dan akan “dimakan” oleh sejarah, karena sejarah akan berulang!

Makanya saya suka malu ketika melihat Rusia, walau pembangunan berjalan pesat, namun gedung-gedung masa lalu tetap di biarkan, dipelihara dengan baik. maka bila anda ke Moskow, Rusia, anda dapat menemukan banyak sekali gedung-gedung tua yang tetap berdiri tegak ditengah-tengah gedung yang modern dan itu sering terdapat di tempat-tempat yang strategis, diperempatan jalan misalnya. Jadi anda bisa menemukan bangunan tua yang terbuat masih dari kayu dua lantai di tengah-tengah gedung yang modern di Rusia!

Benar-benar sangat menghargai sejarah, anda bisa membayangkan, ada ukuran sketsa beberapa lukisan yang ukurannya sangat kecil, tapi masih mereka simpan! Ya ampun… bandingkan dengan dengan kita, yang betapa mudahnya menghancurkan atau menghilangkan bukti-bukti sejarah masa lalu. Oya, saya jadi ingat pada seorang Profesor Rusia yang pernah bertemu Bung Karno di tahun 1960an dan ada berita tentang Bung Karno di Rusia, apa yang dilakukannya? Koran yang telah berusai 40 tahun lebih masih disimpan dirumahnya secara pribadi, bayangkan Koran usianya sudah lebih 40 tahun masih disimpan!

Jadi jangan karena alasan pembangunan tempat-tempat atau gedung bersejarah dihancurkan begitu saja, pembangunan bisa kok berjalan terus tanpa mengganggu gedung-gedung bersejarah, negara-negara Eropa, termasuk Rusia bisa melakukan itu, mengapa Indonesia tidak? Ayolah, Indonesia kaya dengan sejarah masa lalu, pertahankan itu, agar generasi mendatang bisa membanggakan karya bangsanya di masa lalu.

Kalau suatu bangsa tidak menghargai sejarah bangsanya sendiri, loh bagaimana bangsa lain menghargai bangsanya? Bangsa sendiri acuh tak acuh pada sejarahnya sendiri, masa bangsa lain mau menghargainya? Jika bangsa kita tak menghargai karya bangsanya, siap-siap bangsa ini ditelan kehancuran demi kehancuran, karena tak pernah belajar dari sejarah!

Lalu apa hubungannya dengan keimanan kita dengan masa lalu? Wah banyak sekali:

Pertama, dengan menghargai sejarah kita bisa belajar dari sejarah masa lalu, yang baik ambil, yang buruk, kita singkirkan jauh-jauh. Karena tidak suatu bangsa atau individu yang tak memiliki masa lalu dan masa lalu ada yang baik dan ada yang buruk. Ada kelebihan dan kekurangannya. Yang lebih dipertahankan, yang kurang dilengkapi, begitu seterusnya.

Bagi yang pernah ”patah hati” di masa lalu, juga bisa menjadi bahan pelajaran yang sangat baik dan tidak putus asa, karena “dia” di masa lalu bukan satu-satunya, masih banyak yang lain!

Kedua, jangan lupa Islam pernah punya kejayaan, salah satunya adalah dengan majunya peradaban Islam di Andalusia, Cordoba di Spanyol yang memakan waktu tak kurang dari 700 tahun, 7 abad! Lalu kemana peradaban Islam itu sekarang di Spanyol? Sekarang hanya tinggal puing-puing atau musium-musiumnya saja, seandainya ada masjidpun, mungkin tinggal hanya musium, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jangan lupakan sejarah Islam itu! Dan sekarang di Spanyol yang dulunya kerjaan Islam, sekarang diisi mayoritas palangis!

Ketiga, sekarang sedang ada usaha dari pihak” tangan-tangan” kotor yang mengecilkan peranan dan sejarah ummat Islam di Indonesia, dengan menggerus, menggusur dan menghilangkan jejak ummat Islam di Indonesia, salah satunya dengan menghilangkan masjid-masjid kuno, ingat kasus masjid “embah priok” untungnya saja gagal, setelah rakyat yang Islam melawan petugas yang gak ngerti sejarah Islam!

