Dimuat di Republika Kamis 8 Januari 2009
Oleh Dina Y. Sulaeman*
Pemilu Amerika 2008 belum lama berlalu. Histeria para fans Obama di seluruh dunia, termasuk Indonesia, belum hilang dari ingatan. Sepanjang bulan November 2008, televisi Indonesia tak habis-habisnya menayangkan liputan positif mengenai Obama. Bahkan mantan pembantunya pun muncul di layar hanya sekedar untuk menceritakan bagaimana masa kecil Obama. Optimisme para narasumber yang diundang berbagai stasiun TV Indonesia terhadap Obama telah menebar citra bahwa Obama adalah pahlawan baru yang akan membawa dunia kepada kehidupan yang lebih baik. Amerika adalah pemimpin dunia, bila pemimpin AS adalah pembawa perdamaian, tentu dunia juga akan damai, begitu kira-kira logika yang tersirat dari ucapan para pengamat politik yang tampil di TV.
Padahal, bila sedikit saja kita mencermati isi pidato atau tulisan Obama terkait rencana kebijakan politik luar negerinya, kita bisa menyimpulkan bahwa Obama tak akan membuat gebrakan baru. New York Times edisi 14 Juli 2008 memuat tulisan Obama yang mengungkapkan rencana absurdnya:
…Pada hari pertama masa tugas saya, saya akan memberikan tugas baru kepada militer: menghentikan perang. Sebagaimana telah saya katakana berkali-kali, kita harus berhati-hati dalam melepaskan diri dari Irak, sebagaimana dulu kita sedemikian cerobah melibatkan diri [dalam konflik ini]. Kita harus memindahkan pasukan kita dengan aman dalam jangkan waktu 16 bulan. …. Setelah itu, akan ada ‘pasukan sisa’ yang bertahan di Irak untuk melakukan misi terbatas: mengejar sisa-sisa Al Qaida di Mesopotamia, melindungi para pegawai Amerika dan melatih pasukan keamanan Irak seiring dengan kemajuan politik di Irak. Jadi, ini bukanlah penarikan [pasukan] yang tergesa-gesa.
Keabsurdan itu terletak pada niat Obama untuk tetap mempertahankan sebagian pasukan AS di Irak. Di paragraf-paragraf selanjutnya Obama menyatakan rencananya untuk memindahkan sebagian pasukan yang ditarik dari Irak itu ke Afganistan dan Pakistan. Alasannya, perang melawan terorisme harus tetap dilanjutkan dan sumber terorisme adalah Al Qaida. Karena itulah, menurut Obama, militer AS harus memfokuskan diri pada operasi militer di Afghanistan dan Pakistan. Proposal macam apakah ini? Tidakkah ini sekedar kamuflase? Poinnya tetap sama: AS akan meneruskan intervensi militernya di negeri-negeri muslim.
Kini, teror yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza telah menjadi bukti bahwa Obama memang bukanlah malaikat perdamaian yang dinanti-nanti itu. Obama hingga kini tidak menyampaikan pendapatnya atas aksi teror Israel terhadap penduduk sipil, penghancuran infrastruktur sipil, termasuk rumah, universitas, sekolah, rumah sakit, gedung parlemen, dan bahkan masjid. Penasehat senior Obama, David Axelrod, sebagaimana dilansir CNN.com (28/12/0
menyatakan, “Obama selalu memonitor situasi di Gaza. Tapi, hanya ada satu presiden yang bisa berbicara mewakili AS pada satu waktu, dan presiden itu saat ini adalah George Bush.” Kalimat yang menjustifikasi sikap diam Obama terkait tragedi Gaza ini terasa aneh. Bukankah sebelumnya Obama sangat aktif bicara tentang Irak, Pakistan, dan tak lupa untuk mengecam teror Mumbai (yang nota-bene pelakunya adalah muslim)?
