Jun
17th

Saya Tidak Butuh Agama Islam!

Files under Bengkel Hati | Posted by admin

Judul diatas mungkin sangat ekstrim dan menyinggung perasaan kita, tapi jangan marah dulu, mari kita baca tulisan dibawah ini dengan baik, semoga bermanfaat buat kita semua.

Erianto Anas

Benar saya seorang Islam. Tapi saya tidak butuh Keislaman anda. Apakah anda merasa tersinggung? Saya bilang begitu saja kok anda tersinggung? Apa hubungannya?

Secara legal formal KTP saya Islam. Secara garis keturunan, saya sudah Islam sejak saya dilahirkan. Dan secara sosial kemasyarakatan, saya juga dikenal sebagai orang Islam. Karena saya melakukan berbagai ritual ibadah dalam Islam. Dan secara pribadi saya juga mengimani Islam sebagai keyakinan saya. Tapi .. Islam yang saya pahami bukan pada label, bukan pada nama-nama. Bukan pada segala asesoris. Bukan pada slogan. Singkatnya Islam dalam pemahaman saya tidak pada segala unsur fisik-ragawi.

Silahkan anda baca di depan saya Allahu Akbar, Subhanallah, Masya Allah, Nauzubillha, atau …. Satu truk ayat Alquran dan Hadis. Saya tidak peduli.

Kenapa?

Saya hanya peduli pada pribadi anda. Apakah anda bermoral atau tidak.
Apakah anda menghargai saya atau tidak. Apakah anda etis atau tidak.
Apakah anda jujur atau munafik. Apakah anda sok steril atau apa adanya.
Apakah anda sok suci atau manusiawi.

Saya menghayati Keislaman sebagai pengamalan nilai-nilainya. Nilai-nilai spiritualitas Universal. Nilai-nilai moral Universal. Segala teori, dakwah, slogan, itu hanya budaya bagi saya. Sebagai aktivitas kebudayaan manusia. Satu tronton buku-buku tentang Islam, satu truk DVD ceramah agama dikumpulkan lalu ditempelkan ke telinga saya,
semua itu bagi saya bukan Islam dalam maknanya yang hakiki. Semua itu adalah hasil budi daya manusia. Inventaris kekayaan intelektual kebudayaan di bidang agama.

Saya teringat ada hadis Nabi yang menyatakan (dalam bahasa saya sendiri), bahwa akhlak yang baik menggambarkan agama yang baik. Pernyataan itu saya pahami bahwa hakikat keagamaan seseorang bukanlah pada segala embel-embel lahiriah. Tapi adalah pada akhlak kepribadian seseorang. Dan pada hadis lain Nabi juga menyatakan bahwa beliau diutus ke dunia adalah untuk mengubah akhlak manusia. Ini berarti akhlak kepribadian adalah sentral dalam misi ajarannya. Pusat dalam Keislaman.
Dan semua ritualitas ibadah dan pranata sosial yang dibangunnya pada akhirnya adalah dalam rangka untuk menempa akhklak seorang Muslim. Apakah hasil dari segala ritual formal ibadah itu bisa membuatnya berlaku sabar, tenggang rasa, peduli, tolong menolong, kasih-mengasihi dan seterusnya dengan sesamanya.

Dan semua itulah yang akan dipersembahkannya pada Tuhan. Dan atas itulah ridho (restu) Tuhan turun pada dirinya. Hablum minan nas dan Hablum minallah. Berbuat baik pada manusia dan berbuat baik pada Tuhan. Kenapa berbuat baik pada manusia yang didahulukan?

Karena agama (Islam) adalah untuk manusia. Bukan untuk Tuhan. Tuhan tidak butuh agama. Jika manusia sudah bisa damai sejahtera bersama sesama manusia di bumi, maka sesungguhnya visi agama (Islam) pada hakikatnya sudah tercapai. Sesuai dengan tujuan diutusnya Nabi Muhammad oleh Tuhan.

Apa artinya sesorang muslim taat beribadah secara ritual-formal, berkoar-koar berdakwah, demi membela dan mencintai Islam (katanya), tapi dia berlaku sinis, kasar, dan mudah mengamuk pada orang lain. Bisakah Tuhan disogok dengan cara menjilat seperti itu? Dan bukankah itu sudah salah pasang? Bukankah jusru ridho Tuhan bertengger diatas fondasi berbuat baik dengan sesama manusia?