Keempat, coba lihat ada berita baru yang datang dari pihak luar, yang jelas-jelas menulis bahwa ummat Islam terbanyak adalah Pakistan, padahal itu baru akan terjadi di tahun 2030 mendatang! Tapi sudah dihembuskan sejak sekarang ini!!! Apa itu artinya? Ya apa lagi kalau bukan ingin menghilangkan jejak ummat Islam di Indonesia yang sekarang ini adalah mayoritas atau terbesar sejagat! Memang sih, ummat Isalam tak akan lenyap dari dunia, tapi siapa yang menjamin ummat Islam tetap berada dan jaya di Indonesia? Ingat kasus Spanyol, jangan lupakan itu!

Kelima, belajar sejarah dari Rusia, kita ambil yang baiknya, salah satunya adalah sekarang di Moskow sedang dibangun masjid terbesar di Eropa, di dekat gedung Olimpic (Olimpiade) itu adalah masjid kuno yang dipugar dan diperluas, insya Allah selesai tahun 2012 mendatang! Nah kalau di Rusia negara ex komunis sedang giat membangun masjid, nah di Indonesia yang mayoritas Islam, sekarang anda lihat sedang “diserbu” dengan pembangunan tempat ibadah palangis di tempat-tempat strategis di kota-kota besar dan di lingkungan pedesaan yang disitu warganya muslim! Mereka menyebut muslim, paranoid! Karena takut ummat Islam dimurtadkan!

Keenam, ayo baca dan pelajari sejarah Islam, sekarang saja negara-negara Islam di Timur Tengah sedang diacak-acak! Coba lihat Irak, Afganistan, Palestina, Sudan, Tunisia, sekarang sedang giliran Mesir. Terlepas permerintahan yang diktator atau apa, yang jelas dengan alasan demokrasi negara-negara Islam sedang digerus dan digusur! Indonesia hati-hati, Indonesia negara Islam terbesar di dunia sedang “di intip” Dan dengan era reformasi sekarang, telah banyak berdiri tempat-tempat ibadah di lingkungan muslim yang bukan Masjid! Dalam jangka panjang, entah 50 atau 100 tahun mendatang jangan-jangan Islam yang mayoritas di Indonesia akan lenyap dari peta dunia!

Ketujuh, mari belajar sejarah dan membaca sejarah Islam, seringkas apapun, agar kita, ummat Islam, tak dapat dibodohi oleh pihak lain. Jangan lupa sekarang pihak lain sedang membuat bangunan yang mercusuar, yang besar-besar sekali. Lihat di Kemayoran, lihat di Maluku, lihat-lihat dan lihat di tempat lainnya, yang dulunya lingkungan Muslim dan tak pernah ada tempat ibadah pihak lain, sekarang seperti menjamur dan itu memang pola mereka! Jangan-jangan masjid akan tenggelam oleh bangunan pihak lain yang memang berduit dan punya dana!

Nah itulah pentingnya belajar sejarah atau membaca masa lalu. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai peninggalan sejarahnya dan manusia bisa selamat dari kerusakan budaya karena belajar dari sejarah dan suatu bangsa bisa selamat dari bahaya kehancuran juga dari sejarah! Begitu juga ummat Islam, bila tak menghargai sejarah Islam itu sendiri, siap-siap mengalami kehancuran.

Oleh Syaripudin Zuhri

Feb
4th

Mesir Bergejolak: Saatnya Revolusi (Ganti Rezim, Ganti Sistem)

Files under Bengkel Hati | 2 Comments

Saat ini negeri Mesir dihadapkan pada berbagai persoalan yang sangat kompleks dan saling jalin – menjalin satu dengan yang lainnya dibawah kepemimpinan sekuler presiden Husni Mubarak. Oleh karena itu wajar bila masyarakat sebagai elemen utama menginginkan adanya suatu perubahan di negeri tersebut. Perubahan dari terpuruk menjadi bangkit, serta dari keadaan yang serba kacau menjadi keadaan yang serba teratur.

Diantara masyarakat yang menginginkan kebangkitan tersebut ada yang berpendapat bahwa kita harus mereformasi total negeri mesir. Ada juga yang berpendapat bahwa kita harus berevolusi total. Bahkan yang masih bingung menentukan jalan perubahan pun juga masih ada, walaupun mereka menginginkan suatu perubahan segera terjadi.

