Mar
12th

Terorisme dan Skandal Century

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Isu terorisme yang tiba-tiba muncul di tengah hiruk pikuk pertarungan antara istana dan DPR terkait skandal Bank Century, mulai memunculkan kecurigaan publik bahwa ada pengalihan isu oleh pemerintah. Hal ini karena modus yang sama juga pernah terjadi beberapa waktu lalu.

Kecurigaan penutupan isu Century ini, memang butuh uji fakta yang lebih dalam. Tapi, publik seperti diperlihatkan pada kesimpulan ini ketika beberapa kasus serupa juga pernah terjadi.

Mungkin belum hilang ingatan publik tentang bom jilid dua di hotel Marriot Jakarta. Bom mengguncang pada bulan Juli di saat publik sedang gencar-gencarnya menyorot isu kecurangan pada pemilu 2009. Mulai dari isu penggelembungan suara, pemilih siluman tiba-tiba tergilas dengan bom Marriot.

Penembakan terhadap orang-orang yang diduga gembong teroris Dulmatin di kawasan Ciputat, perbatasan Jakarta Selatan dengan Tangerang, terjadi persis ketika SBY tiba di Australia untuk sebuah kunjungan kenegaraan.

Modus penumpasan terorisme yang dilakukan Densus 88 pun tak memunculkan kreativitas baru. Selalu berulang dengan modus yang sama : korban masih misteri, dihubung-hubungkan dengan Nurdin M Top yang hingga kini kematiannya masih mengundang kontroversi, adanya keraguan dari keluarga korban, dan tertutupnya proses otopsi oleh aparat.

Setidaknya, ada tiga keuntungan yang diraih pemerintah dalam isu pemberantasan terorisme yang muncul tiba-tiba ini.

Pertama, ada apresiasi dari para petinggi Australia yang begitu gencar menggaung-gaungkan isu terorisme, Alqaida, dan sejenisnya di kawasan Asia Tenggara yang notabene berkait erat dengan Islam radikal yang menjadi momok negeri kanguru ini.

Kedua, akan mengalir simpati yang luar biasa dari Washington yang dalam waktu dekat akan mengutus presidennya berkunjung ke Indonesia. Apresiasi ini menjadi ikatan kuat dalam mendukung program Amerika untuk memerangi terorisme Alqaida yang dimunculkan dalam perang membumihanguskan Irak dan Afghanistan. Tentu, selain apresiasi, akan ada proyek kerjasama yang menguntungkan Indonesia.

Ketiga, inilah yang begitu mencolok dalam fenomena isu di pemberitaan sebagian besar media massa. Isu terorisme ini, begitu efektif menutup sejumlah isu turunan dari skandal Bank Century yang mulai fokus pada nama Boediono dan Sri Mulyani.

Isu turunan yang tiba-tiba redup itu di antaranya, dugaan adanya barter kasus yang dilontarkan ICW soal keputusan akhir Century di DPR, penolakan paripurna DPR soal Perppu pengangkatan pimpinan KPK oleh presiden, kian kuatnya sinyal pencopotan menteri yang berasal dari partai koalisi yang dinilai membelot oleh Demokrat, dan tekanan publik agar DPR mengeluarkan hak pendapat atas keputusan Pansus Century yang mengarah ke wapres Boediono.

Mungkin, satu hal yang kerap dilupakan pemerintah bahwa publik sudah mulai cerdas untuk membedakan mana isu asli dan mana yang jadi-jadian. (eramuslim)

Mar
5th

Dua Waktu Tidur Yang Dilarang Rasul

Files under Bengkel Hati | 5 Comments

Tidur menjadi sesuatu yang esensi dalam kehidupan kita. Karena dengan tidur, kita menjadi segar kembali. Tubuh yang lelah, urat-urat yang mengerut, dan otot-otot yang dipakai beraktivitas seharian, bisa meremaja lagi dengan melakukan tidur.

Dalam Islam, semua perbuatan bisa menjadi ibadah. Begitu pula tidur, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dalam Al-Quran, Allah swt pun menyuruh kita untuk tidur. Namun, ternyata ada dua waktu tidur yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk tidak dilakukan.

