Sebut saja namaku Annisa. Aku lahir dari keluarga petani yang sangat sederhana, nun jauh disana di sebuah desa bernama Kenangan. Sebagai anak ke 4 dari 9 bersaudara, aku sudah terbiasa bekerja keras. Mulai dari membantu Emak di rumah sampai sekali-sekali membantu Bapak di ladang.
Setiap hari kutantang matahari. Aku bangga sekali bila berhasil menjadi pemenang. Sebelum ia bangun, aku sudah selesai membersihkan rumah dan menanak nasi. Manakala ia mulai menggeliat malas di peraduannya, ayam-ayamku sudah selesai kuberi makan. Dan ketika ia hendak tersenyum manis pada dunia, aku sudah selesai mengisi semua ember-ember di kamar mandi. Kakakku Aziza bisa segera mencuci semua pakaian kami pagi ini.
Demikianlah hari kulalui. Perekonomian orang tuaku yang pas-pasan dan prinsip Bapak yang tak kumengerti membuat aku hanya sempat sekolah sampai kelas 3 SD. Hanya abangku yang tertua yang sekolah samapi SMA. Padahal kata Bu Zakiyah kepala sekolahku, aku termasuk murid yang cerdas. Setiap tahun selalu juara kelas. Pernah beliau datang ke rumah menawarkan beasiswa untukku pada Bapak. Eh, Bapak malah marah…”Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi…nanti kalau terlalu pintar malah melawan sama suami.”
Prinsip Bapak ini tak pernah mampu kupahami. Apa salahnya perempuan berpendidikan tinggi? Bukankkah Bu Zakiyah wanita yang cerdas dan berpendidikan tinggi? Tapi tak pernah sekalipun terbersit kabar ia suka melawan suami. Yang disaksikan orang-orang, ia begitu takzim dan hormat pada Pak Zakaria, suaminya. Sayangnya pada jamanku, anak tak sering diberi kesempatan bicara, sehingga aku tak punya kesempatan menjelaskan pada Bapak. Aku hanya tunduk dan patuh padanya.
Hmmm, aku tidak adil pada Bapak. Ceritaku membuat Bapak terlihat demikian kejam. Padahal beliau seorang ayah yang bertanggung-jawab dan sayang sekali pada kami. Walaupun tidak bersekolah tinggi, tapi kami semua diantar belajar agama dan mengaji. Aku boleh malas memberi makan ayam, aku boleh pura-pura sakit dan tak menimba air dari perigi…tapi kalau aku tidak shalat dan mengaji, beliau pasti marah sekali!
Begitulah aku menjalani hari. Seperti kedua kakakku Aziza dan Aklima, aku dinikahkah Bapak ketika aku berusia 18 tahun. Aku takut sekali. Aku tidak kenal pada calon suamiku. Hanya dengan melihat kebahagiaan perkawinan Aziza dan Aklima, aku memberanikan diri menyongsong sebuah peristiwa penting yang bernama pernikahan. Demikianlah akhirnya aku menikah dengan Ali dengan keyakinan Bapak pasti telah memilih seorang yang shaleh dan baik hati untukku, sebagaimana beliau melakukannya utnuk Aziza dan Aklima. Lantas akupun diboyong ke rumah mertuaku di desa Harapan.Aku tinggal disana bersama mertua dan kelima adik iparku.
Sungguh, aku tidak keberatan memasak, mencuci, menyetrika, membersihkan rumah….melakukan semua pekerjaan yang sudah ditumpuk untukku. Toh aku sudah terbiasa bekerja keras…lagi pula aku melakukannya untuk mereka, orang-orang yang kini telah menjadi kelaurgaku sendiri. Hanya saja aku suka menangis dalam hati…kala aku khilaf atau salah melakukan suatu pekerjaan, Ibu mertuaku tak segan-segan memarahi bahkan memaki. Bahkan adik-adik iparku pun berani menghardikku.
