tes













Sep
3rd

Malam Lailatul Qadar

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Pada hari-hari terakhir ini Baginda Nabi SAW bersiaga penuh mengisi malam-malamnya, sampai-sampai beliau mengasingkan diri dari isteri-isterinya, beriktikaf di dalam Masjid, beribadah dan bermunajat kepada Allah SWT, sebagai kesempatan akhir “ngalap berkah” bulan Ramadhan. Tak heran seperti diriwayatkan oleh istri beliau Sayidah Aisyah bahwa Rasul SAW bersungguh-sungguh dalam beribadat pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan yang tidak dilakukannya pada bulan-bulan yang lain.

Timbul pertanyaan mengapa demikian? Mengapa Nabi SAW mendorong umatnya untuk melipatgandakan ibadah dalam waktu tersebut? Jawabnya singkat, karena pada malam-malam bulan Ramadhan tersebut, terutama pada malam-malam yang ganjil terdapat malam Lailatul qadar, malam kemuliaan yang sangat istimewa yang semua orang berlomba memburunya, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, sebagai bonus hadiah Tuhan bagi orang yang ikhlas mengabdi kepada-Nya.

Lailatul qadar ibarat benda elok yang sangat indah namun langka, tak heran jika tak mudah meraihnya, karena mahal harga belinya. Malam kemuliaan tersebut hanya dapat dibeli dengan pengorbanan jiwa raga, dengan amalan-amalan ibadah yang telah dituntun oleh Agama sepertimelakukan qiyamullail, berpuasa sesuai tuntunan, tilawah dan tadarus Al-Quran dengan tadabbur, berdoa, zikir, memperbanyak istighfar, muhasabah diri, perbanyak sedekah serta amalan ma’ruf lainnya untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya.

Lailatul qadar dirahasiakan, jelas sesuatu yang mahal dan langka tentu dirahasiakan dan tidak diobral, agar umat semangat berlomba memburunya, dan agar ibadat tidak hanya dilakukan pada waktu tertentu saja, namun pengabdian haruslah langgeng terus dilakukan semasih hayat masih kandung badan.

Merugilah kita yang luput dari peningkatan ibadah pada hari-hari sepuluh terakhir ini. Kebahagiaan mukmin sebenarnya bukan hanya karena akan mendapatkan bonus pahala lailatul qadar dan sejenisnya, namun kebahagiaan mukmin adalah saat dirinya mengabdi, mohon ampun, berserah dan tunduk kepada pencipta-Nya, karena itulah nikmat besar yang tiada taranya!

Sep
3rd

Kue Pahala

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Godaan sebagai seorang perempuan yang ingin berbelanja sesekali untuk membeli ini dan itu dalam merayakan lebaran yang tinggal 10 hari lagi ini , dan juga kesibukan lain yang penanganannya harus disiapkan, seperti kue-kue kering, rendang serta bukaan puasa untuk anak-anak serta suaminya yang hanya menginginkan buatan Aisyah sendiri tanpa membeli di luar rumah. Namun dari itu semua yang terpenting adalah keinginan yang tinggi dari Aisyah untuk mengkhatamkan Al Quran berkali-kali seperti yang dilakukan kawan-kawan halaqohnya. Selain itu, motivasi dari suaminya membuat Aisyah menjadi kelabakan dan kewalahan untuk mendahulukan pekerjaan yang mana. Baginya semuanya penting bagi seorang wanita yang pengasih dan sayang keluarga seperti Aisyah.

Betapa inginnya Aisyah mencari baju lebaran buat anak-anak dan suaminya, tidak perlu yang mahal, yang penting manis, pantas dan enak dipakai. Toh hanya setahun sekali dipakainya dan betapa nikmatnya melihat suami dan anak anaknya berebut kolak dan sayur asem buatan Aisyah ketika mereka berbuka puasa dirumah. Selain itu Aisyah sangat ingin memasak rendang sendiri dengan bumbu yang tidak pedas serta kue-kue kering yang lucu untuk anak-anaknya. Aisyah juga ingin sekali melihat mata anak-anaknya berkedip-kedip menikmati gula salju yang meleleh didalam mulut bersama kue putih salju buatananya yang tidak dapat ditandingi oleh kue buatan toko sekalipun. Namun hentakan semangat untuk mengkhatamkan dan mentadabur Al Quran di penghujung ramadhan membuat Aisyah merasa harus memilih mana yang nyaman bagi dirinya dan keluarganya.

Semua itu kembali kepada Aisyah, karena semuanya adalah ibadah. Namun bila Aisyah tahu bahwa Imam Syafe’i sampai menghentikan majelis ilmunya hanya khusus mengkhatamkan Al Quran saja ketika ramadhan tiba dan bagaimana para sahabat ada yang menghabiskan bacaan Al Quran dalam waktu 3 hari saja serta ada juga yang 7 hari dan seterusnya, maka betapa Aisyah sebaiknya mengkhususkan dirinya kepada bacaan Al Qurannya saja. Toh baju lebaran bisa dibeli dimana saja, rasanya pun hanya sekilas saja karena anak-anak tak begitu memperhatikan baju yang dipakai walaupun berbeda dengan sehari hari, mereka akan gunakan juga asalkan warnanya sesuai dengan jiwa kekana-kanakannya Insya ALLah mereka mau pakai.

suami dan Aisyah sendiri, kan sudah dewasa jadi tidak perlu baju baru, cukup gunakan baju yang bersih dan spesial serta gunakan pengharum molto saja atau sesekali boleh bawa baju terbaik ke laundry agar nyaman dan enak dipakai. Maka hal ini akan terasa beda, juga untuk kue-kue kering, buatlah dari sebelum ramadhan, kan bisa disimpan lebih dari sebulan asal tahu cara membuatnya dan soal rendang buat penganan lebaran, dunia ini tak selalu indah, dan langit tak selalu cerah, tidaklah semua yang kita inginkan ideal di muka bumi ini harus kita lakukan dan kita dapatkan.