Pentingnya pernyataan dan pendapat Obama tentang Palestina adalah karena AS adalah pendukung utama rezim Zionis. Sejak berdirinya Israel tahun 1948, Gedung Putih telah mengerahkan seluruh daya upayanya untuk melanggengkan berdirinya rezim opresor itu. Amerika telah mengucurkan lebih dari sepertiga bantuan luar negerinya untuk Israel yang jumlah penduduknya tidak lebih dari seperseribu jumlah penduduk dunia. Sejak tahun 1973, AS telah mengirimkan bantuan keuangan untuk Israel senilai lebih dari 1,6 trilyun dollar. Selain dukungan dana, AS tak pernah lelah menjadi tameng politik bagi Israel. Contoh gampang saja, Jumat (2/1), Bush mengeluarkan pernyataan, “Serangan Hamas kepada Israel adalah aksi teror.” Kalimat ini menunjukkan dukungan politik AS terhadap Israel, tanpa memperdulikan fakta bahwa selama sepekan sebelum Bush mengeluarkan kalimat ini, Israel telah membombardir Palestina, menewaskan lebih dari 500 warga sipil dan pembantaian itu masih berlangsung hingga hari ini.
Kembali kepada Obama, meski tak ada kalimat yang diucapkannya menanggapi pembantaian Gaza, namun sebelumnya dia sudah mengeluarkan banyak pernyataan yang memperlihatkan posisinya. Dalam kunjungannya ke Sderot (sebuah kota di Israel), sebagaimana dilaporkan NY Times (23/7/08), Obama mengatakan, “Jika seseorang mengirimkan roket ke rumah saya, tempat di mana kedua putri saya tidur di waktu malam, saya akan melakukan apapun untuk menghentikannya. Saya harap Israel juga melakukan hal yang sama. Terkait negoisasi dengan Hamas, sangatlah sulit untu bernegosiasi dengan sebuah kelompok yang bukan mewakili sebuah bangsa, tidak mengakui hak eksistensi Anda, secara kontinyu menggunakan teror sebagai senjata, dan sangat dipengaruhi oleh negara-negara lain.”
Sulit dimengerti, orang secerdas Obama, lulusan Harvard, tidak bisa menangkap fakta bahwa Israel-lah yang secara masif melakukan teror selama lebih dari 60 tahun terhadap Palestina dan bahwa Hamas-lah pemenang pemilu parlemen Palestina 2006; pemilu yang dinilai sebagai pemilu yang bersih dan demokratis oleh dunia internasional. Hanya dengan membandingkan jumlah korban di antara kedua pihak, kita bisa menyimpulkan siapa teroris dan siapa yang diteror.
Dalam pidatonya di depan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) di Chicago, Maret 2007, Obama mengatakan bahwa AS harus mempertahankan ‘komitmen total’-nya terhadap Israel dengan cara membiayai program peluru kendali agar Israel bisa memiliki militernya untuk menahan serangan Tehran dan Gaza. Reuters 2/3/2008 melansir komentar Obama terkait serangan Israel yang membunuh lebih dari 100 warga Palestina di Gaza. Menurut Obama, kekerasan di Gaza adalah akibat dari keputusan Hamas untuk meluncurkan serangan roket kepada warga Israel dan Israel memiliki hak untuk membela diri.
“Membela diri” memang selalu menjadi kata yg didengungkan Israel, diulang-ulang oleh politisi AS dan Barat pada umumnya, serta disebarluaskan oleh media-media pro-Barat. Padahal sejarah dengan jelas mencatat bahwa Israel didirikan dengan pembantaian massal di berbagai desa dan kota Palestina, serta mengusir lebih dari satu juta rakyat Palestina dari tanah mereka (dan sekarang, 60 tahun kemudian, para pengungsi Palestina telah membengkak jadi lima juta orang). Bila Deklarasi HAM PBB menyatakan bahwa “setiap manusia berhak untuk hidup, merdeka, dan hidup dengan aman”, lalu apakah perjuangan sebuah bangsa untuk merebut kembali kemerdekaan—itupun dengan bersenjatakan batu dan roket sederhana buatan tangan—boleh disebut sebagai aksi teror? Obama seharusnya dengan mudah menangkap fakta, siapa yang sesungguhnya teroris. Namun dia memilih untuk mengingkarinya. Dan dunia sepertinya harus berhenti berharap akan ada perubahan kebijakan politik AS terkait Palestina-Israel di tangan Obama.
*Dina Y. Sulaeman, penulis buku Ahmadinejad on Palestine

















By rhea on Jan 9, 2009 | Reply
Obama…
Sadarlah bahwa agresi israel ini adalah senjata untuk menjatuhkan anda. Bertindaklah sesuai dengan hati nutani anda…
Karena impian perdamaian dunia dari seluruh dunia bergantung pada anda…
Mulailah dari sekarang untuk bisa memperlihatkan bagaimana anda sebenarnya.