1. Tidur di Pagi Hari Setelah Shalat Shubuh

Dari Sakhr bin Wadi’ah Al-Ghamidi radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

”Ya Allah, berkahilah bagi ummatku pada pagi harinya” (HR. Abu dawud 3/517, Ibnu Majah 2/752, Ath-Thayalisi halaman 175, dan Ibnu Hibban 7/122 dengan sanad shahih).
Ibnul-Qayyim telah berkata tentang keutamaan awal hari dan makruhnya menyia-nyiakan waktu dengan tidur, dimana beliau berkata :

“Termasuk hal yang makruh bagi mereka – yaitu orang shalih – adalah tidur antara shalat shubuh dengan terbitnya matahari, karena waktu itu adalah waktu yang sangat berharga sekali. Terdapat kebiasaan yang menarik dan agung sekali mengenai pemanfaatan waktu tersebut dari orang-orang shalih, sampai-sampai walaupun mereka berjalan sepanjang malam mereka tidak toleransi untuk istirahat pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Karena ia adalah awal hari dan sekaligus sebagai kuncinya. Ia merupakan waktu turunnya rizki, adanya pembagian, turunnya keberkahan, dan darinya hari itu bergulir dan mengembalikan segala kejadian hari itu atas kejadian saat yang mahal tersebut. Maka seyogyanya tidurnya pada saat seperti itu seperti tidurnya orang yang terpaksa” (Madaarijus-Saalikiin 1/459).

2. Tidur Sebelum Shalat Isya’

Diriwayatkan dari Abu Barzah radlyallaahu ‘anhu : ”Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membenci tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya” (HR. Bukhari 568 dan Muslim 647).

Mayoritas hadits-hadits Nabi menerangkan makruhnya tidur sebelum shalat isya’. Oleh sebab itu At-Tirmidzi (1/314) mengatakan : “Mayoritas ahli ilmu menyatakan makruh hukumnya tidur sebelum shalat isya’ dan mengobrol setelahnya. Dan sebagian ulama’ lainnya memberi keringanan dalam masalah ini. Abdullah bin Mubarak mengatakan : “Kebanyakan hadits-hadits Nabi melarangnya, sebagian ulama membolehkan tidur sebelum shalat isya’ khusus di bulan Ramadlan saja.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar berkata dalam Fathul-Baari (2/49) : “Di antara para ulama melihat adanya keringanan (yaitu) mengecualikan bila ada orang yang akan membangunkannya untuk shalat, atau diketahui dari kebiasaannya bahwa tidurnya tidak sampai melewatkan waktu shalat. Pendapat ini juga tepat, karena kita katakan bahwa alasan larangan tersebut adalah kekhawatiran terlewatnya waktu shalat.” (sa/berbagai sumber)

Mar
4th

Sidang DPR, Shalat di Ulur-ulur

Files under Bengkel Hati | 2 Comments

Alhamdulillah, kita belajar dari para wakil kita di TV. Bagaimana mereka rapat paripurna. Menyebut2 nama Allah, namun tidak tahu bahwa Allah sudah DATANG. Para mu-adzdzin, menyeru shalat, tapi mungkin suaranya tidak terdengar sampe ke ruang sidang yang mulia. Sayang bila tempat mulia dan bertujuan mulia, tidak mengenali Yang Maha Mulia, dan tidak memberi tempat buat Yang Maha Mulia. Semua mau bersuara dan diberi kesempatan bersuara. Bahkan marah ketika tidak diberi kesempatan. Tapi Allah Yang Maha Membungkam semua suara dengan kematian, tidak didengar seruan-Nya, panggilan-Nya

Semoga Allah memaafkan kita yang barangkali juga termasuk yang berkategori tidak mengenal Allah datang, senang membuat Allah menunggu kita lantaran tidak segera bergegas shalat, dan bahkan mungkin lalai shalatnya. Dan semoga kita bisa memperbaiki terus dan terus urusan fundamental buat hidup kita di dunia dan akhirat; yakni perkara shalat.

