Nov
25th

Biarlah Allah Yang Jadi Saksi

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Bila ingin hidup ini tenang, tak usah hiraukan ada atau tidak ada orang yang melihat atau menilai amal-amal kita.

“Wakafaa billahi syahidaa. (Cukup Allah yang menjadi saksi)” (QS. An-Nisa [4] : 79)

Itulah isi SMS taushiyah yang kirimkan oleh Aa Gym. Sangat menyentuh. Untuk kita yang selama ini masih terpaku pada penilaian manusia terhadap segala perbuatan yang kita lakukan. Penilaian manusia tak bisa di jadikan sebagai tolak ukur baik atau tidaknya perbuatan kita. Bisa jadi di mata orang ini kita mendapat pujian tapi di mata yang lain kita di nilai hanya mencari sensasi semata.

Cukuplah Allah menjadi barometer setiap gerak kita. Kemana kaki hendak melangkah. Kemana mata hendak memandang. Apa yang ingin telinga dengar. Terlalu melelahkan bila memikirkan apa yang orang lain katakan sedangkan berbeda orang sudah tentu berbeda pendapat.

Jika apa yang kita lakukan sudah sesuai syariat, maka abaikan saja penilaian orang lain. Jika memang penilaian itu mengandung sebuah nasehat kebajikan, bukalah lebar-lebar telinga dan mata hati kita. Tapi tulikan telinga kita untuk cacian dan gunjingan mereka. Bukan berarti kita harus tinggi hati jika pujian mengarah pada kita. Hanya kepada Allah, sepatutnya pujian di haturkan. Kita bisa karena Allah. Allah yang menggerakkan hati kita, meringankan langkah dalam berbuat kebaikan.

Cukup Allah menjadi saksi. Karena Allah yang Maha Tahu isi hati kita. Sedihkah atau bahagiakah.

Sebagai contoh dari beberapa berita yang saya baca. Negara Korea menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Menurut Organization of Economic Cooperation and Developmemt, sebanyak 21 orang dari 100 ribu orang Korea melakukan bunuh diri.

Seorang Psikologi dari universitas Yonsei-korea, Hwang Sangmin, mencoba menganalisis fenomena bunuh diri ini. Menurutnya, orang Korea memiliki konsep Yan, dimana setiap orang berusaha bersikap diam dan tabah walaupun dalam keadaan marah. Terutama untuk kaum selebritis, pencitraan melalui konsep Yan amat besar dilaksanakan. Jika sudah diambang batas, mereka cenderung putus asa dan akhirnya mengambil pilihan drastis untuk bunuh diri.

Itu karena di sana penilaian orang banyak menjadi tolak ukur yang utama. Image mereka ada di tangan orang banyak. Image mereka adalah kehendak orang banyak. Meskipun hal tersebut tak sesuai dengan hati nurani mereka. Terlebih bagi selebritas yang memiliki banyak penggemar. Mereka dituntut menjadi seorang yang perfeksionis.

Faktor lain, karakter orang Korea tergolong tertutup, sehingga para artis akan merasa malu jika ketahuan pergi ke konseling atau sedang depresi. Faktor agama juga tak kalah pentingnya. Hampir setengah warga Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mengalami depresi, penghargaan mereka terhadap kehidupan jadi rendah. Kepercayaan terhadap konsep reinkarnasi juga mendorong orang Korea mengakhiri hidupnya, dengan harapan kehidupan barunya akan lebih baik.

Akhirnya bunuh diri di anggap sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Untuk selebritas, segala prilakunya akan di contoh oleh penggemarnya. Fanatik yang berlebihan dalam mengidolakan seseorang, membuat masyarakat Korea akan mengikuti tiap prilaku yang di lakukan idolanya bahkan jika idolanya bunuh diri maka mereka akan mengikutinya. Para fans seolah terinspirasi, untuk mengakhiri suatu masalah adalah dengan jalan bunuh diri. Melihat permasalahan tersebut pemerintah Korea kini sedang menggalakkan adanya konseling untuk mengurangi populasi bunuh diri. Diharapkan dengan seperti itu masyarakat Korea mau membuka diri guna menceritakan masalahnya.

Bagi kita yang memiliki Allah sebagai penawar hati di kala kesedihan datang, melalui ayat-ayatnya yang berisi kabar gembira bagi orang yang sabar dan selalu menyerahkan segalanya kepada Allah maka tak patut kita berputus asa. Karena sesungguhnya hanya Allah tempat segala curahan rasa. Hanya Allah sebaik-baik tempat mengadu. Hanya Allah sebaik-baik saksi dari prilaku kita.

