Beberapa diantara kita mungkin sudah pernah mendengar cerita rakyat dari Sumatera Barat yang berjudul “Lebai Malang”. Bagi yang belum berikut sedikit ceritanya.
Dikisahkan bahwa ada seorang yang dipanggil dengan sebutan “Lebai” diundang untuk memimpin doa acara hajatan di dua kampung sekaligus. Namun, acara tersebut dilakukan dalam satu waktu serentak.
Jarak antara dua buah kampung itu pun sangat jauh. Kampung yang pertama terletak di hulu, sedangkan yang kedua berada di daerah hilir. Ada banyak versi mengenai cerita ini.
Salah satunya, beliau di undang di hulu sebagai pemimpin doa dengan imbalan akan mendapatkan dua buah kepala kambing yang digulai, sedangkan di hilir dia akan mendapatkan sebuah kepala kerbau.
Si “Lebai” pun segera mengayuh perahunya menuju hulu sungai, namun di tengah jalan dia berubah fikiran kemudian mengubah haluan menuju hilir. Setelah hampir sampai di hilir beliau mendengar dari beberapa orang di daerah itu bahwa kerbau yang disembelih sangat kurus. Akhirnya dia mengubah haluan lagi menuju hulu.
Tak dinyana, sampainya si “Lebai” di hulu. Ternyata para tamu undangan sudah pulang, dan acara hajatan juga sudah selesai. Dia pun segera cepat-cepat mendayung sampannya menuju hilir. Namun ternyata di sana acara hajatan juga telah selesai. Karena keserakahan akhirnya si “Lebai” tidak mendapatkan apapun dan pulang dengan seribu penyesalan.
Ini bukanlah kisah yang mendiskreditkan kata “lebai”. Memang dari kecil, kami di Medan sudah sering mendengarkan kata “lebai”. Lebai yang akrab di telinga kami adalah seorang yang biasa memimpin doa jika ada acara hajatan, tasyakuran, ataupun kematian.
Lebai juga gelar terhormat karena bagi orang-orang yang memiliki gelar ini berarti juga dia lebih banyak tahu mengenai ilmu agama. Bisa juga digunakan buat orang yang sudah haji, atau buat orang yang selalu memakai kopiah putih. Kami biasanya menyebut mereka dengan pak “Lebai”
Jika kita merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia akan kita temukan kata lebai (ejaan yang benar sesuai EYD bukan “lebay” dengan huruf terakhir “Y” seperti yang sering digunakan sekarang) berarti pegawai masjid atau orang yg mengurus suatu pekerjaan yg bertalian dengan agama Islam di dusun (kampung). Jika demikian makna “LEBAI” yang kami kenal dulu sesuai dengan KBBI.
Akhir-akhir ini aku sering sekali mendengar kata “lebai”. Anehnya kata itu kini tidak lagi indah di dengar. Kata itu kini tidak lagi sakral. Mungkin anda semua juga sering menemukan kata “lebai” ini. Lihat saja di FB (fesbuk). Biasanya kalo ada yang nulis status “Hari Baru Semangat Baru” terkadang ada yang suka komentar “Ah.. Lebay loe!”. Biasanya status-status bernada serupa yang bernada motivasi, hikmah, nasehat tak pernah lepas dari komentar-komentar yang juga bernada serupa. “Jangan lebay lah..”
Entah siapa yang memulai mengganti makna “lebai” yang dulunya sangat terhormat dan mulia sehingga bergeser dan dimaknai menjadi gelar buat orang-orang yang sok suci atau munafik. Akibatnya banyak orang-orang kini enggan berkata-kata terpuji, berucap dengan ucapan yang baik, bertutur dengan budi bahasa yang sopan. Karena akan langsung di”sosor” dengan kalimat “halah lebay..!”
Pastinya (sepengetahuanku) pergeseran makna yang dulunya bermakna mulia dan berubah menjadi celaan juga pernah terjadi pada zaman nabi Mulia kita Muhammad SAW. Di al-Quran dalam surat al-Baqarah ayat 104 disebutkan:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): “Raa’ina”, tetapi Katakanlah: “Unzhurna”, dan “dengarlah”. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih”
“Raa ‘ina” berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. Di saat para sahabat menyebut kata Ini kepada Rasulullah, orang-orang Yahudi pun memakai kata yang serupa dengan digumam seakan-akan menyebut “Raa’ina” padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti pandir atau kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan “Raa’ina” dengan “Unzhurna” yang juga sama artinya dengan “Raa’ina” yaitu perhatikanlah kami.
Bukankah ini adalah jalan pemikiran yang sama dengan orang-orang yahudi di zaman Rasul SAW? Kata lebai kini pun sudah bergeser makna menjadi kata untuk mencela orang lain.
Sekarang ini kata “lebai” ini sangat trend dan populer. Dan mungkin akan sangat berbahaya jika menjadi sebuah keyakinan atau anggapan bahwa tidak ada lagi orang baik, tidak ada lagi orang shalih, tidak ada lagi kata-kata hikmah. Semuanya hanya omong kosong, sok suci, munafik.
“INNA LILLAH..!
Semoga kita semua, tidak ikut-ikutan mencontoh prilaku kaum nabi luth. Ketika Nabi Luth mengajak mereka menuju kebenaran. Dengan sombongnya mereka membalas:
“Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri.” (al-A’raf: 82)
Saatnya kita introspeksi dan lagi-lagi berbenah. Dalam banyak hal kita sering salah bersikap dan menilai orang lain. Saatnya menghargai sekecil apapun pemberian, seremeh apapun ucapan. Karena sering kali banyak hal besar gagal kita raih karena meremehkan sesuatu yang kecil di mata kita.
Jika memang belum mampu berkata-kata mulia dan menyenangkan orang lain. Paling tidak, dengan diam dan tidak menyakiti hati orang lain dengan ucapan-ucapan tidak pantas itu lebih baik. Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang beriman dengan Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata-kata dengan kebaikan atau hendaklah dia diam” (HR: Bukhari & Muslim)
Kawan!
Jika memang dengan berlebai ria aku tidak menyakiti perasaan orang lain, jika memang dengan berlebai ria banyak orang yang bisa mengambil manfaat, jika memang dengan berlebai ria aku bisa terus introspeksi diri, atau bahkan mungkin dengan berlebai ria mengantarkanku ke surga. Maka, SAKSIKAN AKU SEORANG LEBAY!
oleh Ahmad Syukri, Cairo 5 Juni 2011


















By Sriyono Semarang on Jun 24, 2011 | Reply
hayulah kita lebay… hidup lebay…
haduh kepalaku lagi Pusing aku baca ini kok nggak begitu nangkep, yang venting komen dulua ya…
Balas