Aug
12th

Hitung-hitungan di Bulan Puasa

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Bulan Suci Ramadhan sudah melewati 10 hari pertama, lagi-lagi Allah menunjukan kasih sayang-Nya yang Maha Besar di bulan ramadhan ini, mengapa bisa begitu?

Walau tidak seperti tahun yang lalu di mana suhu mencapai plus 41º C di Moskow di puncaknya musim panas, sehingga terjadi kebakaran hutan yang cukup besar di wilayah Rusia dan ajaibnya selang sehari sebelum puasa tiba-tiba hujan lebat mengguyur Rusia dan kebakaranpun padam, itu terjadi tahun lalu.

Tahun inipun demikian, menjelang puasa, yang tadinya panas menyengat, tiba-tiba hujan turun membasahi bumi dan kemudian suhupun mulai mereda, tak terlalu panas dibandingkan sebelum puasa, Allahu Akbar!

Nah untuk tahun ini, walau tak sama seperti tahun lalu, namun beberapa hari sebelum puasa suhu mencapai 38ºC dan terasa panas yang menyengat, anda bisa bayangkan dengan titik ekstrim suhu di Moskow yang bisa mencapai minus 30ºC!

Kalau sudah biasa panas seperti di negara-negara Timur Tengah mungkin tak masalah atau di negara kita yang berkisar suhunya rata-rata sekitar plus 32ºC, itu biasa.

Tapi di Rusia atau di Moskow suhu seperti seperti itu sudah membuat orang-orang yang bertelanjang dada dan aurot terbuka di mana-mana.

Lalu apa hubunganya dengan puasa? Ya di Moskow kali ini puasa jatuh di musim panas, walau belum di puncaknya. Agustus adalah bagian dari musim panas yang tiga bulan itu, Jun, Juli dan Agustus.

Puasa di musim panas kembali tiba, bagi masyarakat yang tinggal di lintang Utara yang menjauhi garis khatulistiwa, bulan Agustus ini musim panas dan kebalikannya bagi masyarakat yang tinggal di lintang Selatan yang menjauhi garis khatulistiwa, bulan Agustus ini justru musim dingin.

Nah bagi yang tinggal di Rusia, tibalah saatnya bulan-bulan yang dinantikan, apa lagi buat anak sekolah dan mahasiswa di Rusia atau di negara Eropa lainnya, bulan Juni, Juli dan Agustus adalah bulan liburan panjang, tak tanggung tanggung, sekolah atau kuliah libur 3 bulan!

Walau libur sepanjang itu setiap tahunnyai mereka tetap berhasil menata hidup dan kehidupan. Ternyata sekolah atau kuliah bukan banyak hari yang diperlukan, tapi kualitasnya lebih utama.

Oya mereka yang kuliah atau sekolah akan masuk lagi nanti di bulan September. Di tanggal satu September, kapanpun harinya tanggal itu, mereka akan masuk, jadi tidak mesti setiap tahun ajaran dimulai hari Senin!

Nah prinsif hidup yang mereka pakai adalah lagi kerja ya kerja sekalian, walaupun dingin-dingin, dibawah minus 25º-30º C, ayo kerja dan tetap kerja! Kalau lagi libur, ya liburan, jangan dibuat kerja.

Jadi liburan yang 3 bulan benar-benar dimanfaatkan sedemikian rupa untuk sesuatu yang bermanfaat, ya bisa tour ke manca negara, camping, haiking, bersepeda dan lain sebagainya.

Maka jangan heran, biasanya di musim panas dacha-dacha ( vila ) di luar kota Moskow full, mereka sudah pesan tempat 2- 3 bulan sebelumnya, bila tidak, ya kehabisan tempat!

Nah bagi yang muslim, di musim panas ini punya “persoalan ” sendiri, ya apa lagi kalau bukan masalah waktu sholat atau puasa, kita ambil contoh waktu sholat di puncak musim panas , sekitar tanggal 21 – 23 Juni yang lalu, mulai dari sholat Subuh pukul 02.51, matahari matahari sudah terbit pukul 04.44, Dzuhur pukul 13.32, Asyar baru masuk pukul 18.03, matahari tenggelam atau masuk waktu Magrib pukul 22.19 dan masuk waktu Isya baru pukul 00.11.

Untungnya(masih untung!) puasa kali ini masih jatuh di bulan Agustus atau akhir dari bulan musim panas, tapi puasa masih panjang, sahur sekitar jam 03.00 Subuh pukul 03.40 yang bergeser setiap harinya nambah sekitar dua menit, sedangkan Magrib atau saat berbuka pukul 21.29 WM(24.29 WIB) yang juga bergeser setiap harinya brekurang dua menit.

Jadi rata-rata puasa sekitar masih 17-18 jam! Dengan demikian sholat terawih sekitar pukul 12 tengah malam, selesai Isya sekitar dua jam kemudian sudah siap-siap buat sahur!

Bayangkan kalau nanti puasa terjadi di musim panas, tapi itu masih panjang, sekitar tahun 2016-2017 yang akan datang! Kalau untuk tahun 2011, kita yang ada di Rusia puasa di musim panas juga, di awal bulan Agustus, tapi masih sedikit ” normalah” bandingkan kalau puasa jatuhnya pas di bulan Juni, di puncak musim panas, berarti sahurnya sekitar jam 2, buka puasanya atau Magrib pukul 22 lebih. Jadi puasa di puncak musim panas tak kurang dari 20 jam!

Namun demikian jangan takut mati karena puasa yang 20 jam itu, sebab Allah SWT jelas sudah mengukur kemampuan manusia untuk mampu bertahan saat puasa. Lagi pula mana ada berita yang mengatakan banyak orang mati kelaparan karena puasa ramadhan!

Saya tak pernah membaca berita semacam itu, kalau ada, tolong beri tahu saya. Insya Allah tak akan terjadi, justru dengan puasa, orang semakin sehat, walaupun puasanya sampai 20 Jam! Itu sudah Jaminan Nabi kita, Muhammad SAW, Beliau bersabda : ” Puasalah, niscaya kamu sehat! “

Dengan jaminan dari Nabi Muhammad SAW, jelas sudah bagi orang yang puasa di berbagai negara, tak ada masalah, walaupun secara ijtihad yang dilakukan para ulama, ada yang berpendapat puasa bagi orang-orang muslim yang tinggal di lintang tinggi, yang waktu antara Subuh dan Magribnya begitu panjang, untuk berbuka menurut negara dimana Islam di turunkan yaitu di Saudi Arabia(Mekkah atau Madinah) atau melihat bujur negara yang searah dengan tempat tinggalnya sekarang, singkat kata puasanya sekitar 12-14 jam saja!