Poor, Aisyah (kasihan aisyah..), ayo.. bersegeralah.., ramadhan tinggal 10 hari lagi, gunakanlah waktu ini untuk mendekatkan diri kepada Al Quran, mari kita tingkatksn ibadah sekhusyu mungkin agar mendapat malam yang lebih baik dari 1.000 bulan…” akhirnya bisikan hati nurani Aisyah memenangkan segalanya?. (yusuf mansur)

Aug
25th

Bulan Training

Files under Bengkel Hati | 5 Comments

Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan orientasi, Kita menginginkan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan.

Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus.”

Hal itu karena orientasinya keliru. Ia tidak tahu hikmah di balik keagungan bulan Ramadhan. Salah satu dari sekian banyak hikmah Ramadhan yang sering dilupakan orang adalah fungsinya sebagai pembangkit semangat hidup. Ramadhan sesungguhnya adalah bulan motivasi (syahrul hamasah). Ramadhan semestinya mampu menjadikan setiap muslim yang beribadah di dalamnya menjadi termotivasi hidupnya.

Coba kita lihat apa yang terjadi pada diri nenek moyang kita (para sahabat dan ulama sholihin) setelah ditempa Ramadhan. Mereka menjadikan Ramadhan sebagai ajang pembakaran semangat yang membara. Sejarah mencatat dengan tinta emas sepak terjang mereka yang produktif. Banyak orang yang tak tahu, karena memiliki motivasi yang tinggi, umat Islam terdahulu menjadi penguasa dunia selama lebih kurang 14 abad. Lebih lama daripada kejayaan Eropa. Apalagi dari Amerika yang baru berjaya di akhir abad ini.

Kejayaan Islam yang demikian lama di masa lalu tak bisa dipisahkan dari semangat nenek moyang kita untuk selalu bersemangat dan produktif dalam berkarya. Beberapa contoh bisa disebutkan di sini. Ibnu Jarir, misalnya, mampu menulis 14 halaman dalam sehari selama 72 tahun. Ibnu Taymiyah menulis 200 buku sepanjang hidupnya. Imam Ghazali adalah peneliti di bidang tasawuf, politik, ekonomi dan budaya sekaligus. Al-Alusi mengajar 24 pelajaran dalam sehari. Sedang Jabir bin Abdullah rela menempuh perjalanan selama satu bulan demi mendapatkan satu riwayat hadits. Fatimah binti Syafi’i pernah menggantikan lampu penerangan untuk ayahnya (Imam Syafi’i) sebanyak 70 kali.

Semangat mereka terangkum dalam perkataan Abu Musa Al-Asy’ari ra.yang pernah ditanya oleh sahabatnya, “Mengapa Anda tidak pernah mengistirahatkan diri Anda?” Abu Musa menjawab, “Itu tidak mungkin, sesungguhnya yang akan menang adalah kuda pacuan!” Suatu ungkapan indah yang menggambarkan semangat yang membara, jiwa yang selalu ingin berkompetisi, berani dan pantang menyerah.

Semangat Itu Ada di Depan Kita

Semangat nenek moyang kita yang luar biasa dalam beramal tak bisa dilepaskan dari orientasi mereka yang benar terhadap fungsi ibadah dalam Islam, termasuk fungsi ibadah Ramadhan sebagai ajang melejitkan motivasi (achievement motivation training). Beda dengan kebanyakan kaum muslimin saat ini yang lebih memahami ibadah Ramadhan sebagai kegiatan seremonial dan tradisi tanpa makna.

Beberapa bukti yang menunjukkan fungsi Ramadhan sebagai bulan pemotivasian adalah:

1. Shaum (puasa)

Tahukah Anda bahwa kekuatan semangat dapat mengalahkan kekuatan fisik? Itulah yang Allah latih kepada kita di bulan Ramadhan. Selama sebulan kita dilatih untuk mengalahkan nafsu yang berasal dari tubuh kasar kita; nafsu makan, minum, dan seksual. Kenyataannya, di bulan Ramadhan kita mampu mengalahkan tarikan nafsu demi memenangkan semangat ruh kita.

Sayangnya, latihan itu tidak dilanjutkan dalam skala kehidupan yang lebih luas dan dalam waktu yang lebih lama setelah Ramadhan, sehingga banyak di antara kita yang hidupnya tidak bersemangat dan produktif dalam beramal. Padahal kunci motivasi itu adalah kemampuan mengalahkan kekuatan fisik. Itulah yang kita lihat pada diri Abdullah bin Ummi Maktum ra.yang matanya buta tapi ngotot untuk ikut berperang bersama Rasulullah. Juga pada diri Cut Nyak Dien atau Jenderal Sudirman, yang pantang menyerah kepada pasukan kolonial walau dalam kondisi sakit parah.