Waba’du, mesti adalah di antara mereka yang rapat itu, orang2 yang tetap istiqamah shalat di awal waktu. Mudah2an dengan adanya 1-2 yang melayani Allah, menyambut Allah, ketika datang-Nya di waktu shalat, akan sanggup membuat Allah menunda azab-Nya untuk bangsa ini. Doa dari semua buat semua anggota dewan dan seluruh pimpinan negeri ini

Salam, Yusuf Mansur

Feb
19th

Fakta Adzan Tidak Henti – hentinya diKumandangkan di seluruh dunia

Files under Bengkel Hati | 4 Comments

Sungguh menakjubkan seperti suaranya, dan nyata bagi umat muslim di seluruh dunia. Jika melihat pada peta dunia, kita akan menemukan bahwa Indonesia terletak di bagian Timur dari bumi. Pulau-pulau besar di Indonesia adalah Jawa, Sumatera, Kalimantan atau Borneo, dan Sulawesi atau Selebes.

Segera setelah waktu fajar tiba, pada bagian Timur dari Sulawesi, sekitar jam 05.30 waktu setempat, adzan Subuh berkumandang, ribuan muadzin mengumandangkan adzan. Proses ini berlanjut sampai ke bagian barat Indonesia.

Satu setengah jam kemudian setelah adzan di Sulawesi selesai, adzan mulai di Jakarta, kemudian Sumatera dan sebelum proses suara menyenangkan itu berakhir di Indonesia, adzan mulai berkumandang di Malaysia. Kemudian di Burma sekitar 1 jam setelah Jakarta mulai adzan, kemudian berlanjut ke Dakka, ibukota Bangladesh.

Setelah Bangladesh, berlanjut ke bagian barat India, dari Calcuta sampai ke Bombay dan seluruh India bergema oleh suara ‘proklamasi’ ini.

Srinagar dan Sialkot, sebuah kota di bagian utara Pakistan memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Quetta dan Karachi adalah 40 menit dan dalam periode waktu tersebut adzan Subuh terdengar di seluruh Pakistan.

Sebelum selesai di Pakistan, adzan mulai di Afganistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah 1 jam. Adzan berkumandang di Hijaaz al Muqaddas yang terdapat dua kota suci Mekkah dan Madinah, kemudian Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Perbedaan waktu antara Bagdad dan Alexandria di Mesir adalah 1 jam.

Kemudian adzan berlanjut ke Syiria, Mesir, Somalia, dan Sudan. Perbedaan waktu antara barat dan timur Turki adalah satu setengah jam.

Alexandria dan Tripoli, ibukota Libia memiliki perbedaan waktu 1 jam. Proses panggilan adzan berlanjut ke seluruh Afrika. Sehingga suara proklamasi dari Tauhid dan Risalah Nabi yang telah dimulai dari Indonesia hingga akhirnya mencapai Pantai Timur dari Samudera Atlantik memakan waktu 9 setengah jam.

Sebelum adzan Subuh mencapai Samudera Atlantik, adzan Zuhur telah dimulai di bagian timur Indonesia, dan sebelum sampai di Dacca Bangladesh, adzan Ashar telah dimulai.

Setelah mencapai Jakarta dalam waktu satu setengah jam kemudian waktu maghrib sampai di Sulawesi. Saat muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Subuh, muadzin di Afrika mengumandangkan adzan Isya.

Jika kita mempertimbangkan fenomena inisecara keseluruhan, kita dapat menyimpulkan suatu fakta yang menakjubkan, yaitu tidak ada sedetikpun waktu terlewat di dunia ini tanpa suara adzan dari muadzin di muka Bumi ini. Bahkan saat Anda membaca posting ini sekarang, yakinlah bahwa sedikitnya ada ribuan orang yang sedang mengumandangkan dan mendengarkan adzan.

Adzan itu terus berkumandang di muka Bumi dan langit ini selama-lamanya dan tiada henti-hentinya sedikitpun bersahut-saj=hutan selama 24 jam dalam sehari selama seminggu penuh, selama sebulan, sepanjang tahun, sampai hari akhir nanti Insya Allah, Subhanallah ….

Feb
12th

Ayah, Jadilah Sahabatku

Files under Bengkel Hati | 6 Comments

Renungan di Hari Jumat, semoga bermanfaat

Saya selalu senang mendengar cerita teman-teman saya tentang keluarga mereka. Ibu-ibu bercerita tentang anak-anak, tentang suami mereka, mertua atau tetanggga mereka. Tidak untuk menggosip atau membuka aib, tetapi untuk menyerap ilmu dan pengalaman berharga yang telah mereka alami tapi belum pernah saya rasakan.