Permasalahannya muncul ketika mereka ditanya tentang reformasi ataupun revolusi. Tak jarang dari mereka yang menjawab makna reformasi ditukar dengan makna revolusi dan sebaliknya. Bahkan tak jarang juga yang malah kebingungan ketika ditanya tentang reformasi dan revolusi tersebut. Tetapi yang penting adalah mereka punya semangat untuk berubah dan mengubah, hanya saja belum tahu betul kemana harus berubah dan melalui jalan apa.

Reformasi dan Revolusi
Makna reformasi secara bahasa adalah me-reform atau menata ulang. Sedangkan makna reformasi secara politik adalah menata kembali sistem yang telah ada atau meluruskan penyelewengan – penyelewengan yang terjadi pada sistem.

Untuk makna revolusi secara bahasa adalah me-revolt atau mengubah secara mendasar. Sedangkan makna revolusi secara politik adalah mengubah secara mendasar sistem yang ada atau bisa dikatakan membuang sistem yang usang, diganti dengan sistem yang baru.

Mengetahui definisi serta maknanya saja masih belum cukup untuk dapat mengubah suatu kondisi. Satu hal penting lainnya yang juga harus diketahui adalah kapan reformasi atau revolusi itu kita jalankan.

Reformasi dan revolusi masing – masing memiliki objek yang sama, yaitu sistem kehidupan. Sesuai dengan maknanya, reformasi itu digulirkan ketika suatu sistem kehidupan itu sudah final dan dianggap telah benar, hanya saja terdapat beberapa penyelewengan – penyelewengan di sana sini. Sedangkan revolusi, digulirkan ketika suatu sistem kehidupan itu bukanlah sistem yang dianggap benar dan harus diganti total secara mendasar.

Oleh karena itu, haruslah diteliti terlebih dahulu apakah sistem kehidupan yang akan diperbaiki itu sudah benar ataukah tidak. Kalau sudah benar ya tentu saja reformasilah yang harus digulirkan. Sebaliknya bila terbukti salah atau cacat serta penuh dengan kontradiksi maka revolusilah yang harus digulirkan.

Satu hal lagi yang juga harus diperhatikan adalah dengan apa suatu masyarakat itu akan bangkit. Kalau kita teliti lebih mendalam maka akan kita dapati bahwasanya masyarakat itu bangkit jika dan hanya jika pada masyarakat tersebut telah diinternalisasikan suatu ideologi tertentu.

Sebab pada ideologi terdapat suatu akidah aqliyah (akidah yang dihasilkan melalui proses berpikir) yang dari akidah tersebut dipancarkan sistem hidup sebagai solusi atas semua problematika manusia. Dari pemaknaan ideologi seperti diatas maka kita hanya akan mendapati 3 ideologi sekarang ini yaitu Kapitalisme, Sosialisme, serta Islam, sedangkan yang lain – lainnya hanya merupakan pemikiran – pemikiran cabang dari ketiga ideologi tersebut, misalnya patriotisme, nasionalisme, marxisme dll.

Sekilas tentang 3 ideologi
Kapitalisme adalah suatu ideologi yang dibangun atas akidah pemisahan kehidupan dari agama atau biasa disebut dengan sekularisme. Oleh karena itu, agama tidak boleh turut campur dalam ranah – ranah publik seperti negara, politik, ekonomi, sistem sosial, sistem pendidikan dll. Awal kemunculan ideologi ini bermula ketika dominasi gereja di daratan Eropa telah membawa kemunduran yang amat sangat pada semua bidang kehidupan.

Maka dengan begitu kehidupan agama harus dibuang jauh – jauh dari ranah publik. Agama hanya boleh ada di ranah–ranah privat seperti gereja, masjid serta daerah daerah privat lainnya, sedangkan pengaturan–pengaturan masalah publik diserahkan sepenuhnya kepada rakyat. Negara penganut ideologi ini misalnya Amerika Serikat dan Inggris.