2. Tarawih

Ramadhan sebagai syahrul hamasah juga terlihat dalam pelaksanaan sholat tarawih. Sholat tarawih artinya sholat (di waktu malam) yang dilakukan dengan santai. Di zaman sahabat, sholat tarawih biasa dilakukan sepanjang malam. Dengan bacaan yang panjang dan diselingi juga dengan istirahat yang lama. Bahkan pernah dalam satu riwayat, para sahabat melakukan sholat tarawih berjama’ah sampai menjelang subuh.

Hikmah dari ibadah tarawih yang dilakukan dengan santai dan tidak terburu-buru adalah untuk membentuk watak kesabaran dan ketekunan. Kita tahu, kesabaran dan ketekunan adalah kunci dari motivasi. Tidak mungkin seseorang itu termotivasi dan produktif berkarya tanpa memiliki sifat sabar dan tekun. Watak inilah yang dimiliki oleh nenek moyang kita, sehingga mereka menjadi umat yang jaya di masa lalu.

Hal ini berbeda dengan pelaksanaan sholat tarawih di masa kini. Di mana waktunya tidak lebih dari 1-2 jam. Bahkan seringkali dilakukan tergesa-gesa. Hikmah tarawih sebagai ibadah yang melatih watak kesabaran dan ketekunan menjadi hilang, sehingga lenyap pulalah salah satu sarana pelatihan umat Islam untuk menjadi orang yang termotivasi hidupnya.

3. I’tikaf

Sarana lain yang disediakan Allah SWT untuk membentuk ruh semangat adalah i’tikaf. Ibadah i’tikaf berarti diam menyepi (untuk mengingat Allah) dan meninggalkan kesibukan duniawi. Bagi laki-laki, i’tikaf dilakukan di masjid. Sedang bagi perempuan dilakukan pada ruangan khusus di rumahnya.

Nabi Muhammad saw tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf ini sepanjang hidupnya. Hal ini juga dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang sholih sepeninggal beliau. Sudah menjadi hal yang lazim di masa nenek moyang kita bahwa setiap Ramadhan masjid penuh dengan orang-orang yang i’tikaf.

Bandingkan dengan kondisi sekarang. I’tikaf menjadi ibadah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin. Padahal ibadah ini sangat penting untuk kontemplasi diri. Dalam i’tikaf, kita melakukan uzlah (pertapaan) sebagai modal penting untuk bangkit dari keterpurukan atau sebagai momen untuk berubah. Nabi Muhammad saw berubah d”>ari manusia biasa menjadi manusia luar biasa (nabi) setelah uzlah ke Gua Hiro. Lalu Allah menggantikan sarana uzlah tersebut dengan i’tikaf untuk kita. Agar kita meniru perubahan menjadi manusia luar biasa tersebut seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad saw.

Allah meminta kita agar mengulangi momen uzlah tersebut setiap tahun, sehingga kita selalu termotivasi untuk berubah semakin baik dari tahun ke tahun. Dari bulan ke bulan. Bahkan dari hari ke hari. Nabi saw bersabda, “Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemaren, ia celaka. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemaren, ia merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari kemaren, ia beruntung.”

Ramadhan sebagai bulan pemotivasian seharusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kita semua. Sungguh beruntunglah mereka yang menggunakan Ramadhan sebagai ajang peningkatan motivasi hidupnya. Lalu dengan modal Ramadhan ia mengisi hari-harinya di luar Ramadhan dengan semangat yang membara untuk beramal melesat ke angkasa kemuliaan.?

Aug
23rd

Miskin & Taqwa

Files under Bengkel Hati | 4 Comments

Ketika sore menjelang maghrib, sebuah keluarga yang akan berbuka, tetapi mereka hanya dapat duduk, termangu. Sang ayah, hanya dapat memandangi keluarganya, isteri, anak, dan seorang cucunya. Keluarga itu tidak jauh dari Jakarta. Seperti sedang bingung. Karena, nyaris tak ada hidangan yang dapat di santap, saat berbuka. Itu peristiwa Ramadhan tahun lalu, sebuah keluarga yang kurang berhasil dalam hidupnya.

Maghrib, keluarga yang miskin itu, hanyalah dapat menikmati hidangan, singkong rebus, dan tempe. Masing-masing hanyalah makan tiga potong singkong dan sepotong tempe. Barangkali itulah hidangan satu-satunya yang dinikmatinya saat berbuka.

Kehidupan memang tidak ramah bagi orang-orang yang miskin diperkotaan. Kehidupan mereka tentu sangat berbeda, terutama bagi mereka yang dapat menikmati buka puasa di hotel-hotel yang mewah, yang menyajikan bebagai menu.

Entah sudah berubah atau belum nasib keluarga itu? Mungkin tidak, dan tetap miskin. Karena, kepala keluarga itu, hanyalah seorang kuli galian, yang tidak mungkin nasibnya dapat berubah dengan mendadak. Tetap saja. Setiap pagi berjalan kaki mengelilingi komplek, dan terkadang duduk dipinggir jalan, menunggu siapa yang saja akan memperkerjakannya. Terkadang, seharian tidak ada yang mengajak bekerja. Entah bagaimana nasib selanjutnya.