Dari berbagai topik obrolan, yang paling menarik menurut saya adalah cerita keluarga dari sudut pandang seorang ayah.

Ada salah satu obrolan yang sangat berkesan buat saya, ketika seorang teman saya, sebut saja Pak Abi, ia bercerita tentang anak lelakinya yang sekarang sudah sekolah TK.

Suatu hari dia kewalahan menjawab pertanyaan anak sulungnya. Pasalnya, seorang pemuda tetangga mereka ditangkap oleh polisi dan penangkapan tersebut diiringi dengan tembakan peringatan. Medengar letusan senjata api Pak Abi berlari keluar untuk cari tahu tentang kejadian itu. Saat kembali ke rumah ia diserbu pertanyaan dari anaknya.

“Abi, tadi ada apa? Kok ada bunyi senapan?” tanya sang anak.

“Ada orang jahat ditangkap polisi,” jelas Pak Abi singkat.

“Siapa, Abi? Aku kenal nggak Bi?” kerjarnya penuh rasa ingin tahu.

“Orang belakang. Kamu nggak kenal.” ujar Pak Abi.

Tapi sang anak belum menyerah. “Namanya siapa sih, Bi? Biar aku tau.”

Kali ini dengan tegas Pak Abi menjawab, “Kamu nggak perlu tau!”

Dasar memang anak yang gigih, dengan cerdas ia kembali bertanya, “Memangnya Abi nggak suka kalau aku banyak tau?”

Dengan sabar Pak Abi melontarkan jawaban pamungkas. “Bukannya Abi nggak suka kamu banyak tahu, tapi nggak semua hal kamu harus tau.”

Cerita Pak Abi sampai disitu. Saya mendengar dengan serius dan sudah tidak sabar ingin bertanya.

“Pak, kenapa Bapak tidak kasi tau saja nama pemuda tersebut?” tanya saya. Saya benar-benar tidak mengerti, apa susahnya menjawab pertanyaan tersebut? Karena kalau saya berada di posisi Pak Abi, saya mungkin akan menyebutkan namanya dan ini menjadi alat yang saya gunakan untuk menakut-nakuti supaya dia tidak nakal.

“Kalau saya kasi tau, saya khawatir kejadian ini melekat dalam ingatannya. Ketika dia keluar rumah dan bermain dengan teman-temannya dia mungkin akan bercerita pada teman-temannya kalau Si X itu adalah orang Jahat.”

Saya mengangguk-angguk. Oh, begini rupanya cara mendidik anak, saya berkata dalam hati, mencoba mencerna semua penjelasan Pak Abi. Sesaat kemudian obrolan kami berganti topik. Giliran Pak Abi bertanya-tanya, mengapa anak-anak sekarang begitu berani bertanya, bahkan berani mendebat penjelasan orang tuanya.

“Padahal saya dulu waktu kecil pendiam. Nggak banyak ngomomong,” ujar Pak Abi.

Giliran saya yang memutar otak, “Mungkin karena dulu Bapak nggak ada kesempatan untuk banyak ngobrol dengan ortu kali, Pak?”

“Mungkin juga. Tapi saya rasa, karena sekarang saya memposisikan diri saya dengan anak saya adalah sebagai teman. Sementara dulu relasi saya dengan Bapak saya adalah relasi “Ayah-Anak”.

Saya mengangguk. Selama ini Pak Abi menurut saya adalah sosok ayah yang unik, dia membahasakan dirinya dan anaknya dengan sebutan “Aku dan Kamu”, bukan “Abi dan Kamu” atau “Ayah dan anak”. Awalnya saya merasa janggal, tapi saat itu saya melihat bahwa ini salah satu cara untuk meminimalkan kesenjangan dalam hubungan anak dan orang tua.