Nah, dengan memahami Keislaman seperti inilah saya menjadi tidak peduli dengan segala label dan sorak sorai Islam. Anda boleh mengaku tamatan Universitas Islam Planet Siratul Muntaha. Anda boleh mengaku dari Persatuan Islam Dunia Jagat Raya. Anda boleh mengaku Ustad terkenal di Planet Yupiter. Anda boleh mengaku hafal Alquran dan Hadis. Anda boleh mengaku disanjung dan dipuja sebagai Partai Islam, Pemimpin Islam, Ulama Islam dan segala Islam bla bla bla. Tapi jika moral kepribadian anda centang prenang saya tidak peduli.

Saya hanya peduli pada moral seseorang.
Siapapun dia. Apapun label agamanya. Bahkan tidak beragama sekalipun.
Sepanjang dia bermoral, itulah hakikat Islam dalam penghayatan saya.
So, apa yang anda pikirkan?

sumber http://forum.tempointeraktif.com/node/928

Artikel Terkait


7 Responses to “Saya Tidak Butuh Agama Islam!”

  1. By z3kalitriplez on Jun 17, 2011 | Reply

    Ajaran seperti inilah yang disebut PLURALISME….semuanya benar asal bermuara pada satu hal yaitu akhlak yang baik.
    Padahal hanya satu kebenaran dan kebenaran itu adalah Islam…Syari’ah Islam adalah aturan baku yang diturunkan Allah bagi umat manusia.Jadi jikalau manusia tidak mengikuti aturan baku tersebut maka akhiratnya dijamin tidak akan selamat meskipun di dunia dia bisa mencapai segalanya termasuk akhlak dan sosial yang baik.
    Saya tidak akan berdebat panjang lebar karena seperti yang dikatakan penulis bagaimanapun dia tidak akan menerima pendapat orang. Jadi bagi saya biarlah ia berpikiran demikian tugas saya hanya berdakwah..hidayah ada pada kuasa Allah….hanya di Yaumil hisab nanti penulis baru tercenung-cenung menyesali perbuatannya…tapi itu sudah terlambat
    Wallahu’alam

    Balas

  2. By tedi on Jun 20, 2011 | Reply

    Orang yang benar-benar memahami islam akan menunjukkan jati diri keislamaanya sesuai dengan sunah rasulullah saw baik dari cara makan, cara berpakaian, cara berbicara dan semua aspek kehidupan

    Balas

  3. By Fajrianor on Jun 24, 2011 | Reply

    Di Dunia anda boleh berkata tidak butuh agama islam, di akhirat nanti anda akan tau agama apa yang anda butuhkan, beserta ajaran2nya…

    Balas

  4. By Wien on Jun 27, 2011 | Reply

    kebetulan saya baca tulisan anda, ma’af. karena terlanjur membaca semuanya dengan lengkap dan terakhir anda menanyakan pendapat saya sebagai pembacanya, tetapi saya meragu apakah ‘sebenarnya’ anda meminta jawaban ‘apa yang saya fikirkan’ atau nasihat ? kalo nasihat saya rasa anda lebih tahu untuk mencarinya dimana. kalo ‘yang saya fikirkan… nah ini dia yang paling saya takutkan, benarkah anda menginginkan apa yang ada difikiran saya ?

    Balas

  5. By Didien on Jun 28, 2011 | Reply

    Bagaimana menurut admin sendiri? Saya mendukung pluralisme. Tetapi yang saya tahu dalam Islam tidak mengakui (baca: tidak boleh) ada pluralisme.

    Balas

  6. By Kristo on Jul 9, 2011 | Reply

    SECARA PRIBADI TULISANNYA SANGAT BAGUS DAN MENYENTUH INTI KEHIDUPAN ITU SENDIRI.SINGKAT KATA ” IMAN YG HIDUP ” MOHON MAAF UNTUK PEMBACA YG MEMIIKI TANGGAPAN BERBEDA MENGAKHIRI COMENT INI ” USIA KITA TERLALU SINGKAT UNTUK MENJADI MANUSIA YG PERFEKTIONIST”

    Balas

  7. By Mengenal Tentang Busana Batik on Aug 16, 2011 | Reply

    ummm,,, makasiy yah tipsnya, keep to share maz

    Balas

Post a Comment

Tautan komentar adalah nofollow free.