Maka ada yang sambil becanda, ada puasa ikut Arab, tapi tinggalnya di Rusia atau tinggalnya di Rusia, tapi puasanya sekitar 12-14 jam seperti di Indonesia, jadi walaupun masih ada matahari sekitar jam 19.00 WM mereka sudah buka alias membatalkan puasa dengan entengnya! Alasannya dengan argumen ”Tuhan tidak membuat susah hambanya”! Alasan tersebut dibenarkan atau tidak, Wallahu a’lam.

Dengan argumen seperti itu, mereka membatalkan puasa di hadapan teman-temanya yang masih setia untuk buka saat Magrib, walau Magrib baru tiba waktunya pukul 21.29 WM atau masih 2-3 jam lagi dari mereka yang membatalkan jam 19.00WM.

Terlepas dari keyakinan masing-masing, yang jelas puasa lebih dari 20 jampun, insya Allah tak terjadi apa-apa, artinya Allah memang sudah mengukur akan kekuatan manusia dan memang tak mungkin juga puasa melebihi waktu tersebut!

Walau itu bisa terjadi kutub utara atau di kutub selatan, yang memang sangat ekstrem, Karena di kedua kutub tersebut bila terjadi musim dingin, bisa selama enam bulan “tak ada matahari” alias matahari tak pernah muncul! Kapan sholat Dzuhur dan Asyarnya?

Namun sebaliknya bila musim panas di kedua kutub tersebut, selama enam bulan matahari tak pernah tenggelam! Jadi kapan buka puasanya? Atau kapan waktu sholat Magrib, Isya dan Subuhnya? Maka disitu berlaku “jam tangan”artinya tak perlu melihat matahari lagi, tapi menggunakan jam.

Tapi Allahpun Maha Mengetahui, ternyata di dua kutub tersebut tak ada kehidupan manusia, kecuali para peniliti. Itupun bisa berlaku hukum darurat, kalau ada orang muslim yang tinggal persis di kedua kutub tersebut.

Dengan demikian, tak ada alasan”takut mati” ketika puasa dengan waktu yang panjang! Yang jelas, tak pernah terdengar, seperti saya katakan di atas, ada berita banyak orang mati karena puasa! Jadi puasalah, walau waktunya sangat panjang!

Lalu bagaimana kalau ada yang puasanya mengikuti garis bujur tadi? Itu urusan masing-masing dan tanggung jawab masing-masing serta keimanan masing-masing. Namun yang hebatnya, banyak anak-anak yang masih SD yang tetap puasa dengan waktu yang pajang tadi dan full sebulan penuh seperti yang terjadi tahun-tahun sebelumnya, padahal mereka belum wajib melakukannya, karena belum balig.

Lalu mengapa yang sudah dewasa dan wajib melakukannya malah dengan entengnya membatalkan puasa, padahal matahari belum tenggelam?

Tak malukah dengan anak-anak SD tadi, anak-anak yang belum wajib melakukan puasa, tapi full puasanya?

Untuk puasa “ngitungnya mateng banget”, tapi rezeki Allah SWT yang diterima, jangan-jangan lupa menghitungnya dan lupa mengeluarkan untuk zakatnya, atau bukan lupa, tapi pura-pura lupa!

Ah itu urusan masing-masing, “lana a’maluna walakum a’malukum” bagi kami amalan kami dan bagimu amalan kamu!

Oya dari jadwal yang ada, maka mau tidak mau kalau mau sholatnya tidak kebablasan, ya begadang, setelah sholat Magrib , Isya dan sambil menunggu waktu Subuh ! Walau kadang mata berat banget, karena sudah ngantuk.

Ya kalau mau tidur, ya sepotong-sepotong, tidak bisa tujuh atau delapan jam berturut-turut seperti kita, di Indonesia, misalnya tidur selesai sholat Isya, sekitar jam 9 atau 10 malam bisa langsung tidur dan bangun-bangun nanti subuh, sekitar jam 4 atau jam 5 pagi, nah di Moskow tidak bisa begitu di Musim panas ini.

Untuk itu maka pola tidur harus disesuaikan dengan pola waktu sholat, kalau tidak, ya sholatnya jadi ” kacau beliau, eh kacau balau ” terlepas dari jadwal sholat, musim panas adalah waktu yang dinanti-nantikan, karena pada saat itulah masyarakat yang tinggal di negara empat musim, akan menyerap energi panas matahari, untuk bekalnya di musim dingin nanti, yang total tiga bulan tak menemukan matahari !

Oya terlepas ada yang puasa di musim panas bukan berdasarkan matahari yang terbit dan tenggelam atau berbuka bukan saat masuknya waktu magrib ditempat mereka berada, tapi berdasarkan hitungan jam yang sama di daerah tropis, namun ketika puasa terjadi di musim dingin, kok ikut puasa pada musim itu yang hanya delapan delapan jam, bukan ikut puasa di derah tropis yang sekitar 12 jam!

Tapi sudahlah…. yang jelas nilai puasa hanya Allah SWT yang mengetahui, jangan sombong bagi yang jam puasnya panjang, kalau tak ikhlas, ya sama juga bohong. Begitu juga jangan “pamer” dengan melakukan puasa yang jamnya pendek di musim panas.

Mari kita kembalikan semua urusan kepadaNya, karena memang Dialah tempat kembalinya semua urusan. Yang penting, jangan ribut dengan sesama muslim, hanya karena perbedaan pendapat, karena sesama muslim adalah bersaudara!

Dan jangan mengklaim diri paling benar, karena kebenaran manusia tetap relatif, yang mutlak hanya kebenaran Allah SWT! Oke sekian dulu, lain kali disambung lagi. Salam.

Oleh Syaripudin Zuhri

Aug
12th

Ramadhan Bulan Penuh Ketenangan

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Manusia mana yang tidak merasa gembira, senang dan suka cita ketika menyambut datangnya Ramadhan, pastilah semua bahagia menyambutnya. Semua itu karena kita sebagai manusia pasti akan kembali pada titik-titik tertentu dimana kita akan kembali mencari induk kita, pencipta kita, Rabb kita, yakni Allah SWT.