Sosialisme adalah suatu ideologi yang berdiri atas dasar akidah materialisme serta evolusi dan menolak keberadaaan agama. Ideologi ini muncul sebagai anti tesis terhadap ideologi kapitalisme. Awal kemunculan ideologi ini bermula dari kesenjangan ekonomi yang lebar pada masyarakat kapitalistik Eropa.

Pada saat itu pemerataan ekonomi sangat diinginkan oleh para buruh tani. Maka lahirlah ideologi ini yang memandang negara di atas segalanya serta berasas sama rata sama rasa. Negara penganut ideologi ini misalnya Uni Soviet.

Berbeda dengan kedua ideologi diatas, Islam adalah suatu ideologi yang berdiri di atas akidah Laailaahaillalloh. Ideologi ini berpandangan bahwasanya manusia itu serba lemah dan terbatas, oleh karena itu aturan – aturan hidup untuk mengatur kehidupan manusia datangnya haruslah dari sang Pencipta manusia. Karena Dialah yang paling mengetahui seluk beluk manusia beserta aturan – aturan yang cocok digunakan.

Satu – satunya negara yang menerapkan ideologi ini Daulah Khilafah Islamiyah ( runtuh 3 maret 1924 M).

Dari ideologi–ideologi inilah kemudian muncul berbagai problem solving atas berbagai permasalahan masyarakat yang satu sama lain berbeda dan unik. Kapitalisme misalnya, memiliki pandangan bahwasanya agar perekonomian suatu negara itu maju, maka individu harus diberi kebebasan untuk berusaha atau berekonomi.

Maka jangan heran jika pada negara yang menganut Kapitalisme ini, barang – barang seperti minyak dan bahan tambang bebas untuk dimiliki oleh swasta. Hal ini tentu saja sesuai dengan akidah mereka yaitu sekularisme, yang membebaskan manusia untuk mengatur berbagai urusan hidupnya.

Sosialisme sebagai ideologi juga memiliki problem solving atas berbagai permasalahan manusia. Sosialisme menetapkan bahwasanya barang – barang tambang dan minyak bumi misalnya adalah milik publik, serta semua rakyat harus merasakannya sama rata tidak hanya kalangan – kalangan berduit saja. Hal ini juga sesuai dengan akidah mereka yaitu materialisme.

Berbeda dengan kedua ideologi diatas, Islam menggariskan bahwasanya sesuai dengan ketentuan Allah SWT barang – barang seperti minyak dan barang tambang itu harus dikelola oleh negara dan negara tidak boleh menjualnya kepada rakyat dengan mengambil untung, melainkan hanya sekedar biaya produksi saja. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW yaitu :

“ Manusia itu berserikat dalam tiga hal, yaitu padang gembalaan (hutan dsb), air dan api ( barang tambang, minyak dll).” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Saatnya Ganti Rezim, Ganti Sistem
Keadaan Mesir yang bergejolak hendaknya menjadi pelajaran pada kita bahwa rezim sekuler akan segera berakhir dan Rezim yang taat pada Syariat Allah dalam Sistem Islam (khilafah) sajalah yang akan berkuasa di muka bumi, oleh karena itu ketika seseorang akan memimpin suatu negara dengan memilih sistem mana yang akan dijalankan maka cukuplah kiranya diilustrasikan sebuah kasus untuk menentukan sistem atau ideologi manakah yang akan dipilih untuk diterapkan.

Misalkan saja suatu pabrik mobil A mengeluarkan suatu produk mobil yang diberi nama X. Lalu pabrik mobil A tersebut juga menjual secara terpisah buku yang berisikan cara – cara merawat mobil X. Suatu pabrik mobil katakanlah B juga ikut – ikutan menjual buku yang berisikan cara – cara merawat mobil X. Anda sebagai seorang pembeli mobil dan pembeli buku untuk merawat mobil tersebut, buku keluaran pabrik manakah yang akan Anda beli?

Ya tentu saja buku yang dikeluarkan oleh pabrik A sebagai pabrik yang membuat mobil tersebut dan mengetahui seluk beluk dari mobil tsb. Begitu juga dengan manusia yang menjadi pemimpin, kita diciptakan oleh Allah SWT dan tentu saja sebagai sang Pencipta, Dia mengeluarkan buku petunjuk yang berisikan cara – cara untuk merawat manusia. Lalu apakah buku petunjuk lain yang bakalan kita pilih?