Tiba-tiba saya merasa iri. Saya membandingkan dengan diri saya, mengingat kembali bagaimana hubungan saya dengan Bapak. Tanpa mengurangi hormat dan bakti saya pada beliau, saya merasa “jarak” dengan Bapak terlanjur jauh. Jangankan menjadi “Teman”, menjadi “Ayah dan Anak” saja saya baru merasakannya setelah saya cukup dewasa. Nyaris tidak ada komunikasi antara saya dengan Bapak. Meski sekarang saya berusaha mengambil hati beliau, dan beliau juga tampak seperti ingin memiliki kedekatan dengan saya namun itu tidak pernah bisa menebus puluhan tahun waktu yang terlewat. Mengingat ini membuat mata saya hangat dan bertelaga.

Bila kelak Allah ijinkan saya memiliki anak-anak, saya ingin anak-anak saya menjadikan Ayah dan Ibu mereka sebagai teman dan sahabat pertama mereka sebelum mereka menemukan teman di tempat bermain atau di sekolah. Ketika sahabat mereka datang dan pergi silih berganti, mereka selalu dapat menemukan sahabat sejati menunggu di rumah, siap mendengarkan segala curhat mereka kapan saja dan tentang apa saja.

Saya kurang tahu, apakah menjadi ayah dari seorang anak laki-laki lebih mudah daripada menjadi Ayah dari seorang anak perempuan. Tapi apapun amanah yang Allah percayakan, semoga hanya saya anak perempuan terakhir di dunia ini yang pernah merasakan “berjarak” dengan ayahnya sendiri, dan tidak ada lagi ayah di dunia ini yang menyesal di hari tuanya karena hanya sedikit atau bahkan tidak mengenal putra-putri mereka.

Salam hormat buat Ayahanda tercinta, serta seluruh lelaki yang telah menjadi ayah. Kami, anak-anak perempuanmu, tidak hanya membutuhkan materi, tapi kami butuh pelukan, usapan di kepala atau sekedar sedikit waktu untuk menyawab pertanyaan kehidupan yang semakin pelik.

dari raya_fitrah@yahoo.com, eramuslim

Jan
29th

Masihkah Kita Mengeluh ?

Files under Bengkel Hati | 3 Comments

Jika kita sering mengeluh setiap hari, kurang ini kurang itu, coba lihat gambar-gambar dibawah ini.

Jika Anda merasa selalu hidup dalam tekanan, coba lihatlah mereka..

Jika Anda merasa pekerjaan anda sangatlah berat, bagaimana dengan dia??

Bila Anda merasa gaji anda sangat sedikit, bagaimana dengan anak yg malang ini??
miskin

Jika Anda merasa belajar adalah sebuah beban, contohlah semangat dia..

belajar

Jika Anda sempat merasa putus asa, ingatlah orang ini??

putus asa

Pantaskah kita mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan happy meal??

miskin

Jika Anda merasa hidup anda sangat menderita, apakah anda juga merasakan penderitaan seperti orang ini??
menderita

Jika Anda merasa hidup Anda tidak adil, bagaimana dengan dia??

tidak adil

Di saat kita kecil dimanja dan di sayang, manjakah mereka?

anak kecil

Tdk merasa bersalahkah kita masih selalu tidak mendengarkan bahkan melawan ibu kita?

ibu

Tanyalah ke dalam diri kita sendiri, dibandingkan dengan mereka, seberapa beruntungkah sebenarnya kita?

Masih pantaskah kita selalu mengeluh akan masalah-masalah “kecil” yang menimpa hidup kita?

Di saat kita dihadapi oleh berbagai rintangan dalam hidup, ingat, kita tidak pernah kehilangan opsi untuk tetap bersyukur..

Bukankah bersyukur merupakan cara paling mudah untuk mencicipi kebahagiaan??

Mari kita Renungkan Bersama..

Sumber Kaskus

Jan
22nd

Buat Apa Engkau Dilahirkan di Dunia?

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Jangan biarkan ide-idemu hilang begitu saja, tanpa catatan. Catatlah… tulislah walaupun hanya satu ayat, satu kalimat ! Idemu adalah hasil dari pemikiranmu yang datangnya bisa dengan tiba-tiba, bila tak dicatat, maka ide itu akan hilang dan tak dapat kembali lagi.