Ada masanya dimana kita akan sangat merindukan pencipta kita, dan pastilah kita akan kembali pada Nya di akhir perjalanan kehidupan kita. Dan inilah saatnya, perasaan rindu itu muncul ke permukaan, perasaan yang terpendam jauh di dasar samudra bernama hati kini perlahan menampakkan cahayanya.

Semua rumah Allah baik yang di tengah pusat kota bahkan di pelosok-pelosok negeri yang tak pernah dijamah pun kini penuh diisi oleh para pencari Tuhan yang sedang kehausan mencari air keimanan yang selama ini sulit digapai. Bagai jiwa yang brgejolak, mereka berlari, berbaris ingin menempati shaf terdepan, mengantri dengan sabar untuk dapat berjumpa denganNya.

Mereka temukan ketenangan di sana, ya ketenangan dari seluruh persoalan dunia yang menghimpit, ketenangan dari hingar bingar yang tak hentinya menyambar, ketenangan jiwa dan ruh untuk kembali kepada fitrahnya.Ada ketenangan yang kita cari selama ini, dan hanya ada dalam Ramadhan-lah kita bisa menemukannya.

Mereka menanggalkan sementara urusan dunia mereka demi berdiri tegak untuk menatap wajah sang penciptanya. Mereka rela berpeluh keringat, hanya demi sebait kerinduan yang selama ini mereka nantikan. Tak pandang si kaya atau si miskin, si elok atau si buruk rupa, semua sama di hadapan Nya kini, semua berlomba memuji, mengagungkan, memohon padaNya dan berlomba bermunajat padaNya untuk mendengarkan kisah kerinduannya yang dipendamnya selama ini.

Setahun lamanya menanti dan Alloh hanya ciptakan satu pertemuan dalam satu bulan bernama Ramadhan untuk menjamu para tamuNya dengan suguhan kenikmatan yang tiada tandingannya.

Marhaban yaa Ramadhan.

Bulan mulia itu telah datang, mari rengkuh ia, dan jangan biarkan ia pergi begitu saja. Mari raih kenikmatan di dalamnya. Ada cinta di sana, ada kasih sayang bagi sesama, ada kepedulian untuk semua, dan ada kesucian nan fitri pada akhir perjalanannya.

Marhaban yaa Ramadhan.

Biarkan jiwa ini menemui penciptanya, dibelai mesra dan dimanjakan oleh kenikmatan yang hakiki. Bebaskan segenap penat dan gundah gulana, berikan kepada Nya, dan rasakan ketenangan saat hati kita dekat dengan Nya, saat raga tunduk pada semua aturan Nya..

Yaa Rabb, jadikan sepuluh hari pertama ramadhan ini sebagai ramadhan yang penuh keberkahan, limpahan ramat dan kasih sayang, dan sampaikan pula kepada fase ramadhan sepuluh hari kedua, dimana maghfiroh Mu yang luas senantiasa membelai dan merengkuh kami atas segala kesalahan kami, dan jadikan kami sebagai pemenang finalis ramadhan di sepuluh hari terakhir Mu ya Alloh, karena kami berharap tak terjangkau oleh jilatan api neraka.

Aamiin. Oleh Mamah Hikmatussa’adah (Anggota FLP Sangatta)

Aug
5th

Selamat Datang Bulan Suci Ramadhan

Files under Bengkel Hati | 5 Comments

Ramadhan, bulan yang mulia, bulan al-Qur’an, bulan shiyam, bulan bertahajjud dan qiyamullail, bulan kesabaran dan takwa, bulan yang terdapat di dalamnya suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan di mana syetan dibelenggu, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka.

Sungguh sebuah anugerah besar buat kita semua jika Ramadhan bisa kita jumpai lagi. Inilah momentum termahal dalam hidup kita untuk bisa menggapai ridha Allah sebagus-bagusnya, meraih prestasi ibadah setinggi-tingginya. Insya Allah!

Bulan saat amal kebaikan dilipat gandakan dan penuh berkah dalam ketaatan, bulan pahala dan keutamaan yang agung. Maka seyogyanya setiap yang mengetahui sifat-sifat tamu ini untuk menyambutnya sebaik mungkin, mempersiapkan berbagai amal kebajikan agar memperoleh keberuntungan yang besar dan tidak berpisah dengan bulan itu, kecuali ia telah menyucikan ruh dan jiwanya.

Apabila kita mempersiapkan diri untuk ibadah kepada Allah Ta’ala di bulan yang diberkahi yakni Ramadhan dengan menghindari aneka hal yang haram dan membatalkan pahala, maka insya Allah derajat taqwa akan kita raih. Sedang Allah telah memberi pujian kepada orang yang taqwa:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat/ 49: 13).

Saudaraku, beramal sholeh itu penting. Tetapi yang jauh lebih penting lagi adalah beriman yang benar sebelum beramal. Sebab bila iman sudah benar, maka sekecil dan sesedikit apapun amal seseorang, niscaya ia akan memperoleh balasan yang baik dan berlipat dari Allah di akhirat kelak. Namun sebaliknya, sebanyak apapun amal seseorang jika tidak dilandasi oleh iman yang benar, niscaya ia akan merugi di akhirat kelak. Sebab Allah tidak akan memberikan penilaian apapun atas amal yang tidak berlandaskan iman yang benar tadi.

Allah memperingatkan kita bahwa ada sementara manusia di dunia ini yang mengira bahwa dirinya sudah banyak berbuat kebaikan namun ternayata di dalam pandangan Allah justru mereka itulah orang-orang yang paling merugi.

“Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS Al-Kahfi 103-104)

Apakah faktor yang menyebabkan perbuatan yang mereka sangka baik itu justeru ternyata di mata Allah adalah sia-sia dalam kehidupan di dunia

Menjadi seorang muslim adalah menjadi seorang muwahhid (ahli Tauhid). Tauhid merupakan pesan abadi para utusan Allah kepada umat manusia dari zaman ke zaman.

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl [16] : 36)

Pesan ini dibawa oleh setiap Nabi dan Rasul Allah sepanjang masa. Setiap umat telah mendengar pesan abadi para Rasul Allah ini. Suatu pesan yang ibarat coin bersisi ganda. Ada sisi keharusan menyembah Allah semata dan sisi lainnya ialah menjauhi Thaghut.