Fenomena yang terjadi Korea bisa diambil hikmahnya, membuka diri kepada seseorang yang di percaya untuk bertukar fikiran. Bukan berarti membuka aib atau mengabaikan Allah sebagai tempat mengadu. Tentu jika hal itu di lakukan dengan pertimbangan, bahwa kita melakukan ikhtiar dengan mencari perantara Allah untuk mencarikan jalan keluar dan tanpa berlebihan.

Semoga kita menjadi hamba yang selalu mengandalkan Allah dalam tiap gerak kita. MenjadikanNya sebagai saksi utama. KarenaNya kita berlaku bukan karena yang lainnya. Merasakan Allah selalu hadir lebih dekat dari urat nadi. Aamiin.

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathiir [35] : 10)

Mencari kemuliaan dan kebahagiaan dengan harta benda dan penilaian manusia pasti tak akan pernah di dapat, hanya melelahkan bathin dan semu belaka. Carilah kemuliaan di sisi Allah, di jamin bahagia, mulia yang asli dan kekal.—Aa Gym

Allahua’lam

rainkelana@yahoo.com

Nov
4th

Hukum Berkurban Bagi Suami Istri

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Hari Raya Idul Adha yang akan jatuh pada tanggal 6 November 2011, Minggu besok, kita sebagai umat Islam diharapkan dapat menyembelih hewan kurban saat pelaksanaan Idul Adha serta membagi-bagikannya kepada fakir miskin. Hewan kurban yang disembelih harus sempurna dan tidak memiliki cacat sedikit pun.

Semoga kita semua dapat ikut Berkurban di hari raya tahun ini, Bagi yang mempunyai keluarga (suami istri dan anak-anak) apakah kita mempersiapkan dana untuk kurban 2 orang yaitu Suami dan Istri, saya pernah membaca bahwa sebenarnya kurban itu hanya 1 untuk 1 keluarga. Jadi jika baiknya tetap saya jadikan 2 kurban untuk suami dan istri atau lebih bagus kurban 1 untuk keluarga kami ( punya 2 anak ) dan kelebihan uangnya kami sedekahkan atau kamu infaqkan ? mari kita simak penjeleasan tentang Kurban bagi Suami Istri dibawah ini.

kurban idul adha

Kurban merupakan ibadah yang disyariatkan didalam al Qur’an, as Sunnah dan ijma para ulama.

Firman Allah swt :

Artinya : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar : 2)

Sedangkan dari hadits-hadits diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari dari Anas dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban dengan dua domba putih yang bertanduk, beliau menyembelih dengan tangannya sendiri sambil menyebut (nama Allah) dan bertakbir, dengan meletakkan kaki beliau dekat pangkal leher domba tersebut.”

Juga apa yang diriwayatkan Ibnu Majah dari dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memiliki keluasaan (untuk berkorban) namun tidak berkorban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

Adapun hukum daripada kurban maka jumhur fuqaha, diantaranya para ulama kalangan Syafi’I dan Hambali serta pendapat yang paling kuat dari dua pendapat Malik serta salah satu riwayat dari Abu Yusuf bahwa berkurban adalah sunnah muakkadah. Ini juga merupakan pendapat Abu Bakar, Umar, Bilal, Abu Mas’ud, Suweid bin Ghaflah, Said bin al Musayyib, Atha, Alqamah, al Aswad, ishaq, Abu Tsaur dan Ibnul Mundzir.

Jumhur bersandar dengan berbagai dalil, diantaranya sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,”Jika telah masuk tanggal sepuluh (Dzul Hijjah), dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut (kepalanya) dan (rambut) badannya sedikitpun.”

Bagian yang menjadi dalil didalam hadits ini adalah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Dan salah seorang dari kalian ingin berkurban” maka hal ini bersandar kepada keinginannya. Seandainya berkurban itu wajib pasti cukup dengan sabdanya,”Maka janganlah ia menyentuh (memotong) rambut (kepalanya) dan (rambut) badannya sedikitpun.”