Hanya saja seperti yang pernah diucapkannya, kehidupan yang dialami itu sudah berlangsung dalam waktu yang lama. Nasibnya tak hendak berubah. Isterinya menjadi buruh cuci, di tetangganya dengan gaji Rp 300.000 rupiah setiap bulan. Tidak cukup untuk membiayai anaknya yang masih duduk di bangku sekolah SD. Menantunya seorang buruh, yang baru saja terkena PHK, dan belum mendapatkan pekerjaaan lagi. Sekarang pabrik-pabrik sangat jarang mau menerima pekerja laki.

Suatu malam menjelang pukul 03.00 dini hari, saat akan melakukan sahur, ibunya hanya mampu menyuguhkan menu yang tetap, singkong dan tempe, bagi mereka yang berlima. Tentunya, mereka harus tetap berpuasa, dan menahan keinginan untuk makan yang lebih enak, seperti telur dan daging.

Kehidupan keluarga itu, hanya dapat memakan daging, barangkali hanyalah setahun sekali, saat di bulan haji, yaitu Idul ‘Adha. Tetangganya masih ada yang berbaik hati, memberikan daging korban. Selebihnya tidak pernah lagi merasakan daging.

Entahlah bagaimana kehidupan di bulan Ramadhan tahun ini? Keluarga itu sangat bersahaja. Kehidupan yang dihadapinya penuh dengan derita. Keluarga itu tidak berpendidikan. Anak-anaknya hanyalah lulusan SMP atau SD. Anaknya yang baru lulus SMP, bekerja di sebuah loundry (tempat perusahaan cuci/strika), sehari hanya digaji Rp 10.000 rupiah. Terus setiap hari disuruh mencuci karpet. Tidak kuat pisiknya, dan akhirnya keluar dari tempat kerjanya. Anak perempuannya dipecat dari pabrik, karena tidak masuk kerja, gara-gara anaknya yang masih kecil sakit.

Seperti sudah menjadi rutinitas setiap tahun menjelang Ramadhan, semua harga kebutuhan pokok langsung melambung. Tidak ada kebutuhan pokok, yang harganya stabil. Semua naik. Apalagi, sekarang ini kenaikan itu dipicu dengan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), dan para penimbun dan pengusaha dengan sikapnya yang mereka miliki, sudah menaikkan harga-harga yang ada. Kenaikkan TDL itu menjadi dasar alasan mereka untuk menaikkan harga-harga kebutuhan pokok. Semuanya mencekik rakyat kecil, yang tanpa penghasilan yang jelas.

Tetapi, semuanya masa bodoh, tidak peduli, dan kehidupan tetap berlangsung. Orang kaya dengan gaya hidupnya sendiri. Tetap menikmati gaya hidup kelas tinggi, di hotel, cape, apartemen, dan hidangan yang serba mewah, bahkan makanan mereka tersisa, dan dibuang, dan menjadi rebutan orang-orang miskin, yang mencari sisa-sisa makanan di bak-bak sampah.

Negeri yang tidak memiliki belas kasihan kepada orang-orang miskin, dan membiarkan orang-orang miskin dengan kehidupannya sendiri. Kembali mereka menjelang Ramadhan hanya dapat menikmati singkong dan tempe, yang mereka gunakan berbuka dan sahur.

Ketakwaanlah yang membangkitkan hati sehingga bisa dan mampu melaksanakan kewajiban puasa. Taqwa juga yang menjaga hati dari kemaksiatan yang merusak puasa. Taqwa manjadi tujuan akhir dari jiwa dan puasa merupakan jalan menujunya. Inilah ungkapan indah al-Quran dengan kalimat la allakum tattaqun (agar kamu menjadi orang yang bertakwa).Ibadah puasa menjadi titian menuju dermaga takwa. Ketakwaan merupakan jelmaan dari bentuk pengakuan akan status kehambaan seorang manusia kepada Tuhan. Ketakwaan merupakan pakaian dan keimanan, karena iman tidak akan memiliki nilai, bobot, dan makna apa pun jika tidak ditutupi dengan busana taqwa. Di sinilah tepatnya ungkapan al-iman uryan walibasuhu al-taqwa (iman itu telanjang dan busananya adalah takwa). Dengan demikian, para ulama mendefinisikan takwa menjadi kepatuhan, dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Puasa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari takwa yang terakumulasi dari terjemahan titah transendental Tuhan. Secara etimologi (lughawi), puasa (al-shaum) memiliki arti al-imsak (menahan). Pengertian spesifiknya (istilah) adalah menahan diri dari makan dan minum dan segala yang membatalkan puasa, dari mulai terbit fajar hingga tenggelamnya mentari. Ini artinya, berpuasa adalah usaha menahan diri dari perilaku konsumtif yang terlambangkan oleh perut dan tenggorokan.

Puasa adalah pengendalian diri sikap hedonistis dan berlebihan, yang tersimbol dari keinginan nafsu yang tidak bermuara. Adalah maklum bahwa segala keinginan perut jelas tak mungkin untuk dibatasi, karena Rasul sendiri sudah menganalogikan perut dengan bumi. Jika bumi menerima segala apa pun yang tertumpah di atasnya, perut juga menampung apa saja yang dimasukkan ke dalamnya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya Minhaj al-Abidin menulis, perumpamaan yang indah tentang urgensi mengendalikan perut. al-Ghazali mengulas ungkapan teks hadits yang disabdakan Rasul, “Jangan matikan hatimu dengan banyak mengkonsumsi makanan dan minuman, karena hati akan mati seperti tanaman yang mati karena kebanyakan air siraman”.