Adapun menurut istilah syariat, definisi yang terbaik adalah yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah: “(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah Subhanahu wa Ta’ala), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian).”

Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela)Thaghut itu mencakup banyak hal. Namun pimpinannya ada lima, yaitu:

Iblis atau syetan
Penguasa yang zalim
Orang yang memutuskan perkara dengan aturan selain apa yang telah Allah turunkan
Orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib selain Allah
Orang yang diibadati selain Allah dan dia rela dengan peribadatan itu.

Orang tidak dikatakan beriman kepada Allah sehingga dia kufur (ingkar) kepada thaghut, sebab kufur kepada thaghut adalah separuh dari kalimat Tauhid La Illa Ha Illawlah Dan ingkar kepada thaghut harus mencakup segala jenis thaghut, bukan sebagian saja. Bila seorang muslim beriman kepada Allah seraya mengingkari segala bentuk thaghut yang ada, niscaya sempurnalah imannya. Ia disebut seorang muwahhid (ahli Tauhid) sejati.

Di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa yang ber-wala’ kepada Allah berarti menjadikan Allah sebagai Wali-nya (pemimpin, pelindung dan penolongnya). Dan mereka itulahlah orang-orang yang beriman. Sedangkan yang ber-wala’ kepada thaghut adalah kaum kafir. Bagaimana mungkin di dalam diri satu orang ada dua identitas yang bertolak-belakang? Mustahil.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).” (QS. Al-Baqarah [2] : 257)

Dan mereka yang mengekor kepada kaum kuffar —baik dari kalangan ahli Kitab maupun kaum musyrikin— berarti telah menyediakan kehidupannya untuk diatur berdasarkan hukum thaghut padahal mereka mengaku beriman….!

Sungguh, setelah memperhatikan berbagai peringatan dan penjelasan Allah di atas yang begitu terang, hanya satu pertanyaan yang menggelayut di fikiran seorang muslim-muwahhid sejati: mengapa gerangan masih ada orang yang mengaku dirinya muslim namun tidak mau mengingkari thaghuT.

Jul
29th

Ketika Komunikasi Dalam Rumah Tangga Tak Jalan

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Seperti biasa setiap hari Jumat, Blog IT dan Bisnis Online akan memberikan cerita-cerita Hikmah yang Insyaalah bermanfaat untuk saya pribadi dan pembaca/pengunjung pada umumnya. Cerita kali ini berguna bagi yang ingin berumah tangga dan bagi yang sudah berumah tangga.

Kebahagiaan Bu Narti semakin lengkap karena tak berapa lama lagi anak bungsunya akan menjadi pengantin. Do’anya terkabul, gadis kesayangannya akan dipinang oleh seorang lelaki yang insya Allah sholeh dan bertanggung jawab menurut pandangannya.

Dan hari yang dinantipun tiba, semua berjalan dengan lancar. Meski tak semewah ?walimatul ‘ursy anak teman-temannya, tapi baginya cukup meriah. Bu Narti adalah seorang janda yang telah ditinggal suaminya beberapa tahun yang lalu. Jadilah ia seorang single parent dengan tiga anak yang lucu-lucu. Air matanya tak dapat ia bendung tatkala ijab qobul putrinya berlangsung, dia teringat mendiang suaminya. Dia berbisik dalam hati “Pak, lihat… anak kita sudah besar, dan sekarang telah menjadi pengantin yang sangat cantik…”

Pestapun telah usai, dan sekarang saatnya sang buah hati meninggalkan dirinya karena akan diboyong suaminya ke negri seberang, kebetulan menantunya itu bertugas disana.

Santi sangat berat hati meninggalkan ibunya, mengingat usianya yang akan mencapai 50 tahun. Tapi apa dikata, dia harus mengikuti kemana suaminya pergi. Dia ingin sekali membawa sang ibu untuk tinggal bersama mereka, akan tetapi ibunya menolak dengan halus. “Nggak usah nak… ibu lebih nyaman tinggal di kampung…lagian kalau disana, ibu akan susah menengok makam bapakmu jika tiba-tiba ibu rindu, kamu baik-baik disana ya…jadilah istri yang baik dan menyenangkan bagi suamimu, dampingi dia dalam keadaan apapun.”

Santipun berangkat dengan hati yang berat.

Krek…! Santi tersentak dari lamunannya, dia melihat sosok lelaki melangkah masuk. Cepat-cepat ia menyusul lelaki itu kepintu seraya menyalami dan mencium tangannya, lelaki yang selama tiga tahun ini telah menjadi suaminya.

Setelah membereskan sepatu dan tas suaminya, dia cepat-cepat ke dapur untuk menyiapkan secangkir teh hangat kesukaan seuaminya tak lupa dengan sepiring singkong rebus tuk cemilan di sore hari.

“Mas mau mandi dulu atau mau langsung makan…?” Tanya Santi pada suaminya. “Nanti saja, mas mau rebahan dulu, makannya habis magrib aja,” jawabnya singkat, dan diapun langsung masuk kekamar dan tidur. Suasanapun kembali sepi. Tak ada suara anak kecil di rumah itu karena sampai saat inipun mereka belum memperoleh satu orangpun keturunan.

Santi kembali sibuk menyiapkan makan malam buat mereka berdua.

Sebenarnya Santi bukanlah sosok yang pendiam, tetapi semenjak menikah, dia agak tertutup dan pendiam karena suaminya adalah laki-laki yang dingin dan sangat terutup, bahkan terhadap Santi istrinya. Terkadang Santi jenuh dan bosan dengan keadaan itu, dia merasa sedikit tertekan dengan sifat suaminya yang dingin, akan tetapi dia selalu ingat akan pesan ibunya bahwa suami adalah Surga dan Neraka bagi seorang istri.

Tak jarang dia menangis sendiri tatkala suaminya tak ada dirumah. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa suaminya masih menganggap dia seperti orang asing. Dia sedih tatkala menyaksikan sepasang suami istri yang begitu asik bercengkrama atau berjalan bergandengan, pergi jalan-jalan berdua, sedangkan dia, sangat jarang, bahkan tuk sekedar duduk bercengkrama diteras rumah di sore haripun sangat jarang.