Sekali lagi jawabannya tentu saja buku yang dikeluarkan oleh Allah SWT sajalah yang harus kita pilih (baca: Al-Quran), jadi kenapa harus pilih sistem yang lain?. Karenanya saatnya rezim dan sistem sekuler diganti dengan rezim yang taat pada syariat Allah dalam sistem Islam atau khilafah Islamiyah. Wallohua’alam Bishshowwab.

Penulis : Andi Perdana Gumilang

Jan
28th

Rezeki Tidak Selamanya Materi

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Di dalam Lisan al ‘Arab, Ibnu al Manzhur rahimahullah menjelaskan, ar rizqu, adalah sebuah kata yang sudah dimengerti maknanya, dan terdiri dari dua macam. Pertama, yang bersifat zhahirah (nampak terlihat), semisal bahan makanan pokok. Kedua, yang bersifat bathinah bagi hati dan jiwa, berbentuk pengetahuan dan ilmu-ilmu

Kendatipun rizki telah ditetapkan semenjak manusia berada di perut ibunya, tetapi Allah Subhanhu wa Ta’ala tidak menjelaskan secara detail. Tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui pendapatan rizki yang akan ia peroleh pada setiap harinya, ataupun selama hidupnya. Ini semua mengandung hikmah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diperolehnya besok”. [Luqman : 34]

SPIRIT DARI AL QUR`AN

Langit tidak akan pernah menurunkan hujan berlian atawa emas perak. Laut pun tidak mengirimkan kekayaan perutnya ke daratan, sehingga orang-orang bisa beramai-ramai mengaisnya. Islam tidak menganjurkan pemeluknya untuk memerankan diri sebagai penganggur, meski dengan dalil untuk mengkonsentrasikan diri dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jadi, usaha itu merupakan keharusan. Tidak ada kependetaan atau kerahiban dalam Islam. Seorang muslim tidak selayaknya senang bergantung kepada orang lain, menunggu belas kasih dari orang-orang yang lalu-lalang melewatinya.

Renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. [al Jumu’ah : 10].

Mengacu pada penjelasan Ibnu al Manzhur tersebut, maka hakikat rizki tidak hanya berwujud harta atau materi belaka seperti asumsi kebanyakan orang. Tetapi, yang dimaksud rizki adalah yang bersifat lebih umum dari itu. Semua kebaikan dan maslahat yang dinikmati seorang hamba terhitung sebagai rejeki. Hilangnya kepenatan pikiran, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, atau bebas dari terjangkiti penyakit berat, semua ini merupakan contoh kongkret dari rizki. Bayangkan, apabila kejadian-kejadian itu menimpa pada diri kita, maka bisa dipastikan bisa menguras pundi-pundi uang yang kita miliki. Tidak jarang, tabungan menjadi ludes untuk mendapatkan kesembuhan. Imam an Nawawi rahimahullah mengisyaratkan makna tersebut dalam kitab Syarh Shahih Muslim (16/141).

TIGA PEMBAWA BERKAH PADA HARTA

Pertama : Syukur.

Kenikmatan yang didapatkan seseorang pada setiap datang, tidak terhitung jumlahnya, termasuk di antaranya harta benda. Kenikmatan ini menuntut seseorang untuk memanifestasikan syukur kepada al Khaliq yang telah melimpahkan rizki. Rasa syukur dan terima kasih serta pujian kepada Allah Azza wa Jalla atas nikmat itu, merupakan salah satu jalan untuk mendapatkan berkah dan tambahan pada harta yang dimiliki.

Ibnul Qayyim berkata, “Allah menjadikan sikap bersyukur sebagai salah satu sebab bertambahnya rizki, pemeliharaan dan penjagaan atas nikmatNya (pada orang yang bersyukur). (Demikian ini merupakan) tangga bagi orang bersyukur menuju Dzat yang disyukuri. Bahkan hal itu menempatkannya menjadi yang disyukuri”.