Dari sabda Rasul ini, para shalihin (orang-orang saleh) mengumpamakan lambung seperti kuali yang berada di bawah hati. Kuali itu selalu mendidih dan asapnya menerpa hati. Jika kebanyakan asap yang menyelimuti hati, ia akan mengeruh dan menghitam. Jika hati selalu keruh dan hitam, kejahatan menjadi kawan sejolinya. Syahwat duniawi menutupi gumpalan hati hingga mematikan nurani.

Aug
22nd

Ramadhan Maksimal

Files under Bengkel Hati | 5 Comments

Datangnya Ramadhan bagi orang Mukmin adalah laksana ‘kekasih’ yang sangat ia rindukan; dengan sukacita ia akan menyiapkan segala sesuatu yang dapat mengantarkan perjumpaan menjadi penuh makna, berkesan dalam dan senantiasa melahirkan harapan-harapan mulia.

Sebagai seorang Muslim yang cerdas, kita perlu strategi juga dalam memasuki Ramadhan. Dengan tujuan agar mendapatkan nilai ibadah dan ilmu yang maksimal di bulan Ramadhan sehingga kita nanti bisa ‘benar-benar’ sedang dijalan ketaqwaan. Seterusnya, tidak hanya selesai di bulan itu sajah!

Didalam semua urusan, kita wajib mengerjakan dengan maksimal. Termasuk di bulan Ramadhan, sangat mungkin 99,9% kita tidak akan bertemu bulan itu di tahun mendatang. Alias telah datang ‘Sang Pemutus Segala yang didunia’ (baca:mati). Nah, mari kita cermati beberapa hal sebelum memasuki bulan Ramadhan beberapa puluh jam lagi.

1. Mengetahui Ilmunya

Pelajari Hukum-hukum semua amalan ibadah di bulan Ramadan.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(TQS. AL Isra :36)

Brosur yang telah berkali-kali dikeluarkan MTA patut dan harus dibaca kembali. Catatan2 kajian tentang puasa dibuka lagi. Termasuk tanja jawab mengenai serba-serbi puasa. Apa itu fidyah? apa itu Sahur? bagaimana doa pas berbuka yang benar? Gimana kalau haid, nifas, menyusui dst.

Sehingga kita akan makin mantap memasuki bulan Ramadhan dengan pelbagai amalan. Seperti yang Al Ustadz pesankan ahad lalu ..jangan sampai puasa itu hanya dapat lapar dan hausnya dikarenakan tidak mengerti atau tidak mau mengerti.

2. Hindarkan dari perbuatan syirik, hura-hura, ibadah tidak berdalil dan tidak bermanfaat

Kadangkala masih banyak disekitar kita menyambut memasuki bulan puasa dengan hal2 yang tidak dituntunkan. Padusan, sadranan atau ritual lainnya yang tidak dituntunkan harus ditinggalkan. Hindari pemborosan dan kesia-sia-an. Bagi yang ingin pemanasan ibadah, silahkan amalkan puasa sebanyak-banyaknya di bulan Sa’ban (tentunya dengan niat yang benar).

3. Buatlah Jadwal selama sebulan tersebut

Hal yang bagus jika kita mempunyai perencanaan yang matang. Kapan harus nafar, kapan harus kajian, iktikaf, zakat fitrah dsb. Termasuk amalan2 harian seperti sholat sunnah, tilawah, membaca kitab dsb. Jangan sampai waktu puasa habis untuk tanpa nilai ibadah. Termasuk juga bermuamalah dan bersedekah, jangan lupa!

Akan lebih baik pula ada semacam target2 ibadah. Ini akan menjaga konsistensi (istiqomah) dalam segala hal termasuk diluar ramadhan. Jangan semangat pas awal2nya saja, setelah itu hanyut menyambut hari kemenangan. Dimana sebagian orang menafsirkan sebagai hari kebebasan, bebas tidak susah karena puasa:(

4. Persiapkan Kondisi dan Ekonomi

Kesehatan harus selalu dijaga. Jangan sampai sakit, karena kalo dah sakit akan repot dan terasa berat untuk menjalankan ibadah. Nggak enak banget pas hari pertama malah sakit.

Saya salut dengan teman2 pedagang makanan yang leren (berhenti sementara) . Mereka meniatkan diri untuk total beribadah tidak terganggu dengan hingar bingar mencari rupiah. Konsekuensinya adalah menyiapkan semua itu sebelum puasa.

Bagi yang memang terikat bekerja. Harus tetap bersemangat dan produktif dalam kerja. Bukan malah aras-arasen dengan dalih puasa. Kita tunjukkan kepada ummat lain, bahwa puasa itu membawa semangat baru. Bukankah kemenangan2 Rosululloh SAW beserta shahabatnya banyak terjadi di bulan Ramadhan.

5. Sambut dengan gembira dan rasa syukur.

Kalau perasaan yang muncul bukan yang itu. Maka akan menjadikan beban baru dalam menyelesaikan bulan puasa, padahal kalo kita faham dan mengerti. Itulah bulan yang ditunggu-tunggu. Bulan untuk menempa diri kembali untuk menuju pribadi Taqwa. InsyaAllah

Kita tidak tahu kapan jatah kita berakhir, dan ramadhan mana yang menjadi penutup dari ramadhan-ramadhan yang telah kita lalui, mungkin lima atau sepuluh tahun lagi Ramadhan terakhir itu yang akan kita jumpai. Tetapi mungkin pula, justru Ramadhan tahun inilah penutup kebersamaan kita dengan bulan Ramadhan, atau barangkali justru kita tidak punya kesempatan menyambut datangnya bulan yang penuh dengan kemuliaan tesebut, kita tidak tahu, semua kembali kepada Allah yang Maha Kuasa yang mengatur segalanya.