Ingin sekali dia bertanya langsung pada suaminya, tapi dia takut jika suaminya tersinggung, jadi dia lebih memilih diam.

Sebenarnya, Burhan suaminya merasakan kegelisahan istrinya, ingin rasanya dia mencairkan suasana agar tak lagi kikuk didepan istrinya, apa lagi jika dia mendapati istrinya sedang menangis, paling dia hanya bertanya, “Kenapa menangis dek, kamu sakit? Santi hanya menggeleng dan bilang kalau dia kangen ibunya.” Lalu Burhan hanya bisa terdiam, dia tak tahu harus berbuat apa, karena sedari dulu dia memang kaku terhadap perempuan.

Waktupun terus bergulir , hari-hari dilalui Burhan dan Santi dengan rasa hampa tak menentu. Sangat monoton dan membosankan. Semakin hambar malah.

Suatu sore, Burhan mendapati Santi tengah menangis di sudut ruangan sambil menghubungi seseorang, ternyata Ibunya, Santi tak menyadari kedatangan Suaminya, sehingga Burhan bisa dengan leluasa mendengar percakapan mereka.

“Buk…Santi bosan disini, Santi pengen pulang saja, Santi gak tahan lagi, sepertinya mas Burhan tak bisa menerima kehadiran Santi,” ucap Santi seraya terisak.

“Loh…kok bisa sih nak, bukankah kalian menikah sudah tiga tahun lamanya, bagaimana mungkin kamu bisa bilang kalau suamimu belum bisa menerima kehadiran kamu, buktinya apa? Coba cerita sama ibu…”

“Mas Burhan sangat dingin Buk, dia bicara kalau ada perlunya saja, dia sangat tertutup pada Santi, bahkan kalau pulang larut malampun dia nggak pernah kasih tau ke Santi kalau dia lembur atau gimana, nyampe di rumahpun dia juga lebih banyak diam…”

“Santi seperti tak dihargai buk…santi seperti dianggap nggak ada, kalau dia lagi ada suatu masalah, dia nggak pernah mau bicara sama Santi, kalau Santi tanya dia cuma diam dan bilang nggak ada apa-apa, jadi Santi ini siapanya dia buk?”

“Apa santi nggak coba tanya ke suamimu?”

“Enggak Buk…Santi takut mas Burhan tersinggung, kan dia capek pulang kerja…”

Ibunya terdiam…sedih, terkadang ada muncul perasaan menyesal menjodohkan mereka, tapi cepat-cepat dia tepis.

Burhan terhenyak mendengar kata-kata istrinya, sedih bercampur marah kepada dirinya. Marah karena sikapnya yang dingin pada istrinya, orang yang selalu ada dikala dia susah dan senang, orang yang selalu setia merawat dirinya tatkala dia sakit, orang yang selalu setia meyiapkan sarapan dan menunggu kedatangannya setiap dia pualng, meski itu larut malam. Berbeda dengan teman sekantornya, dia bisa bercerita dengan leluasa.

Dia lupa bahwa seorang istri juga mahkluk yang bernyawa, dia bukanlah sebuah patung yang tak punya perasaan. Seorang istri juga bisa sedih, dan juga ingin mendapat sedikit perhatian dari suaminya.

Dan dia juga lupa bahwa tak cukup hanya dengan kehadiran saja pernikahan itu akan bahagia. Pernikahan itu tak cukup hanya komunikasi ranjang dan dapur, akan tetapi juga komunikasi hati.

Pernikahan akan berjalan lancar jika komunikasi berjalan dengan baik dan lancar. Percuma jika punya harta yang berlimpah dan suami/istri yang tampan/cantik, jika komunikasi sangat buruk, semua akan menjadi percuma, malah akan seperti di Neraka karena kerja sama juga takkan berjalan dengan baik, yang ada hanya prasangka dan curiga tak menentu.

Jadi, jika ingin sebuah hubungan berjalan dengan baik dan sehat, maka sangat diperlukan komunikasi yang baik pula sebagaimana Rasulullah SAW selalu mengajak bercanda istri-istrinya. Bukankah Rasulullah SAW juga sangat romantis terhadap istri-istri beliau?

Dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah berada di tempatku bersama Saudah, lalu aku membuat jenang. Aku bawa (jenang itu) kepada beliau, kemudian aku berkata pada Saudah, ‘Makanlah!’ Akan tetapi, ia menjawab, ‘Saya tidak menyukainya.’ Aku pun berkata, ‘Demi Allah, kamu makan atau aku oleskan ke wajahmu?’ Ia berkata, ‘Saya tidak berselera memakannya,’ Lalu aku ambil sedikit, kemudian aku oleskan ke wajahnya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika itu duduk di tengah-tengah antara aku dan dia. Kemudian beliau merintangi dengan lututnya supaya dia dapat membalasku, lalu ia mengambil jenang dari piring tersebut, kemudian dia (saudah) membalas mengoleskannya kepadaku dan Rasulullah tertawa.” (HR. Ibnu Najjar)

***

Cece (indah_putri85@yahoo.co.id)

Mohon maaf jika ada kata yang salah, wassalam.

Jul
22nd

Apa Yang Menutupi Hatimu, Suamiku ?

Files under Bengkel Hati | 3 Comments

Kejadian dalam cerita dibawah ini bukan kejadian dalam sebuah film atau cerita kebanyakan, tapi kejadian ini sering kita temui dalam kehidupan di Indonesia, banyak wanita yang disakiti dan jadi korban Kekerasan dalam Rumah Tangga, saya membaca cerita ini sangat sedih dan terharu, semoga wanita yang menulis cerita ini mendapatkan pertolongan dan jalan keluar yang baik dari Allah SWT. Semoga cerita ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua.

Prangkkk….!! semua berhamburan, piring-piring dan gelas pecah berserakan.

Plakk…!! kembali tamparan mendarat dipipiku, aku hanya bisa meringis menahan sakit, pipiku lebam. Mungkin sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari saking seringnya aku dapat hadiah tamparan dari suamiku jika dia sedang marah.

Dia tak peduli dengan sakit yang aku rasakan, dia tak pernah menghiraukan ngilunya sendiku setelah dia membanting tubuhku ke lantai, ceceran darah dipipiku dia anggap biasa saja.

Sifatnya itu tak pernah ku temui sewaktu kami masih berpacaran dahulu. Sungguh berbeda.