Dalil lain juga bahwa Abu Bakar dan umar pernah tidak berkurban dalam satu atau dua tahun khawatir hal itu dilihat sebagai sebuah kewajiban. Perbuatan keduanya merupakan bukti bahwa mereka berdua telah mengetahui dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bahwa berkurban bukanlah sebuah kewajiban. Dan tak satu pun riwayat dari sahabat yang berbedan dengannya. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II 1527 – 1528)

Terkait dengan satu sembelihan untuk keluarga maka hal itu bersandar dengan riwayat Imam Ahmad meriwayatkan dari dari Abu Rafi’ berkata: Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallam berkurban dua kambing gibas kelabu, ikal dan dikebiri, beliau bersabda: “Salah satunya untuk orang yang bersaksi dengan kalimat tauhid dan yang kesampaian seruan sedangkan yang lain untukku dan keluargaku.”

Ibnu Majah meriwayatkan dari ‘Atha bin Yasar dia berkata, “Saya bertanya kepada Abu Ayyub Al Anshari, “Bagaimanakah dengan hewan kurban kalian pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” dia menjawab, “Pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seseorang berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya sendiri dan keluarganya, lalu mereka memakan (sebagiannya) dan memberi makan kepada orang lain sehingga orang-orang pun bergembira karenanya. Dan hal itu terus berlanjut sebagaimana yang kamu lihat seperti saat ini.”

Namun disyaratkan bagi seorang yang berkurban mengatasnamakan dirinya dan keluarganya adalah mereka semua diharuskan tinggal dalam satu rumah bukan di rumah-rumah yang terpisah. Kemudian yang berkurban adalah orang yang selama ini memberikan nafkah kepada keluarga tersebut.

Dengan demikian jika suami anda yang menanggung nafkah anda selama ini maka dibolehkan bagi suami anda berkurban dengan seekor kambing mengatas-namakan dirinya dan anda. Adapun sisa dananya maka anda memliki kebebasan didalam memperlakukannya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Anda bisa gunakan untuk memnuhi kebutuhan keluarga anda, disedekahkan kepada orang yang membutuhkan, disedekahkan kepada orang yang belum berkurban agar dia berkurban dengan dana tersebut atau lainnya.

Pilihan ini bisa jadi lebih tepat daripada anda berdua sama-sama berkurban dengan masing-masing mengeluarkan satu ekor kambing dikarenakan selain anda berdua tetap mendapatkan pahala kurban meski dengan seekor kambing maka juga mendapatkan pahala membantu orang lain yang membutuhkan.

Oct
28th

Membiasakan Sedekah Sejak Dini

Files under Bengkel Hati | 3 Comments

Cerita berikut ini sangat menyentuh dan menarik untuk dibaca, ringan dan banyak makna yang bisa diambil dari cerita tentang Sedekah, cerita ini ditulis oleh Abi Sabila (http://www.abisabila.com) yang saya kutip dari era muslim, semoga bermanfaat buat kita semua.

Hasan, bocah lima tahun yang baru duduk di kelas TK, merasa heran dengan kebiasaan Bundanya, mengumpulkan uang pecahan seribu, lima ribu dan sepuluh ribuan. Uang-uang itu disimpan di sela-sela buku, di halaman yang terpisah. Tidak seperti kebiasaan Bunda menyimpan uang, buku tersebut sepertinya sengaja Bunda simpan di tempat yang mudah untuk mengambilnya sewatku-waktu. Karena penasaran, Hasan pun bertanya.

“Bunda, untuk apa uang-uang itu? Kok, dipisah-pisah?”

“Ini untuk bekal kita di akhirat, sayang!” jawab Bunda sambil sekali lagi memastikan jumlah uang di tangannya. Tiga puluh satu lembar pecahan seribu, empat lembar pecahan lima ribu dan dua lembar pecahan sepuluh ribu. Pas. Bunda terlihat lega.

“Bekal di Akhirat? Memangnya kapan kita ke Akhirat, Bunda?”

Belum sempat Bunda menjawab, dengan polos Hasan kembali bertanya.

“Akhirat itu di dekat Mekkah ya, Bunda?”

Mendengar pertanyaan sang buah hati, Bunda tersenyum. Anaknya memang kritis, sekaligus menggemaskan. Bunda meraih putra tunggalnya, mendudukan di pangkuannya dan mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang. Harum wangi shampoo balita tercium dari rambut sang bocah yang masih agak basah.

“Sayang…Akhirat itu bukan dekat Mekkah. Akhirat itu tidak di dunia ini. Alam Akhirat itu akan kita jumpai setelah kita mati.” Bunda mencoba memberi penjelasan yang bisa dipahami oleh bocah lima tahun itu.

“Kata Pak Ustadz, orang mati nda mbawa bekal apa-apa selain amal, Bunda! Untuk apa Bunda nyiapin uang-uang ini?” Hasan memprotes, menuntut penjelasan yang lebih bisa ia pahami.