Saudaraku, Jika Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk menyambut dan merayakan datangnya bulan Ramadhan, bulan  yang penuh rahmat dan pahala, dengan kegembiraan serta iman yang teguh, selayaknyalah benar-benar kita manfaat moment ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan tahun-tahun yang lalu yang harus kehilangan bulan Ramadhan tanpa meninggalkan bekas di hati, jiwa, ibadah dan amal kita. Ia Pergi meninggalkan kita , sedangkan kita belum sempat berbuat apa-apa. Inilah kondisi yang umum terjadi menerpa kita.

Marilah kita manfaatkan Ramadhan kali ini dengan meminimalkan kesalahan dan kegagalan kita pada Ramadhan lalu, berikut ini kiat-kiat yang bias kita lakukan :

1.      Tak ada yang tahu batas usia kita.

Kebersamaan bersama Ramadhan tidaklaha selamanya dan kesempatan itu terbatas yang datang hanya setahun sekali, sebatas hidup kita di dunia. Itupun harus dikurangi dengan jatah masa kanak-kanak, dimana kita belum mengerti apa itu hakekat Ramadhan, belum lagi dimasa jahiliyah kita yang penuh dengan kelalaian yang sering kali melewatkan Ramadhan tanpa apa-apa, ditambah lagi dengan kondisi-kondis sulit  lainnya yang terkadang datang dan mengurangi kebersaamaan kita  dengannya, seperti dalam perjalanan, atau sakit keras misalnya yang mengurangi jatah kita meraih kenikmatan bersama Ramadhan.

Mari kita berhitung, hingga sejauh umur kita sekarang ini, berapa Ramadhankah yang berhasil kita selesaikan dengna baik?

Rasulullah SAW sepanjang usianya hanya sembilan kali menghabiskan waktunya bersama Ramadhan, akan tetapi meskipun hanya sembilan kali, beliau benar-benar memaksimalkan kebersamaan itu.

2.      Jagan Bosan Mempelajari Keutamaan dan Keistimewaan Ramadhan

Bersabar dalam mencari dan merengkuh keistimewaan dan keutamaan Ramadhan mungkin terasa sulit bagi kita. Pasalnya, setiap detik yang kita temui dibulan itu sama saja dengan detik-detik yang kita lewati dari waktu kewaktu. Tidak ada kesan khusus yang indah dan menarik, akhirnya semua berjalan biasa saja, hari demi hari kita lalui tanpa prestasi ibadah dan amal yagn bias dibanggakan, padahal banyak orang lain disekitar kita tampak penuh semangat mengejar target-target  tilawahnya, infak dan shodaqohnya, sholat malamnya dan sederetan amal-amal sunnah  lainnya. Tetapi antusiasme mereka yang mengagumkan itu tidak punya daya magnet untuk menarik kita kedalam amal-amal sebagaimana yang mereka lakukan.

Jika demikian, mungkin kita perlu berhenti sejenak, merenung dan sambil mencari tahu, barangkali karena kita belum begitu akrab dengan Ramadhan. Kita buka tabir-tabir ketidaktahuan kita harus kita singkap dengan banyak belajar, membaca  dan dengan cara apapun agar kesalahan kita di Ramadhan yagn lalu tidak kita ulangi pada Ramadhan-ramadhan berikutnya, sebab Ramadhan adalah musim semi bagi pohon iman, setelah selama sebelas bulan daun-daunnya berguguran ditimpa kemarau ibadah, ranting-rantingnya nyaris patah diterpa angina maksiat. Ramadhan datang untuk mengembalikan keindahan pohon iman dengan memberikan buah ketaqwaan yang memungkinkan pemiliknya berada dalam keadaan taqwa sepanjang tahun, sampai datang Ramadhan berikutnya.

3.      Agar tidak timbul penyesalan, Ketika berakhirnya Ramadhan .

Ramadhan adalah kesempatan berharga yang tidak datang setiap saat, dan ingat ! kedatangnya tidak menunggu kesiapan dan keluangan waktu kita. Maka, kitalah yang harus meluangkan waktu dan menyiapkan diri menyambutnya, beramal didalamnya sebanyak-banyaknya, agar ketika berlalu tidak timbul penyesalan yang dalam karena kelalaian kita sendiri.

Imam Ahmad ra. Apabila Ramadhan tiba, lelaki alim yang tekun beribadah ini memasuki masjid dan menetap didalamnya. Disana ia bertasbih dam beristighfar, setiap kali wudhunya batal, ia selalu memperbaharui wudhunya dan tidak pernah pulang  kerumahnya kecuali untuk makan, minum dan tidur. Ia berkata, “Bulan ini adalah bulan yang akan emnghapus dosa-dosa, kami tidak ingin menyamakannya dengan bulan-bulan yang lain yang terkadang kami isi dengan perbuatan maksiat, salah dan dosa.”