Aku pasrah, maklumlah aku hanya anak petani. Aku tidak ingin mengeluh dan kalah. Setiap hari aku berdoa semoga Tuhan melembutkan hati mereka. Semoga Tuhan menyentuh hati mereka dengan kasih sayang sehingga mereka mampu melihat cinta dan kerja kerasku untuk mereka. Aku cukup tau diri suami belum punya pekerjaan tetap, kami masih menumpang. Karnanya aku melakukan apa saja yang aku bisa. Aku tidak pernah memberitahu Bang Ali apa yang terjadi. Aku tidak mau membuatnya berada pada posisi “diantara”. Aku juga tak mau ribut pada Ibu dan Bapakku. Aku takut kalau sesuatu yang buruk terjadi pada perkawinanku, nasibku malah runyam….pulang kampung dengan predikat baru…
Hari terus berganti….empat tahun terasa demikian lama bagiku untuk dilewati. Tidak ada yang berubah…Ibu mertua dan adik-adik iparku tetap saja berlaku kasar padaku. Tak jelas aku ini pembantu apa menantu…Duh, kisahku seperti kisah Upik Abu…hiks…
Masa Depan. Kami memperoleh fasilitas rumah yang bisa dicicil setiap bulannya, sehingga dalam 10 tahun rumah itu akan menjadi milik kami. Kami pun pindah kesana.
Akhirnya Tuhan menganugrahiku sebuah surga di dunia. Syukur tiada henti kupanjatkan dalam tiap tetes air mata bahagia. Tuhan, sungguh tiada terkatakan berkahmu ini. Aku punya rumah sendiri, tinggal bersama suami yang penuh cinta dan baik hati dan sekarang sedang menanti kelahiran anak pertama kami.
Tapi setahun kemudian… Ibu mertuaku dan dua adik ipar muncul di rumah kami. Turun dari taksi, kedua adik iparku menangis menghampiri. Mereka minta maaf atas segala kekesaran mereka tempo hari. Sementara Ibu mertuaku, wajahnya tampak murka sekali.
“Ini pasti do’amu…Ini pasti do’amu!” ia berseru marah padaku.
Setelah Bang Ali berhasil menenangkan beliau, akhirnya kami tau apa yang terjadi.
Adik iparku Rina, menikah setahun yang lalu. Nasibnya ternyata sama dengan nasibku, tinggal di rumah mertua dan jadi pembantu. Bedanya Rina tak biasa bekerja seperti aku. Ditambah lagi suaminya rupanya suka berjudi. Setiap kalah, ia pulang ke rumah dan memaki-maki. Rina disalahkan sebagai sumber kesialannya kalah di meja judi. Rina menyerah karna tak tahan lagi, minggu lalu dia kembali pulang ke rumah mertuaku.
Adik iparku Sari, baru dua bulan menikah. Dia tinggal bersama mertuaku. Sayangnya, tadi pagi seorang wanita datang dan mencercanya habis-habisan. Ternyata Sari adalah istri kedua. Mertuaku tidak tau suaminya sudah punya istri. Tetangga kiri-kanan sibuk berbisik mendengar teriakan marah istri pertama suaminya Sari. Akhrinya Ibu mertuaku tak kuasa menahan marah dan malu, mereka berangkat ke rumah kami.
Malam itu, bang Ali bersimpuh dan mencium tanganku.
“Maafkan aku, Annisa. Aku suami yang zalim…aku demikian buta sehingga tak mampu melihat penderitaanmu selama empat tahun ini. Aku sibuk mencari nafkah dan lupa memperhatikan hari-harimu. Maafkan juga Ibu, beliau dibutakan amarah dan lukanya, sehingga tak mampu melihat betapa beruntungnya aku, dianugrahkan istri mulia seperti dirimu. Mungkin ini karma untuk keluargaku, yang berlaku tidak adil padamu….”
Sepanjang malam aku tercenung. Kata-kata Bang Ali terngiang-ngiang ditelingaku. Sungguh, tidak pernah terbersit satu keburukanku dalam tiap tetes air mata dan do’aku. Mengapa aku menginginkan mereka menderita? Aku menyayangi mereka. Mereka adalah keluarga suamiku, suami yang begitu kucintai karna keshalehan, kelembutan dan kebaikan hatinya. Tuhan…malam kian larut. Namun tak juga mampu kuurai hikmah dibalik semua ini…Karma, benarkah engkau ada?
dari Kak dian di Mesir

















By imam bachtiar a.k.a gendoet on May 30, 2009 | Reply
maha suci engkau ya ALLAH menciptakan lagi memberikan kesabaran kepada mahluk mu yang paling indah yang bernama “wanita”. karena nya surga engkau letak kan di bawah kaki mereka…
allahuakbar……
Balas