“Betul sayang. Yang dibawa orang meninggal hanyalah amal. Seluruh harta, keluarga dan juga jabatan ia tinggalkan. Dan uang-uang ini tidak akan kita bawa kecuali setelah kita sedekahkan. Pahala dari sedekah inilah yang akan kita jadikan bekal nantinya.”

Hasan terlihat antusias mendengarkan penjelasan Bunda. Perlahan ia turun dari pangkuan Bundanya. Ia duduk tepat di sebelah Bunda, menunggu penjelasan berikutnya.

“Sebenarnya ini ide Ayah, sayang. Berawal dari membaca sebuah tulisan, Ayah kemudian mengajak Bunda untuk mempraktekan, menyisihkan sebagian dari rezeki yang Ayah dapatkan untuk diberikan kepada mereka yang hidupnya kurang beruntung.”

“Jadi Bunda memisah-misahkan uang ini untuk disedekahkan?” Hasan mulai paham. Kedua matanya terlihat berbinar-binar.

“Betul! Sebelum Bunda membagi-bagi uang yang Ayah berikan, Ayah selalu mengingatkan agar selain memisahkan anggaran untuk kita makan, bayar sekolah, bayar listrik, beli pulsa, dan lain-lain, termasuk juga uang jajan kamu, Bunda juga harus menyiapkan anggaran untuk kita sedekahkan. Mengikuti contoh yang diberikan dalam tulisan itu, Ayah dan Bunda sepakat untuk memisahkan uang-uang ini untuk sedekah harian, mingguan dan bulanan. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi setidaknya Ayah dan Bunda belajar untuk membiasakan bersedekah, setiap hari.”

“Aku nda pernah lihat ada orang minta-minta datang ke rumah kita, Bunda?”

“Ya, mungkin saja. Kamu sekarang kan sudah sekolah, jadi tidak tahu kalau ada peminta datang ke sini. Atau, kalaupun kamu di rumah, mungkin mereka datang saat kamu sedang tidur. Tapi yang jelas, Ayah dan Bunda berusaha untuk membiasakan bersedekah. Bisa kepada pengemis yang datang ke rumah, pengamen ataupun anak jalanan yang Bunda temui di jalan saat akan dan dari pasar atau mengantar jemput kamu ke sekolah.”

“Uang ini diberikan kepada mereka semua, Bunda?”

“Ya, tapi tidak sekaligus. Kan tadi Bunda sudah bilang, ada anggaran untuk sedekah harian, biasanya Bunda berikan kepada orang yang pertama kali datang atau Bunda temui di jalan. Kemudian sedekah mingguan, ini kalau kita sedang mengikuti pengajian setiap Minggu pagi. Biasanya Bunda atau Ayah akan memberi sedekah kepada lebih dari satu orang. Kamu ingat kan, banyak orang yang tidak memiliki penghasilan tetap yang memanfaatkan pengajian untuk mencari penghasilan. Tapi kita tidak perlu mempermasalahkan, bagaimanapun itu ladang amal buat kita. Dan yang terakhir, anggaran sedekah bulanan biasanya Ayah atau Bunda serahkan kepada majelis taklim atau mushola, tergantung kira-kira mana yang lebih membutuhkan. Atau kadang juga Ayah dan Bunda membaginya sama, untuk majelis taklim dan juga mushola” panjang lebar Bunda menjelaskan. Dari matanya yang berbinar, Bunda yakin buah hatinya bisa menerima penjelasannya.

“Kalau misal dalam sehari ada dua pengemis datang, bagaimana Bunda?” bocah kecil nan mengemaskan itu kembali bertanya, tanpa Bunda duga sebelumnya.

“Kalau ada, Bunda kasih dua-duanya. Terkadang dalam sehari tidak ada pengemis yang datang. Juga Bunda tidak pergi ke pasar sementara kamu berangkat sekolah ikut Ayah, jadi uang hari ini dikumpulkan untuk hari berikutnya. Ketika ada dua orang atau lebih yang Bunda temui, uang itu Bunda berikan. Tapi kalau Bunda sedang tidak ada uang receh, sementara ada peminta yang datang lagi, Bunda akan bilang baik-baik, minta maaf. Tapi setidaknya untuk hari itu kita sudah bersedekah. Selagi belum bisa menambah jumlah yang akan disedekahkan, minimal kita berusaha untuk istiqomah bersedekah.”