Lihat pula Imam Malik ra. Jika ia telah memasuki bulan Ramadhan. Ia menutup kitab-kitabnya, tidak berfatwa dan tidak melayani diskusi dengan orang lain. Ia hanya mengambil Al Qur’an dan berkata, “Bulan ini adalah Bulan ramadhan, bulannya Al Qur’an.” Ia lalu menuju ke masjid dan menetap didalamnya, memperbanyak sholat, tilawah dan dzikir sampai bulan ramadhan berlalu.

Imam Ahmad dan Imam Malik melakukan itu karena mereka sadar, Ramadhan itu sangat mahal dan terbatas, sebatas hidup mereka didunia. Mereka harus beribadah lebih banyak dibulan itu supaya tidak menyesal karena kehilangan kesempatan yagnnsangat berharga.

4.      Bekal Perjalanan kita yang jauh ada di Sini.

Ibarat ladang, Ramadhan adalah tanah yang sangat subur, apapun yang ditanam akan tumbuh subur dengan hasil yang berlipat ganda. Disinilah tempat kita mengumpulkan dan menyimpan bekal sebanyak-banyaknya untuk sebuah perjalanan yang sangaat panjang. Karena dibulan itu setiap amal akan dilipatgandakan. Ibadah sunnah akan sama nilanya dengan ibadah wajib diluar Ramadhan. Karena itu apalagi yang kita tunggu? Apakah kita menunggu usia kita yang belum tentu kita merasakannya? Apakah kita akan menunggu hingga kita memiliki harta banyak?

Janganlah kita berjudi dengan sesuatu yang tidak pasti, lalu dengan sadar kita meninggalkan kesempatan mengumpulkan bekal untuk perjalanan yang maha panjang, menuju stasiun akhirat.

5.      Kita harus menjadi yang terbaik.

Ramadhan adalah milik semua orang yang beriman, yaitu orang-orang yang percaya dan mengakui Allah SWt sebagai Rabb satu-satunya dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya serta meyakini kewajiban-kewajiban yang diperintahkan.

Ibarat sarana lomba,  Ramadhan datang dan memberi kita kesempatan yang sama dengan yang lain. Tidak ada diskriminasi sedikitpun. Tidak ada yang boleh melangkah lebih dulu, atau sekedar menunda walau dengan alas an apapun. Modal utama kita hanya stamina keimanan masing-masing agar pada langkah pertama kita terlihat lebih gesit dan mampu bertahan hingga usai lomba.

Dalam lomba kita menginginkan prestasi terbaik, keluar sebagai pemenang, atau paling tidka kita ebrada pada barisan peserta yang berhasil menyelesaikan lomba dengan hasil baik.Kita tidak ingin termasukorang-orang yang gagal, tersisih jauh di belakang sehingga kita tidak mampu mencapai finish.

Kita tidak boleh gagal, karena kegagalan akan mengecilkan kita dimata manusia, dan kegagalan di Bulan Ramadhan akan lebih menghinakan kita di mata Dzat yang menciptakan manusia.

Hasan Al Bashri berkata,”Allah telah menjadikan Ramadhan sebagai arena pertandingan makhluk-makhluk Nya. Mereka berlomba dengan ketaatan demi meraih ridho-Nya. Sebagian berhasil dan keluar sebagai pemenang, sebagian lagi meninggalkan ketaatan itu dan merepun merugi. Sungguh mengherankan orang yang tertawa dengan kelalaian pada hari ketika kemenangan hanya bagi mereka yang berbuat baik and kerugian bagi orang-orang durhaka.”

Aug
15th

Jam Raksasa Mekkah Akan Menyaingi Acuan Waktu GMT

Menara jam Mekkah yang merupakan jam terbesar di dunia, kabarnya akan menantang ketepatan waktu dari standar jam internasional GMT. Dengan adanya menara jam Mekkah ini, Arab Saudi berharap menjadi acuan jam untuk 1,5 miliar umat muslim di seluruh dunia.
Jam Menara Mekkah ini mulai berdetak pada Kamis ini, 12 Agusutus 2010, bersamaan dengan mulainya bulan Ramadan.

Menara Jam Mekkah ini sangat mirip dengan BigBen. Jam ini bisa dilihat dari empat arah. Jam ini lebarnya 45 meter ini akan diterangi dua juta lampu LED. Pada jam itu ada tulisan Arab besar “Dengan nama Allah.” Jam ini akan beroperasi dengan standar sendiri yakni Saudi Standar Waktu atau tiga jam lebih dulu ketimbang GMT.

Jamnya sendiri ada di sebuah menara dengan puncaknya terdapat lengkungan bulan sabit sebagai lambang Islam. Menara ini akan dibangun setinggi 600 meter dan akan menjadi bangunan tertinggi kedua di dunia.

Dari soal tinggi, Menara Jam Mekkah ini akan mengalahkan Big Ben. Big Ben tingginya cuma 94,8 meter dengan lebar 6,9 meter.

Keunikan Menara Jam Mekah lainnya adalah setiap datang waktu salat, 21 ribu lampu hijau dan putih akan berpendar-pendar. Ini tanda untuk mengingatkan kaum muslimin untuk salat. Lampu ini bisa dilihat dari jarak 18 mil atau 28,8 kilometer.

Pendirian Menara Jam Mekkah ini juga bertujuan agar Mekkah menjadi patokan waktu dunia. Selama 125 tahun ini, dunia internasional hanya mengenal satu standar waktu yakni jam yang dihitung dari bujur 0 derajat yang melewati Observatorium Greenwich. Standar inilah yang ingin ditantang Mekkah.