Kemarahannnya sungguh tak beralasan, hanya karena rasa cemburu yang membakar hatinya.

Sifat cemburunya tak dapat lagi diterima akal sehat. Jika aku pergi kewarung untuk sekedar membeli keperluan dapur, dia akan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, “ Habis dari mana, tadi bertemu dengan siapa saja, kamu bicara dengan siapa saja, laki-laki mana saja yang ajak kamu ngobrol, kamu berbicara tentang apa saja..? dan banyak lagi.

Ya Allah…… aku sungguh tak tahan dengan keadaan ini. aku sungguh lelah…, aku merasa tepasung dalam istanaku sendiri…..

Jika dia berangkat kerja, aku selalu dikurung di rumah, jendela dan pintu selalu di tutup, aku sama sekali tidak diizinkan bergaul dengan lingkunganku. Terkadang aku malu dengan tetangga.

Hampir setiap hari kami bertengkar walau itu hanya masalah sepele. Dia selalu mengutamakan egonya.

Apalagi jika sa’at di panggil aku agak telat merespon, dia langsung marah.

Yang makin membuat hatiku sakit….tatkala malam tiba, dia seperti menganggap tak pernah terjadi apapun pada kami disiang hari, meski dia masih bisa melihat bekas tamparan tangan kekar nya dipipiku, dia dengan leluasanya menikmati “ sajian malam” nya tanpa rasa bersalah ataupun mengluarkan sebait kata ma’af karena telah menyakitiku. Terkadang aku bertanya dalam hati “ sebenarnya hati suamiku terbuat dari apa..”? Astaghfirulllah!..

nangis

Pernah suatu hari Ikhsan anak kami melihat pertengkaran kami. Dia sangat ketakutan tatkala suamiku memukul serta membanting tubuhku kelantai hingga pelipisku berdarah yang menyebabkan pendengaranku agak sedikit terganggu.

Anakku gemetar dan ketakutan hingga dia pipis dicelananya, anakku yang semula periang berubah menjadi pendiam, dia selalu ketakutan jika ada orang asing yang menyapanya, dia sangat susah didekati, dia tak mau lagi datang kesekolah. Dia selalu menangis jika disuruh kesekolah, hingga akhirnya aku terpaksa menitipkan dia untuk sementara di rumah orang tuaku, agar mentalnya kembali stabil. Dia mengalami depresi berat. Aku kasihan jika dia terus-menerus menyaksikan kami bertengkar..

Aku berusaha sekuat tenagaku mempertahankan pernikahanku, walau sejujurnya aku sudah tidak kuat diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Dalam hati aku masih sangat menyayangi suamiku meski sikapnya seperti itu.

Aku sangat sedih dengan sikap suamiku..Bukankah seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang…. ? Jikalaupun si istri melakukan kesalahan apa mesti di tegur dengan tamparan dan pukulan…?

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim

Aku teringat lirik lagu yang pernah aku putar sewaktu aku belum menikah dulu.

“Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu keras membersihkannya Nanti ia mudah retak dan pecah…

Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu lembut membersihkannya… Nanti ia mudah keruh dan ternoda…

Ia bagai permata keindahan… Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
ia sehalus sutera di awan… jagalah hatinya dengan kesabaran…
Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalau .. Tegurlah bila ia bersalah namun jangan lukai hatinya. “

Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, ketika dibiarkan dia akan makin bengkok namun ketika ditarik dengan keras dia akan patah.

RASULULLAH Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sosok pria yang ketika beliau dengan kesabaranya menghadapi banyak sikap dari para istri beliau. Beliau adalah seorang suami yang rela berdiri berjam-jam untuk menjadi sandaran istrinya (‘Aisyah) ketika ia ingin melihat suatu pertunjukan olah raga pedang para sahabat. Padahal waktu itu usia beliau sudah masuk usia senja.

Beliau juga tidak serta merta memarahi istrinya (‘Aisyah) ketika ia salah memasukkan sesuatu kedalam minuman Rasulullah , yang seharusnya ia masukkan gula namun garam yang tercampur didalamnya. Namun dengan bijaknya beliau tersenyum dan berkata wahai Istriku minuman yang kau buat sangatlah nikmat, Aisyah pun menjawab benarkah Ya…Rasulullah?” Kemudian Aisyah mencicipi minuman tersebut dan….Wajahnya memerah karena sangat malu juga khawatir kalau kalau Rasulullah marah.

Namun Rasulullah sudah dapat membaca kekhawatiran tersebut dan tersenyum pada istrinya dengan penuh sayang.

Firman Allah Ta‘ala, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa’: 19).

Setiap sujud malamku.. aku selalu ber do’a agar Allah melunakkan hatimu suamiku. Aku hanya bisa memohon kepada yang Maha membolak balikkan hati manusia agar engkau berubah , Aku tak ingin pernikahan ini hancur…, bagaimanapun aku sangat mencintaimu karena Allah, karena aku yakin Allah Maha Pemurah. Sehingga kuat keyakinanku bahwa kita akan memetik buah yang indah dan manis pada akhirnya ,

Kembalillah ke jalan Allah suamiku, simpan tangan dan kekuatanmu untuk menegakkan kalimat Allah, bukan untuk meremukkan tulang rusukmu sendiri. Simpan amarahmu untuk musuh – musuh Allah yang kita wajib bersikap keras terhadapnya, bukan kepadaku yang selalu mendampingimu. Kami merindukan imam yang tegas dalam hal yang Allah mengharuskan kita tegas terhadapnya dan lemah lembut terhadap keluarga dan sesame muslim .

Buat suamiku… semoga kau membaca note’sku ini..

Cece (indah_putri85@yahoo.co.id )

Jul
22nd

Doa Ibu yang Makbul

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Mungkin diantara kita sering mengalami kejadian seperti cerita dibawah ini, termasuk saya pribadi, sudah dilarang oleh orang tua (ibu) tapi masih juga kita lakukan, alhasil apa yang kita lakukan tidak berjalan dengan baik dan tidak berkah bahkan terkadang malah menjadi mudharat. Semoga cerita dibawah ini bisa menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kita semua. aminn

Kejadian Pertama

Hari itu, 31 Desember 1998, tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Malam menjelang tahun baru, saya masih berada di rumah. Ibu dengan dibantu beberapa ibu-ibu tetangga sedang memasak menu untuk acara syukuran di kompleks perumahan kami. Tri, kawan sepermainan saya, memanggil-manggil saya untuk ikut keluar. Keluyuran, menikmati suasana malam menjelang tahun baru.