“Kata Pak Ustadz, kalau kita rajin bersedekah rejeki kita akan bertambah ya, Bunda?”

“Ya, betul! Bertambah jumlahnya, terutama juga barokahnya. Amin, insya Allah!”

“Kapan-kapan, aku saja yang ngasih sedekahnya ya, Bunda?” pinta Hasan. Kedua matanya berbinar, terlihat bersemangat.

“Insya Allah!” jawab Bunda sambil kembali memeluk dan mencium buah hatinya dengan penuh kasih sayang.

Sep
7th

Download Digital Quran, Al Quran, The Holly Quran

Digital Qurqan v1.0, terdiri dari 30 Juz dengan terjemahan dalam bahasa Melayu dan Inggris. Terdapat fasilitas pencarian, membaca baik melalui surat atau juz. Menggunakan teknologi Codec MP3 dalam format WAV. Untuk suara yang jelas dan akurat dan menggunakan tajwid mahraj. Program ini langsung dijalankan “autorun”. Bacaan ayat-ayat suci Al Quran dari Imam yang terkenal, Sheikh Mahmud Khalil Al Khusairi.

Indikator yang akurat teknologi telah diterjemahkan ke dalam dua bahasa pilihan, Melayu dan Inggris. Setiap kalimat dibaca harus disertai dengan terjemahan dalam bahasa Melayu / Bahasa Inggris (dengan pilihan Anda). Setelah selesai dengan terjemahan, Anda dapat membuat penunjuk ayat-ayat jika Anda ingin melanjutkan membaca kembali  di lain waktu. Program ini juga memiliki fasilitas untuk mencari ayat yang terkait dengan topik pilihan.

Anda bisa juga mencari berdasarkan indeks,  Sebagai contoh, ketika Anda mencari “bumi” dalam indeks ruang pencarian, semua ayat yang mengandung “bumi” akan terungkap dalam daftar yang sistematis untuk pemahaman yang lebih baik. Juga membuat lebih mudah untuk mengumpulkan koleksi ayat-ayat pilihan.

Microsoft windows 95/98/XP/2000/vista/7

Download The Holly Quran di http://oron.com/k7beyf8ammtg

holly quran

holly quran

Aug
26th

Mengejar Malam Seribu Bulan

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Ada anak bertanya pada Bapaknya, kapan malam lailatul qadar? Rupanya ia masih penasaran dengan ceramah ustadz sesaat sebelum sholat tarawih kemarin malam dimulai.

“Wallohualam. Hanya Allah yang tahu secara pasti,” Jawab sang ayah yang baru selesai tadarus Al Qur’an. “Tapi baginda nabi Muhammad SAW pernah memberitahu sahabat tentang tanda-tanda datangnya lailatul qadar. Diantaranya, malam itu terlihat cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Sebuah suasana yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata. Dan itu terjadi di malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan,” sang ayah menambahkan.

“Apakah kita bisa bertemu dengan lailatul qadar?”

“Insya Allah! Asal kita bersungguh-sungguh berusaha. Mencari dan mengejarnya.”

“Mencari dan mengejar? Mengapa harus demikian? Apa tidak semua orang Islam bisa bertemu lailatul qadar?” sang anak makin penasaran.

“Tidak! Tidak semua orang menyadari datangnya malam lailatul qadar. Hanya ahli ibadah yang menyadari kehadiran lalilatul qadar dan memanfaatkannya, meraih kemuliaannya dengan beribadah, mendekatkan diri kepada Allah.”

“Salah satu temanku pernah bilang kalau bapaknya pernah mendapatkan lailatul qadar. Hebat ya! Padahal, kata temanku itu, bapaknya baru rajin sholat setelah bulan Ramadhan datang. Menurut Ayah, benar nda sih apa yang temanku bilang?”

“Mungkin saja. Tak ada yang tak mungkin, jika Allah menghendakinya. Tapi tidak mudah untuk bisa mendapatkan malam lailatul qadar. Tidak bisa instant. Butuh persiapan dan usaha yang panjang. Bahkan, Ayah pernah dengar dari ustadz, bahwa orang-orang yang mendapatkan lailatul qadar, sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari. Setidaknya, memasuki bulan Rajab, mereka sudah mulai memfokuskan ibadahnya. Dan tak hanya itu, diluar bulan itupun ibadah mereka selalu terjaga.”

“Jadi, temanku atau bapaknya itu bohong?” tanya sang anak kecewa.

