Jul
29th

Ketika Komunikasi Dalam Rumah Tangga Tak Jalan

Files under Bengkel Hati | Leave Comment

Seperti biasa setiap hari Jumat, Blog IT dan Bisnis Online akan memberikan cerita-cerita Hikmah yang Insyaalah bermanfaat untuk saya pribadi dan pembaca/pengunjung pada umumnya. Cerita kali ini berguna bagi yang ingin berumah tangga dan bagi yang sudah berumah tangga.

Kebahagiaan Bu Narti semakin lengkap karena tak berapa lama lagi anak bungsunya akan menjadi pengantin. Do’anya terkabul, gadis kesayangannya akan dipinang oleh seorang lelaki yang insya Allah sholeh dan bertanggung jawab menurut pandangannya.

Dan hari yang dinantipun tiba, semua berjalan dengan lancar. Meski tak semewah ?walimatul ‘ursy anak teman-temannya, tapi baginya cukup meriah. Bu Narti adalah seorang janda yang telah ditinggal suaminya beberapa tahun yang lalu. Jadilah ia seorang single parent dengan tiga anak yang lucu-lucu. Air matanya tak dapat ia bendung tatkala ijab qobul putrinya berlangsung, dia teringat mendiang suaminya. Dia berbisik dalam hati “Pak, lihat… anak kita sudah besar, dan sekarang telah menjadi pengantin yang sangat cantik…”

Pestapun telah usai, dan sekarang saatnya sang buah hati meninggalkan dirinya karena akan diboyong suaminya ke negri seberang, kebetulan menantunya itu bertugas disana.

Santi sangat berat hati meninggalkan ibunya, mengingat usianya yang akan mencapai 50 tahun. Tapi apa dikata, dia harus mengikuti kemana suaminya pergi. Dia ingin sekali membawa sang ibu untuk tinggal bersama mereka, akan tetapi ibunya menolak dengan halus. “Nggak usah nak… ibu lebih nyaman tinggal di kampung…lagian kalau disana, ibu akan susah menengok makam bapakmu jika tiba-tiba ibu rindu, kamu baik-baik disana ya…jadilah istri yang baik dan menyenangkan bagi suamimu, dampingi dia dalam keadaan apapun.”

Santipun berangkat dengan hati yang berat.

Krek…! Santi tersentak dari lamunannya, dia melihat sosok lelaki melangkah masuk. Cepat-cepat ia menyusul lelaki itu kepintu seraya menyalami dan mencium tangannya, lelaki yang selama tiga tahun ini telah menjadi suaminya.

Setelah membereskan sepatu dan tas suaminya, dia cepat-cepat ke dapur untuk menyiapkan secangkir teh hangat kesukaan seuaminya tak lupa dengan sepiring singkong rebus tuk cemilan di sore hari.

“Mas mau mandi dulu atau mau langsung makan…?” Tanya Santi pada suaminya. “Nanti saja, mas mau rebahan dulu, makannya habis magrib aja,” jawabnya singkat, dan diapun langsung masuk kekamar dan tidur. Suasanapun kembali sepi. Tak ada suara anak kecil di rumah itu karena sampai saat inipun mereka belum memperoleh satu orangpun keturunan.

Santi kembali sibuk menyiapkan makan malam buat mereka berdua.

Sebenarnya Santi bukanlah sosok yang pendiam, tetapi semenjak menikah, dia agak tertutup dan pendiam karena suaminya adalah laki-laki yang dingin dan sangat terutup, bahkan terhadap Santi istrinya. Terkadang Santi jenuh dan bosan dengan keadaan itu, dia merasa sedikit tertekan dengan sifat suaminya yang dingin, akan tetapi dia selalu ingat akan pesan ibunya bahwa suami adalah Surga dan Neraka bagi seorang istri.

Tak jarang dia menangis sendiri tatkala suaminya tak ada dirumah. Dia bertanya-tanya dalam hati kenapa suaminya masih menganggap dia seperti orang asing. Dia sedih tatkala menyaksikan sepasang suami istri yang begitu asik bercengkrama atau berjalan bergandengan, pergi jalan-jalan berdua, sedangkan dia, sangat jarang, bahkan tuk sekedar duduk bercengkrama diteras rumah di sore haripun sangat jarang.

Ingin sekali dia bertanya langsung pada suaminya, tapi dia takut jika suaminya tersinggung, jadi dia lebih memilih diam.