Syukur jangan dipahami secara sempit, atau hanya dengan lantunan kata “alhamdulillah” atau “wa asy syukru lillah”. Syukur yang seperti ini tidaklah tepat, dan tidak pelak lagi, yang demikian itu merupakan pandangan yang terlalu dangkal. Syukur memiliki makna yang lebih jauh dan lebih luas dari sekedar ucapan tersebut. Segala perbuatan baik, seperti shalat, puasa, pengakuan kurang dalam menjalankan ketaatan, menghargai nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala , memperbincangkannya, menerima dengan ridha, walaupun sedikit, semuanya masuk dalam bentuk syukur. Dengan bersyukur, maka Allah akan menambahhkan karuniaNya kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Jika engkau bersyukur, niscaya Kami benar-benar akan menambahimu”. [Ibrahim : 7].

Kedua : Shadaqoh.

Tidak sedikit ayat dan hadits yang menjelaskan shadaqoh dan infak merupakan salah satu penunjang yang dapat mendatangkan rizki dan meraih berkah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Allah menghapuskan riba dan mengembangkan shadaqoh”.[al Baqarah : 276].

Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meningkatkannya di dunia ini dengan berkah dan memperbanyak pahalanya dengan melipatgandakannya di akhirat.

Ketiga : Silaturahmi.

Usaha lain yang bisa mendukung bertambahnya rizki dan bisa mendatangkan keberkahan pada harta yang dimiliki, yaitu menyambung jalinan silaturahmi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

???? ??????? ???? ???????? ???? ??? ???????? ?????? ???????? ???? ??? ???????? ?????????? ????????

“Barangsiapa ingin dilapangkan dalam rizkinya dan ditunda ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi”.[17]

Hadits di atas menunjukkan manfaat menyambung tali silaturahmi, yaitu dapat mendatangkan curahan kebaikan dari Allah berbentuk rizki, terhindar dari keburukan, dan diraihnya keberkahan.

Al Hafizh rahiamhullah berkata : “Para ulama mengatakan, yang dimaksud dilapangkan rizkinya adalah, adanya keberkahan padanya. Sebab menyambung tali silaturahmi adalah sedekah, dan sedekah mengembangkan harta, sehingga semakin bertambah dan bersih”.[18]

Jan
28th

Tiduri Aku Ibu

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Tersentak hati Bu Dina mendengar permintaan anaknya. Anak laki-lakinya ingin ditiduri, ingin diberi kehangatan darinya….kehangatan seorang wanita. Kehangatan…hmm Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Kemolekan tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.
Dina, seorang wanita karir di salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.

Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian).
’ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.
”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya
”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya
”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel ”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.

”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati
”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri
”Iyya nak….”
.Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”
”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya ”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan ”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.
”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.

”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”
Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…
”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”
Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja).
”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.
Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu.
”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris

”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”
”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….
”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu
”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”

Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.
Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek….tampil agak cantik dan…hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..

’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi
”Ibuuuu….Tolong tiduri aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana ”Adiiit….?” tanyanya heran
”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.
”Ibuuu…tolong tiduri aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”
”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina
”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…

Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.
Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…
”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya….semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.
”Adiiit, Ibu harus pergi sayang…..Ibu harus masuk kantor…..”
”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.
”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”
”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit
”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya
”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar
“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya

Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf.
Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi,
”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….
”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya
”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi
”Permisi Pak”
”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…
Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…

”Hallo….” sapanya
”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut
”sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yahas…” jawab Dina
Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya.
”Loch emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi
”Iya Yah…”
”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”
”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”
”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”
Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya.

Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.
”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati
Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…
”Ohh ada yang meninggal….”

Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….

Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan….dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…
”ohh…apakah…apakah…..”
”Tidaaaakkkkkkkkk”
Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.
Air mata Dina deras mengalir ketiak ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..

”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak
“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi
”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi

Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup
Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.

”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu
”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah
”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”
”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”
”Ibu ingin tidur bersama mu….”
Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…
”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”
”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”
”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong…..”
Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar’atush-Sholihah), suami yang adil (’imamun ’adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya (awaladdun sholihin yad’ulah)

Sumber kaskus (elha)