Menurut ulama Mesir Yusuf Qardawi, Mekkah lebih tepat ditetapkan menjadi poros bumi. Dalam talkshow Syariah dan Kehidupan, Yusuf menegaskan bahwa Mekka adalah meridian utama dan menjadi “titik keselarasan magnetis sempurna”.

Dia mengklaim kota suci Mekkah adalah “nol zona magnet”. Data ini dikuatkan oleh beberapa temuan ilmuwan Arab seperti Abdul Basyit dari Pusat Penelitian Nasional Mesir yang mengatakan bahwa tidak ada gaya magnet di Mekkah.

“Itu sebabnya jika seseorang tinggal di sana atau melakukan perjalanan di sana, orang akan lebih sehat karena tak dipengaruhi magnet bumi,” katanya seperti dikutip Telegraph.

Ilmuwan Barat menetang pernyataan tersebt. Mereka mencatat bahwa magnet Kutub Utara adalah fakta. Gaya itu melintasi garis bujur Kanada, Amerika Serikat, Meksiko dan Antartika.

Beginilah seharusnya berjihad untuk memenangkan peradapan. Bukan dengan kekerasan seperti yang kita saksikan beberapa minggu di Indonesia. Dari ulah FPI hingga terorisme. Sayang semua itu selalu diatributkan dengan nama Islam. Jam Mekkah merupakan hadiah ramadhan bagi umat muslim dunia. Jam Makkah itu akan menjadi patokan baru bagi 1,5 miliar muslim dunia. Dan jam itu sudah mulai berdetak pada Rabu (11/8) lalu saat umat muslim sejagat mulai berpuasa Ramadhan. Jam itu berada di Kompleks Al Abraj Al Bait Tower, khususnya di Makkah Royal Clock Tower.

Jam berdemensi 4 itu bersinar terang menerangi tulisan arab yang bermakna Allah Sang Penguasa Manusia. Jutaan lampu menerangi Jam mekkah yang auranya akan menggeser supremasi Greenwich Mean Time (GMT). Ya, jam raksasa mekkah baru saja beroperasi di Kompleks Al Abraj Al Bait Tower. Lampu pada jam mekkah bisa terlihat sejauh 18 mil berfungsi untuk menandakan wilayah sekitarnya telah masuk waktu sholat. Lampu tersebut nyala dan berkedip 5 kali sehari sesuai dengan waktu sholat wajib umat Islam.

Bukan tak mungkin impian Prof. Dr Yusuf Al Qordlowi menjadi kenyataan. Impian menjadikan Jam Mekkah titik nol waktu menggantikan Greenwich Mean Time. Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Mesir yang dikenal di seluruh dunia Islam karena acara televisi populernya “Syariah dan Kehidupan”, mengatakan, Makkah lebih cocok menjadi meridian utama karena keselarasan yang sempurna dengan medan magnetis utara.

Dia menyebut kota suci adalah zona magnet nol dan telah memenangkan dukungan dari beberapa ilmuwan Arab seperti Abdel-Baset al-Sayyed dari Pusat Penelitian Nasional Mesir. Al Sayyed mengatakan gaya magnet di Makkah kecil.

“Itu sebabnya jika seseorang melakukan perjalanan ke Makkah atau tinggal di sana, dia tinggal lebih lama, lebih sehat dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi bumi,” katanya. “Anda mendapatkan penuh energi,” katanya.

Sudah lebih dari 100 tahun titik di atas bukit di London Inggris itu diakui sebagai pusat waktu dunia dan titik awal setiap hari baru. Kini, sebuah upaya heroik berusaha menunjukan kepada dunia bahwa peradapan di bukit London Inggris itu telah usang di tepi jaman. Sebuah perjuangan umat muslim tanpa harus berdarah-darah untuk mengalihkan waktu itu supaya terwujud. Sebuah hadiah ramadan yang butuh perjuangan umat Islam agar hal ini tidak sekedar menjadi wacana. Tentunya hal ini diperlukan dukungan sosial yang kuat untuk membentuk kesepakatan internasional.

Jam mekkah akan menjadikan identitas muslim semakin kuat dan bermartabat. Perjuangan-perjuangan seperti inilah yang perlu didukung untuk meningkatkan identitas sebuah bangsa. Siapkah, saudara-saudara umat muslim menjadi pahlawan dengan menulis di blog atau dukungan di jejaring sosial yang ada? Sebuah kepahlawanan tidak perlu untuk menjadi relawan kemanusian perang. Seperti yang ke Palestina, atau Afganistan, cukup menjadi blogger. Seperti Zaid Bin Tsabit yang menyatakan hanya bisa membantu bersyair untuk membantu perjuangan Rasullah Muhammad saw.

sumber tempo dan kompas.

Aug
15th

Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 dan Jadwal Berbuka

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

bagi muslimin dan muslimat yang akan menyambut bulan suci ramadhan bisa mendownload jadwal Imsyakiyah Ramadhan 2010 dibawah ini

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Bandar Lampung di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Bandung di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Batam di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Cirebon di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Jakarta di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Jambi di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Malang di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Medan di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Palembang di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Palu di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Purwakarta di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Samarinda di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Semarang di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Surabaya di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Surakarta di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Ujung Pandang di sini
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2010 wilayah Yogyakarta di sini

Selamat Menjalankan Ibadah Puasa di Bulan Suci Ramadhan