“Wallhoualam. Ayah tidak bilang begitu. Bisa saja dia benar-benar menyadari saat turunnya lailatul qadar. Tapi bisa juga hanya prasangkanya saja. Semua orang bisa mengaku telah bertemu atau melihat tanda-tanda turunnya lailatul qadar. Tapi menurut Ayah, kita bisa mempertimbangkannya terlebih dahulu sebelum mempercayainya. Bagaimanapun, tidak sembarang orang bisa dengan mudah mendapatkan malam lailatul qadar. Hanya mereka yang akidahnya murni, ibadahnya terjaga yang patut dipercayai omongannya. Lailatul qadar itu malam yang sangat itimewa. Pada malam itu, para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi, mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan Jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt, membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar. Ibadah di malam lailtul qadar pahalanya lebih besar dari pahala beribadah seribu bulan. Meski tidak ada yang mustahil bagi Allah, tapi kalau setiap orang bahkan yang ibadahnya asal-asalan bisa mendapatkan, lalu dimana letak istimewanya?” panjang lebar sang Ayah menjelaskan.

“Satu malam pahalanya lebih dari ibadah seribu bulan? Berarti sama dengan berapa tahun, Yah?”

Tak sabar menunggu jawaban, sang anak beranjak dari duduknya, mengambil kalkulator dari dalam laci meja belajar dan langsung menghitung. Seribu bagi dua belas.

“Lebih dari delapan puluh tiga tahun. Subhanallah!” kata sang bocah kemudian. Ia terlihat takjub. “Kalau begitu, orang yang bisa bertemu malam lailatul qadar itu beruntung sekali ya, Yah? Ibadah semalam sudah sama dengan ibadah lebih dari delapan puluh tiga tahun. Kalau dihitung-hitung, umur manusia rata–rata enam puluh tahun, masih ada sisa banyak tahun. Tidak perlu ibadah lagi, sudah cukup,” sang anak menghitung dengan logika matematikanya, tak sadar bahwa apa yang dia pikirkan adalah salah besar.

Mendengar itung-itungan anak tunggalnya, sang Ayah tersenyum sebelum menjelaskan.

“Begini, Nak. Ibadah di malam lailatul qadar memang pahalanya lebih banyak dari ibadah seribu bulan, atau menurut perhitunganmu tadi lebih dari delapan puluh tiga tahun. Tapi bukan berarti manusia tak perlu ibadah lagi.”

Sang anak meletakan kembali kalkulatornya. Terlihat kecewa.

“Kelak kita masuk syurga atau neraka adalah tergantung dari hasil hisab dosa dan pahala yang kita kumpulkan selama hidup, semenjak baligh dimana kewajiban agama melekat, hingga ajal menjemput. Orang yang mendapatkan malam lailatul qadar memang menjadi mulia, dinaikan derajatnya, mendapatkan pahala berlipat ganda, bahkan tak terhitung jumlahnya kecuali Allah yang mengetahuinya. Tapi bukan berarti setelah itu ia bebas dari kewajibannya sebagai seorang hamba. Ingat, tidak Allah ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah, beribadah kepada Nya. Kalau seperti yang kamu bayangkan, berapapun banyaknya pahala yang telah ia kumpulkan bisa habis terkikis oleh dosa yang ia lakukan. Timbangan amal yang tadinya berat bisa kalah berat oleh dosa-dosanya. Bukannya langsung masuk syurga, tapi singgah dulu di neraka.”

“Tapi tetap masuk syurga juga kan?”

“Insya Allah. Setiap yang beriman kepada Allah dan rasulNya, jaminannya adalah masuk syurga. Tapi apakah langsung atau ‘dibersihkan’ dulu di neraka, tergantung amal perbuatannya. Dan yang jelas, mereka para ‘ahli ibadah’, yang pernah mendapatkan malam lailatul qadar, perhitungannya tidak sama dengan perhitunganmu yang beribadah saja masih itung-itungan, merasa beramal sedikit sudah bangga, seolah sudah memegang kunci syurga. Mereka yang pernah mendapatkan malam lailatul qadar justru akan semakin tekun beribadah, berharap setiap tahunnya bisa bertemu dengan malam lailatul qadar. Tidak seperti kita yang belum tentu berjumpa tapi usahanya hanya sekedar saja.”

“Kalau sekarang, masih mungkin tidak untuk kita mendapatkan malam lailatul qadar?”