Sebelumnya, ibu tidak mengizinkan saya. Saya diminta di rumah dan membantu beliau. Namun, saya tidak mengindahkan. Kata bapak, waktu itu ibu sempat mengatakan, ”Awas kalau ada apa-apa nanti di jalan.” Namun, saya tidak mendengarnya. Keburu keluar bersama kawan saya.

Kami naik motor. Tidak jelas tujuannya. Yang penting, kata Tri, jalan-jalan. Motor pun digeber cukup kencang. Sekitar pukul 20.00, saat melewati sebuah tikungan, Tri tidak mengurangi kecepatan. Tiba-tiba sebuah mobil Taft menyeruak di depan, Tri kaget. Karena panik, ia tak bisa mengendalikan laju motor. Motor bersama kami masuk parit, cukup dalam. Akibatnya, kami berdua terluka. Saya yang berada di boncengan mengalami luka serius di kaki.

Kendati meringis kesakitan, saya masih sadar. Berusaha meminta tolong. Pada saat itu, kaki kanan saya tidak kuasa menyanggah tubuh saya. Saya tidak bisa berdiri. Setelah dilihat, celana saya sudah berlumuran darah. Saya tak sempat melihat luka di kaki kanan saya tersebut. Yang jelas, darah yang keluar cukup banyak. Kepala saya mulai pening. Dalam kondisi setengah sadar dan pandangan yang mulai kabur, saya melihat kerumunan orang menuju ke arah saya. Setelah itu, saya tak tahu lagi apa yang terjadi.

Saat sadar, saya sudah berada di ruang perawatan khusus di RS Mekar Sari Bekasi. Menurut bapak, jika terlambat sedikit saja, nyawa saya saat itu mungkin tidak tertolong karena darah yang mengucur dari kaki saya cukup banyak.

Saya juga sempat melihat ibu. Tampak jelas beliau menahan tangis. Wajah saya dipeluk. Saya minta maaf kepada beliau. Setelah itu, saya kembali tak sadar. Pasrah pada apa pun yang terjadi.

Namun, saya sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menghirup udara dunia. Setelah menjalani operasi, kondisi saya berangsur membaik. Memang lukanya cukup parah. Otot besar tepat di bawah dengkul robek. Dokter menjelaskan, saya bisa berjalan, tetapi pincang. Artinya, saya harus menerima kenyataan bahwa kaki kanan saya ini cacat.

Ibu berusaha terus membesarkan hati saya. Menghibur dan memberikan semangat agar saya tidak patah arang. Berhubungan atau tidak, saya percaya bahwa kejadian malam itu tak lepas dari doa beliau. Ibu bilang, beliau mendoakan keselamatan untuk saya. Dan itu dikabulkan oleh-Nya. Alhamdulillah.

Kejadian Kedua

Kala itu, selepas lulus dari IKIP Surabaya pada 2004 saya masih menjalani waktu-waktu tak menentu di Surabaya. Saya menganggur setelah sebelumnya sempat ”magang” di warung kopi milik paman. Tak betah, tapi saya tetap memutuskan untuk tinggal di Surabaya. Seolah dapat ilham, saya teringat ibu. Saya menelepon beliau dan menceritakan kondisi saya yang luntang-lantung di Surabaya. Sulitnya mencari kerja. Mau buka usaha pun tak sanggup. Mengirim lamaran kerja, sebagai guru dan pegawai swasta, tetapi belum kunjung ada panggilan. Semuanya saya ceritakan kepada beliau.

Di ujung telepon, pada pengujung pembicaraan, saya meminta restu ibu agar segera dapat kerja. Esoknya, saya dapat panggilan dari PT Tata Solusi Pratama (TSP) di divisi logistik. Hanya sekali ikut tes, saya dinyatakan diterima dan bekerja di sana. Meski hanya digaji Rp 800 ribu, saya sangat bersyukur. Alhamdulillah.

Kejadian Ketiga

Saya mulai tak kerasan di PT TSP. Saya sadar bahwa saya memiliki kemampuan lebih untuk sekadar jadi pegawai gudang (logistik). Saya ingin mengembangkan karir di bidang lain. Dan impiannya saya adalah jurnalistik atau pendidikan. Saya memberi tahu ibu soal niat saya untuk hengkang dari TSP. Beliau bilang, semua terserah saya. ”Pokoknya, apa yang terbaik menurutmu, ibu mendukung,” ucapnya waktu itu. Saya meminta restu beliau untuk mendoakan saya agar bisa mencapai apa yang saya cita-citakan.

Surat resign saya serahkan ke atasan. Dikabulkan. Saya resmi jadi pengangguran lagi. Namun, itu tak berlangsung lama. Secara tak sengaja, ketika ngopi di kawasan Ketintang, dekat kampus IKIP, saya membaca lowongan kerja. Terpampang jelas di situ, Jawa Pos butuh ”polisi EYD” alias tukang edit. Segera saya membeli amplop cokelat ukuran folio, kertas HVS selembar, dan menyiapkan berkas lain untuk mengirim surat lamaran kerja ke sana. Setelah siang saya mengirimkannya, malamnya saya telepon ibu. Meminta doa beliau.

Impian jadi nyata. Saya lolos tes administrasi dan ikut tes tulis. Setiap lolos, saya mengabarkan kepada ibu dan bapak. Ibu sangat antusias mendengarnya. Berharap saya bisa lolos dan meyakinkan bahwa saya pasti bisa. Ketika ikut tes ketiga, yakni psikotes, saya melaluinya dengan baik. Selanjutnya, saya menjalani tes wawancara dengan kepala editor (Pak Guntur) dan koordinator liputan (Pak Baihaqi). Saya sempat dicecar oleh Pak Baihaqi tentang kebiasaan membaca. Bahkan, beliau sempat melontarkan nada tinggi ketika saya agak gugup ketika menjawab. Namun, saya lolos! Gembira bukan kepalang. Saya merasa juara meski belum sepenuhnya diterima. Paling tidak, saya sudah menyisihkan banyak sarjana bahasa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Seingat saya, ada lulusan UGM dan Undip. Wajah mereka tampak pasti. Namun, seperti ibu bilang bahwa saya pasti bisa. Doanya menjadi penyemangat yang dahsyat. Kepercayaan diri saya berlipat-lipat.