Jangan buat menyesal orang-orang yang telah memilih anda…
Balas
By annosmile on Jan 9, 2009 | Reply
politik Amerika tidak pernah berubah
Amerika walaupun berganti presiden tetaplah Amerika
Balas
By Dina Sulaeman on Jan 10, 2009 | Reply
Aslmkm.Baa kaba Rozy?Kemana aja?Udh g aktif d Mp?Msh d kalimantan?
Balas
admin Reply:
January 10th, 2009 at 10:46 am
walaikumsalam uni
rozy ada kok
rozy nggak aktif di MP karena pindah ke blog ini
zy masih di samarinda (kaltim)
Balas
By Septian on Jan 10, 2009 | Reply
mo bgimana lagi…
politik nya amerika sudah dari sananya bgitu..
Yes We can nya Obama cuma buat dalem negeri saja..
sungguh terlalu..
Septian´s posting terakhirnya adalah..Liburan Ke Toko Buku| Awas!! Ada Penjual Mimpi Di Dunia Nyata
Balas
By Nasrulloh on Jan 27, 2009 | Reply
Biarpun pintar otak tapi miskin jiwa, betapa tidak, disaat kekejaman Israel membabibuta didepan matanya tetapi tetap saja dia tidak menyebut itu sebagai aksi teroris malah sebaliknya dikatakan sebagai aksi bela diri, [bela diri dari siapa dan apa?????], Obama, Obama, sedikit saja saya tidak simpati dengan Anda, walaupun pernah tinggal di Indonesia. Karena Anda tidak lebih hanya monster berpenampilan necis, semuanya omong kosong. Dan untuk kalian israel, sungguh kalian sedang mengukir neraka untuk tempat kalian kelak. Terima kasih kalian telah meramaikan syurga dengan darah para syuhada sehingga tiada tempat disyurga untuk kalian, yang tersisa hanyalah “NERAKA” tempat kembalinya bangsa israel.
Balas
By luna on Jan 27, 2009 | Reply
Negara Amerika adalah korban propaganda Israel yang ingin menguasai Palestine (liat komentar Obama tentang roket dari Hamas). Obama merupakan orang yang Romantis alias Sentimentil, Obama adalah Penyayang Keluarga sejati,dan sayangnya Israel bisa melihat kekurangan dari kelebihan Obama tersebut, celah ini lah yang dimanfaatkan oleh Israel untuk mendapat persetujuan dari Obama yang notabene Presiden of America untuk mengagresi Palestine.
Cerdasnya Israel hanya dengan membuat pengandaian sederhana untuk Obama, 1300 Palestine telah meninggal. Padahal Cuma andai-andai aja,belum terjadi. Itulah hebatnya!
Guys, about Obama, saya percaya Obama adalah orang yang punya hati nurani, gaya bicaranya, pola fikirnya, sangat humanis! Cuma mungkin Obama terlalu sentimental kemarin, sehingga akhirnya tindakan dan ucapannya jadi emosional.
Guys, saat ini Indonesia tidak akan berpengaruh seperti Amerika sana. Pemerintah kita terlalu pengecut dalam membela yang benar! America masih menjadi harapan untuk Palestine, kalau kita mau…!
Obama, yang Notabene bernama asli Barrack Hussain Obama, memiliki darah muslim dari ayahnya, lihat saja dari namanya. Apalagi dia orang yang humanis, apapun effect yang sudah ditimbulkan dari Ucapannya, Obama tetaplah orang yang punya hati nurani,
Asal kan kita mau….!
Terlebih lagi Obama pernah tinggal di Indonesia, benar kan hai Rakyat dan pemerintah Indonesia???
Insya Allah orang Muslim adalah orang yang cerdas, yang bisa membalas kecerdasan Israel dengan Kecerdasan Juga….. Amin.
Obama kan punya blackberry tuh… jadi kan bisa liat internet.. makanya hayo yang pinter bahasa inggris gimana caranya supaya yang terjadi sebenarnya di gaza Obama harus tau, yang pinter komputer, pinter internet jg harus bergerak!!! jangan salah, kalian bisa mencegah tumpah darah lagi di palestine..!
Hayu.. geura kita bergerak dari segala arah bantu Palestina!
Balas
By Yuza on Jun 8, 2010 | Reply
Omong kosong. . . ! Fuck obama gua benci lu , , indonesia udah ternoda karena lu pernah tinggal n skolah disini, fuck you lu ga punya hati lu cuma pengen tenar doang dasar yahudi
Balas