“Sudah Ayah bilang, tak ada yang tak mungkin, Allah Maha Kuasa, Maha Berkehendak. Yang terpenting, benahi diri, rapihkan ibadah dan meskipun kanjeng nabi memberi rambu bahwa lailatul qadar datang di malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, jangan berlaku curang, jangan pilah-pilih. Malam ganjil tekun ibadah, tapi malam genapnya kau justru dimana. Beribadahlah dengan tekun setiap malam, anggaplah lailatul qadar akan datang malam itu. Mohon kepada Allah agar kita diberi kesempatan meraih keistimewaan malam lailatur qadar, sedangkan hasilnya, serahkan sepenuhnya pada Allah.”

“Jadi begitu ya, Yah?”

“Ya! Cari dan kejarlah lailatul qadar. Jangan hanya berdiam diri. Bisa jadi kita dan mereka para ahli ibadah sama-sama melewati malam-malam yang sama, tapi apa yang kita lakukan dan kita dapatkan jauh berbeda.”

Oleh Abi Sabila

Aug
26th

10 Hari Terakhir Ramadhan

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Menuju akhir ramadhan rasa khusyuk itu mulai pudar dalam sebagian sanubari. Shaf-shaf masjid pun kembali kepada jemaah yang biasa shalat subuh di luar ramadhan. Habis tenaga mereka dengan kesibukan mempersiapkan hari raya kemenangan di pusat-pusat perbelanjaan.

10 hari terakhir ramadhan sebagian umat Islam tumpah ruah di pasar, mall, plaza, hanya sekedar untuk menghiasi raga. Berlomba berhias diri hanya untuk menunjukkan siapa yang paling meriah dalam menyambut bulan Syawal. Tapi mereka terlena akan mempercantik qalbu guna menjadi insan yang terlahir suci kembali.

Sepertinya budaya berlebihan dalam menyambut Syawal sudah mendarah daging. Kita lebih senang menjalankan agama yang sifatnya seremonial yang penuh dengan gagap gempita. Kita tidak terbiasa mencari makna atas sebuah kewajiban yang menjadi asas kenapa kewajiban itu diperintahkan. Kita lebih senang memperindah raga daripada jiwa sehingga tidak heran jika selepas ramadhan banyak orang yang berpakaian indah namun mereka lupa dengan masjid, al-Quran, dan kemulian yang lain dari agama Islam ini.

10 hari terakhir Ramadhan, alhamdulillah masih ada sebagian orang yang mengecangkan ikat pinggang dan menjauhkan lambungnya dari tempat tidur. Mereka semakin khusyuk berlomba mencari cinta Tuhannya. Pakaian mereka sederhana namun hati-hati mereka berkilauan karena semakin diasah oleh sujud dan tilawah. Harta mereka lebih dibelanjakan dijalan Allah dengan bersedakah, berinfaq dan zakat.

Semoga Allah memasukan kita kedalam golongan orang yang beruntung di bulan suci ramadhan dengan selalu mengikuti sunnah nabi-Nya.

Oleh Galih Ari Permana

Aug
26th

Ramadhan, Janganlah Cepat Berlalu

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Artikel Jumat kali ini dari seorang penulis yang bernama bidadari_Azzam semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan berguna bagi kita semua.

Kupandangi padang rumput hijau di dekat taman bermain anak-anak itu, lama. Mungkin kalian bingung, kenapa barisan rumput itu begitu menarik perhatianku.

Tapi begitulah kenyataannya, merasakan sesuatu yang sangat istimewa tatkala melihat keindahan rumput hijau nan segar menyejukkan mata, dan beberapa minggu lagi hijau itu akan berubah warna, mengering.

Sesekali hujan datang dan tanah becek. Serta sekian minggu berikutnya si padang rumput akan berubah menjadi padang salju, putih dan beku.

Memiliki pengalaman berbeda di belahan eropa adalah salah satu anugerah-Nya buat kami. Ketika mata menjadi saksi, hati berucap dzikrulloh, melihat perputaran empat musim yang tidak kita temui di negeri-negeri sekitar khatulistiwa.

Terasa cepat sekali perjalanan sang waktu, padahal siang dan malam yang hadir setiap hari merupakan hal yang dianggap ‘sangat biasa’ bagi kebanyakan orang. Melakukan rutinitas normal, kegiatan sehari-hari dan mungkin ada banyak orang yang berkeluh kesah menyatakan kejenuhan.

Sedangkan bagi seorang hamba-Nya yang wajib senantiasa bersyukur, di masa apa pun, musim apa pun, kala kondisi lapang maupun sempit, tentu inovasi kegiatan bisa dilakukan.