Tiba tes terakhir, yakni kesehatan. Jujur, saya ragu. Pasalnya, saya punya sakit jantung lemah. Sehingga telapak tangan dan kaki saya selalu basah. Ini membuat saya nggak pede. Saya memohon doa kepada ibu. Tinggal selangkah lagi. Esoknya saya mengikuti serangkaian tes kesehatan lengkap. General check up. Saya yakin doa ibu selalu menyertai setiap langkah saya. Bismillah. Dan betul, saya dinyatakan lolos. Allahu akbar. Tak menyangka impian saya untuk menggeluti dunia jurnalistik benar-benar terealisasi.

Kejadian Keempat

Saya berkenalan dengan seorang alumnus Undip, kader Partai Keadilan Sejahtera. Perempuan berparas cantik dan murah senyum. Kami memutuskan bertaaruf. Sekali bersua, saya lantas nekat berkunjung ke rumahnya di Pekalongan. Mengutarakan niat kepada orang tuanya untuk melamarnya. Benar-benar bonek lah. Padahal, kala itu, saya belum punya tabungan untuk menikah. Pada pertemuan selanjutnya, orang tua saya sowan ke Pekalongan. Beberapa minggu kemudian, ganti keluarga calon mertua yang menyambangi rumah orang tua saya di Bekasi.

Semuanya terasa begitu cepat. Ibu sempat tanya ke saya, ”Apa kamu sudah siap?” Saya jawab, ”Insya Allah, Bu. Saya sangat siap.” Modal yakin saja. Allah pasti menolong saya, begitu pikir saya waktu itu.

Setelah lamaran, tanggal pernikahan kami pun ditentukan, 8 Maret 2009. Dan kantong ini belum cukup ”tebal”. Bahkan, saya belum mendapatkan kontrakan buat kami.

Saya bilang ke ibu tentang hal ini. Bapak hanya sopir, penghasilannya tak seberapa. Jika ada order, dapat uang. Jika tidak, ya nganggur. Tidak pasti setelah beliau pensiun. Ibu hanya menjual nasi bungkus dan bikin kue yang dititipkan ke warung-warung. Sangat membantu finansial rumah tangga. Karena itu, saya nggak tega untuk minta bantuan keuangan kepada ibu dan bapak untuk biaya menikah. Bingung. Gamang sekali waktu itu.

Ibu membesarkan hati saya. ”Minta sama Allah, Dia pasti menolong,” jawab ibu singkat. Saya bersemangat lagi. Tanggal pernikahan sudah dekat. Saya berusaha mencari dana untuk modal nikah. Kemudian saya bertemu dengan Mas Mierza, bendahara Badan Amil Zakat (BAZ) Jatim. Saya mengutarakan kesulitan saya. Tanpa tedeng aling-aling, beliau bersedia memberikan pinjaman tanpa anggunan sama sekali. Alhamdulillah walaa ilaha illallah…

***

Saya tak pernah menyangsikan kekuatan doa seorang ibu. Memang manusia hanya bisa berusaha, selanjutnya keputusan berada di tangan Allah.

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya, maka dia kafir.” (HR. Muslim)

Pada hadis lain disebutkan, ketika ditanya tentang peran kedua orang tua, Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

Semoga Allah selalu melindungi ibuku, ibuku, ibuku, dan ayahku. Menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil sampai sekarang. Aamiin.

Surabaya, 6 Juli 2011 (prasetyo_pirates@yahoo.co.id)

Jul
15th

Termasuk Golongan dimanakah kita ?

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Banyak orang yang melihat tapi sedikit orang yang mendengar

Pepatah diatas sangatlah dalam makna dan artinya, semoga dengan tulisan dibawah ini bisa menjadi pelajaran bagi saya pribadi dan pembaca pada umumnya.

Cobalah lakukan hal ini!

Katakan kepada lawan bicara anda, lebih banyak lebih bagus. Sembunyikan tangan kanan anda di belakang pinggang. Kemudian dengan gerakan cepat, anda tunjukkan telapak tangan anda dengan posisi angka dua (jari tengah dan telunjuk terbuka, ketiga lainnya tertutup) ke hadapan mereka dengan , lalu di saat bersamaan katakan “Ada berapa jari tangan kanan saya?”

Yang saya temukan, banyak yang menjawab dengan cepat, “Dua!”

Jika demikian halnya, maka apa yang dilihat mata telah menipu pikiran kita. Karena pada dasarnya, jawaban pertanyaan tersebut adalah lima, bukan dua.

Banyak orang yang mendengar tapi sedikit yang mendengarkan

Telinga kita mungkin mendengar, tapi hanya sekedar mendengar, bukan mendengarkan. Akibatnya, bisa jadi masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Tak ada yang berbekas.

Banyak orang yang mendengarkan tapi sedikit yang mengerti

Telinga mendengarkan tapi otak tak digunakan. Hasilnya, informasi yang diterima tak membuahkan hasil apa-apa.

Banyak orang yang mengerti tapi sedikit yang memahami

Ketika otak sudah digunakan untuk berfikir, namun hanya sedikit yang bisa mengakar ke hati. Hasilnya mungkin berupa kebijakan yang tidak bijaksana.

Banyak orang yang memahami tapi sedikit yang mengamalkan

Pemilik ilmu seharusnya bisa menjadi sebuah pohon yang memberikan buah manfaat kepada orang banyak dengan cara mengamalkannya. Tapi adakalnya ilmu itu hanya tersimpan, sehingga pohon tersebut tak mampu berbuah.

Banyak orang yang mengamalkan tapi sedikit yang ikhlas

Adakalanya sebuah amalan diiringi dengan harapan untuk dipuji, dihormati, atau dikenal. Padahal dengan sebuah keikhlasan, nikmat beramal akan jauh lebih terasa.

Banyak orang yang ikhlas tapi sedikit yang tetap ikhlas ketika ujian menimpa

Ikhlas tak cukup saat niat dan ketika beramal saja. Ikhlas harus ada dalam setiap episode sebelum, ketika, dan setelah amal dilakukan. Sehingga tak jarang, seseorang ikhlas ketika beramal, namun mengeluh ketika sebuah ujian menimpanya.

Wallahu a’lam. (Jampang.multiply.com)