Sebenarnya, Burhan suaminya merasakan kegelisahan istrinya, ingin rasanya dia mencairkan suasana agar tak lagi kikuk didepan istrinya, apa lagi jika dia mendapati istrinya sedang menangis, paling dia hanya bertanya, “Kenapa menangis dek, kamu sakit? Santi hanya menggeleng dan bilang kalau dia kangen ibunya.” Lalu Burhan hanya bisa terdiam, dia tak tahu harus berbuat apa, karena sedari dulu dia memang kaku terhadap perempuan.

Waktupun terus bergulir , hari-hari dilalui Burhan dan Santi dengan rasa hampa tak menentu. Sangat monoton dan membosankan. Semakin hambar malah.

Suatu sore, Burhan mendapati Santi tengah menangis di sudut ruangan sambil menghubungi seseorang, ternyata Ibunya, Santi tak menyadari kedatangan Suaminya, sehingga Burhan bisa dengan leluasa mendengar percakapan mereka.

“Buk…Santi bosan disini, Santi pengen pulang saja, Santi gak tahan lagi, sepertinya mas Burhan tak bisa menerima kehadiran Santi,” ucap Santi seraya terisak.

“Loh…kok bisa sih nak, bukankah kalian menikah sudah tiga tahun lamanya, bagaimana mungkin kamu bisa bilang kalau suamimu belum bisa menerima kehadiran kamu, buktinya apa? Coba cerita sama ibu…”

“Mas Burhan sangat dingin Buk, dia bicara kalau ada perlunya saja, dia sangat tertutup pada Santi, bahkan kalau pulang larut malampun dia nggak pernah kasih tau ke Santi kalau dia lembur atau gimana, nyampe di rumahpun dia juga lebih banyak diam…”

“Santi seperti tak dihargai buk…santi seperti dianggap nggak ada, kalau dia lagi ada suatu masalah, dia nggak pernah mau bicara sama Santi, kalau Santi tanya dia cuma diam dan bilang nggak ada apa-apa, jadi Santi ini siapanya dia buk?”

“Apa santi nggak coba tanya ke suamimu?”

“Enggak Buk…Santi takut mas Burhan tersinggung, kan dia capek pulang kerja…”

Ibunya terdiam…sedih, terkadang ada muncul perasaan menyesal menjodohkan mereka, tapi cepat-cepat dia tepis.

Burhan terhenyak mendengar kata-kata istrinya, sedih bercampur marah kepada dirinya. Marah karena sikapnya yang dingin pada istrinya, orang yang selalu ada dikala dia susah dan senang, orang yang selalu setia merawat dirinya tatkala dia sakit, orang yang selalu setia meyiapkan sarapan dan menunggu kedatangannya setiap dia pualng, meski itu larut malam. Berbeda dengan teman sekantornya, dia bisa bercerita dengan leluasa.

Dia lupa bahwa seorang istri juga mahkluk yang bernyawa, dia bukanlah sebuah patung yang tak punya perasaan. Seorang istri juga bisa sedih, dan juga ingin mendapat sedikit perhatian dari suaminya.

Dan dia juga lupa bahwa tak cukup hanya dengan kehadiran saja pernikahan itu akan bahagia. Pernikahan itu tak cukup hanya komunikasi ranjang dan dapur, akan tetapi juga komunikasi hati.

Pernikahan akan berjalan lancar jika komunikasi berjalan dengan baik dan lancar. Percuma jika punya harta yang berlimpah dan suami/istri yang tampan/cantik, jika komunikasi sangat buruk, semua akan menjadi percuma, malah akan seperti di Neraka karena kerja sama juga takkan berjalan dengan baik, yang ada hanya prasangka dan curiga tak menentu.

Jadi, jika ingin sebuah hubungan berjalan dengan baik dan sehat, maka sangat diperlukan komunikasi yang baik pula sebagaimana Rasulullah SAW selalu mengajak bercanda istri-istrinya. Bukankah Rasulullah SAW juga sangat romantis terhadap istri-istri beliau?