Masa jenuh atau bosan itu tak akan hadir dalam diri, kecuali sejenak jeda mengatur nafas dan memperbaiki kelurusan langkah. Allah ta’ala mengingatkan kita dalam ayat-Nya yang bermakna,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal; (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali-‘Imran[3] : 190-191)

Ramadhan ini adalah ramadhan kelima dalam hidup sister Zaynab. Yang ia rasakan tatkala telah memeluk Islam adalah kesegaran iman dan ketenangan dalam tujuan hidup dengan segala cita-citanya.

Disini pula letak perbedaan antara sosok seorang muslim dengan non muslim, kegiatan dalam mempelajari dan memperdalam agama-Nya merupakan ilmu dan hikmah yang amat besar. Mendekatkan diri dalam kedisiplinan belajar Al-Qur’an adalah point penting yang menjauhkan diri dari kejenuhan.

Sister Zaynab merupakan salah satu hamba-Nya yang terpilih ketika memasuki gerbang hidayah Islam, diawali dengan ketertarikan dengan Al-Qur’an. Apalagi di bulan ramadhan nan penuh dengan segala bonus-Nya, biasanya semangat belajar dan terus menggali ilmu akan makin bertambah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalammengatakan, “Siapa yang ingin berdialog dengan Rabbnya, maka hendaklah dia membaca Al-Quran.” (HR. Adailami dan Al-Baihaqi)

Jejak pijakan kaki terasa ringan melangkah ke majelis-majelis ilmu, pikiran jernih dan tenang, karena jaminan dari Allah ta’ala. Bahkan beliau yang baru mengenal islam malah mengetahui hadits rasul-Nya bahwa,

“Orang yang dalam dadanya tidak ada sedikit pun dari Alqur’an, ibarat rumah yang bobrok.” (HR. At-Tirmidzi)

Bagaimana dengan kalbu kita hari ini, terasakah begitu cepatnya hari-hari ramadhan? tautan ilmu-Nya masih terus diraba-raba, target pribadi masih belum tercapai, hal itu pun amat dirasakan oleh sister Zaynab.

Padahal, ramadhan syahdu ini amat berharga, bonus-bonus-Nya sepanjang waktu terhampar buat memudahkan setiap mukmin untuk menggapai ketakwaan.

Dalam tausiyah ramadhan banyak da’i-da’iyah mengingatkan kita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda,

“Umatku diberi lima keistimewaan pada bulan Ramadhan yang tidak diberikan kepada umat sebelum mereka : Bau mulutnya orang-orang puasa lebih wangi di sisi Allah dibandingkan bau minyak kasturi, setiap hari malaikat memintakan ampunan bagi mereka saat berpuasa sampai berbuka, Allah menghiasi surga untuk mereka kemudian berfirman, “Hamba-hamba-Ku yang saleh tengah melepaskan beban dan kesulitan maka berhiaslah”, setan-setan dibelenggu sehingga tidak bisa menggoda dan orang-orang puasa diampuni dosa-dosa mereka pada malam terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad, al-Bazzar, al-Baihaqi)

Subhanalloh… Namun tamu mulia itu selalu terasa hanya sebentar, oh ramadhan, janganlah cepat berlalu.

Duhai Ilahi, kami malu… Ramadhan indah yang Engkau curahkan samudera kenikmatan beserta bergulung reward-MU di dalamnya ternyata masih harus berlalu begitu saja. Kami masih tenggelam dalam kehinaan, bercoreng aib dan berlumur dosa, ampunilah kami, duhai Robbi…

Satu hal yang kusebut ‘amazing’ detik-detik ramadhan ini adalah tatkala diri ini berjumpa dengan para muallaf yang tinggal di Krakow, malah beberapa di antaranya, saya saksikan sendiri sebuah momen dahsyat tatkala syahadat yang mereka lafadzkan mengalir lancar dalam bermacam dialek yang sangat berbeda dengan kita.

Lantas saya berpikir, “Inilah salah satu hikmah ketika garis hidup dilalui, ‘terdamparnya’ kami di sudut eropa timur ini. Allah ingin mempertemukan saya dengan mereka…”. Insya Allah kisah beberapa di antaranya akan saya utarakan di artikel berbeda.

Selamat menggapai segala cita dalam kesempatan memaknai ramadhan kali ini, jika ini ramadhan terakhir kita, semoga inilah ramadhan terbaik yang kita capai.

(bidadari_Azzam, @Krakow,  Ramadhan 1432 H)