Jangan biarkan hasil pemikiranmu berlalu tanpa catatan, tinggalkan untuk generasi mendatang. Jasadmu boleh turkubur tanah, tapi idemu harus tetap hidup sepanjang jaman. Para tokoh masa lalu yang hidup berabad-abad yang lalu … tapi namanya masih tetap disebut orang, pemikiranya masih dikaji dan dipelajari orang. Padahal jasadnya ntah sudah jadi apa, tapi hasil pemikiranya yang ditulis, sampai sekian abad tetap ada dan mengabadi !

Tulislah, walaupun hanya satu ayat. “Sampaikan dariku walau hanya satu ayat” sabda Nabi. Satu ayat, satu kalimat yang punya makna… akan terus dingat manusia. Jangan ragu untuk memulai menulis, mulai dari satu kata : Bismillah ! …. teruslah menulis, kamu harus meninggalkan sesuatu untuk generasi di masa kini dan generasi di masa depan.

Kalau kau mati tidak meninggalakan apa-apa, maka buat apa kau dilahirkan ? Jadi jangan ragu … tulislah, walapun hanya satu kalimat. Tulislah walaupun hanya satu ayat dan tulisan yang sudah kau kirim atau di tulis di internet tak akan hilang dan terus akan tersimpan atau “mengabadi”.

Harta bisa hilang lenyap tanpa bekas, tapi ilmu yang ditinggalkan dan di wariskan, tak akan hilang, itulah uniknya ilmu, semakin dibagikan pada orang lain, semakin bertambah. Lain dengan harta, semakin dibagikan, semakin habis ! Kecuali harta yang di keluarkan di jalan Allah, seperti infak, sedekah, zakat dll, itupun jika memberikannya dengan ikhlas, bila tidak ikhlas, tidak dapat apa-apa dari Allah !

Wahai… sahabatku …. usiamu semakin mendekati kematian….umurmu semakin mendekati ajal, jangan biarkan berlalu tanpa ada ilmu yang kau wariskan bagi generasi yang akan datang. Tulislah wahai sahabatku, walaupun hanya satu ayat, walaupun hanya satu kalimat …., sekarang ! Jangan ditunda-tunda, siapa tahu besok hari kamu sudah tiada.

Tulislah … tinggalkanlah ilmu yang bermanfaat. Selagi umur masih ada, selagi napas masih bisa berhembus, selagi tangan masih bisa digerakkan, selagi pikiran masih bisa bekerja, selagi mata masih bisa melihat, selagi telinga masih mendengar, selagi hayat masih di kandung badan, selagi jari jemari masih bisa ngeklik kyboar tkomputer, selagi bonus umur masih tetap diberikan Allah, selagi keinginan dan kemauan ada, selagi minat masih menyala, selagi darah masih mengalir, selagi jantung masih berdetak, selagi mulut masih berkata, selagi kaki masih bisa berjalan, selagi karunia Allah masih kau terima, selagi air masih bisa kau minum, maka Tulislah !

Jangan biarkan ide-idemu hilang begitu saja. Di jaman orang yang serba berlari cepat, jangan sampai ketinggalan “kereta” harus ada sesuatu yang kamu tinggalkan yang sipatnya mengabadi, itulah ilmu atau tulisan yang disebarkan pada orang banyak. Salah satunya di eramuslim.com ini.

Bila tulisanmu di tolak atau tak dimuat, jangan membuatmu putus asa, jangan mengharap apa-apa, tugasmu hanya untuk berbagi, walau hanya satu ayat. Sampaikan walau satu ayat, sampaikan walau hanya sepotong ayat atau sepotong hadist.

Insya Ilmu atau apapun namanya, bila itu bermanfaat bagi orang lain itu sudah bernilai ibadah, jangan mengharap puluhan, ratusan, ribuan atau jutaan orang untuk membaca tulisanmu di tengah-tengah ” hutan belantara ” internet, yang memuat “nyaris” tak terhingga banyaknya tulisan.

Jangan muluk-muluk, satu dua orang sudah membaca tulisanmu dan satu dua orang itu berubah menjadi baik atau lebih baik dari sebelumnya, itu sudah cukup, karena berbuat baik pada seorang manusia, sama juga berbuat baik pada semua manusia, sebagaimana berbuat jahat pada seorang manusia, sama juga berbuat jahat pada semua manusia.

Sumber Syaripudin Zuhri Eramuslim