Dari Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah berada di tempatku bersama Saudah, lalu aku membuat jenang. Aku bawa (jenang itu) kepada beliau, kemudian aku berkata pada Saudah, ‘Makanlah!’ Akan tetapi, ia menjawab, ‘Saya tidak menyukainya.’ Aku pun berkata, ‘Demi Allah, kamu makan atau aku oleskan ke wajahmu?’ Ia berkata, ‘Saya tidak berselera memakannya,’ Lalu aku ambil sedikit, kemudian aku oleskan ke wajahnya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika itu duduk di tengah-tengah antara aku dan dia. Kemudian beliau merintangi dengan lututnya supaya dia dapat membalasku, lalu ia mengambil jenang dari piring tersebut, kemudian dia (saudah) membalas mengoleskannya kepadaku dan Rasulullah tertawa.” (HR. Ibnu Najjar)

***

Cece (indah_putri85@yahoo.co.id)

Mohon maaf jika ada kata yang salah, wassalam.

Jul
28th

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1423 H atau 2011 M

Files under Informasi | Leave Comment

Bulan Ramadhan 1423 H/ 2011 tingal hitungan hari, Kami dari Blog IT dan Bisnis Online mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin dan selamat Menjalankan Ibadah Puasa, semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Kami akan berikan Jadwal Berbuka Puasa dan Imsak Ramadhan 1423 H untuk wilayah Samarinda dan Sekitarnya. Jadwal Imsak untuk daerah lainnya di indonesia sementara ini hanya untuk daerah Bandung dan Sekitarnya, Untuk Wilayah lain nanti kalau ada akan kami update. Semoga dengan adanya jadwal Imsak ini dapat membantu dalam melaksanakan ibadah puasa.

ramadhan

Download Jadwal Imsak Ramadhan 1423 H untuk Wilayah Bandung dan sekitarnya
Download Jadwal Imsak Ramadhan 1423 H untuk Wilayah Samarinda dan sekitarnya

Jul
27th

Curhat: Lembur create 100 blog

Files under curhat | 4 Comments

Sudah 2 hari ini saya lembur ngerjain sebuah project :) create 100 blog, lumayan pegel juga dan pastinya pinggang sakit dan tangan pegel hahahha bayangin aja mulai dari install wp, edit theme, install plugin seo, add 100 user, setting plugin dan widget asli pegel lah tangan dibuatnya.

Demi sesuap nasi dan segenggam berlian tak apalah hehehe (lebay.com). Malam ini ditemani secangkir kopi dan alunan lagu peterpan dan kla project saya melanjutkan pekerjaan ini, sementara ini istirahat sebentar buat curhat ini biar nggak jenuh :)

lembur

Dah cukup istirahatnya, lanjut kerja lagi ahh…

Semangat!!

Jul
26th

Download FREE Ramadhan WordPress Themes

Bulan Ramadhan sebentar lagi, Menyambut bulan ramadhan 2011 (1432H), saya mau share simple wordpress theme, yang diberi nama Ramadhan WordPress Theme. Siapatahu ada yang berminat.

Berikut screenshoot theme nya

ramadhan wordpress

Silahkan lihat dulu demo theme nya di http://www.s7evenstudio.com/?themedemo=ramadhan
Download Themes nya http://www.s7evenstudio.com/?download=ramadhan.zip

Jul
22nd

Apa Yang Menutupi Hatimu, Suamiku ?

Files under Bengkel Hati | 3 Comments

Kejadian dalam cerita dibawah ini bukan kejadian dalam sebuah film atau cerita kebanyakan, tapi kejadian ini sering kita temui dalam kehidupan di Indonesia, banyak wanita yang disakiti dan jadi korban Kekerasan dalam Rumah Tangga, saya membaca cerita ini sangat sedih dan terharu, semoga wanita yang menulis cerita ini mendapatkan pertolongan dan jalan keluar yang baik dari Allah SWT. Semoga cerita ini bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua.

Prangkkk….!! semua berhamburan, piring-piring dan gelas pecah berserakan.

Plakk…!! kembali tamparan mendarat dipipiku, aku hanya bisa meringis menahan sakit, pipiku lebam. Mungkin sudah tak bisa lagi dihitung dengan jari saking seringnya aku dapat hadiah tamparan dari suamiku jika dia sedang marah.

Dia tak peduli dengan sakit yang aku rasakan, dia tak pernah menghiraukan ngilunya sendiku setelah dia membanting tubuhku ke lantai, ceceran darah dipipiku dia anggap biasa saja.

Sifatnya itu tak pernah ku temui sewaktu kami masih berpacaran dahulu. Sungguh berbeda.

Kemarahannnya sungguh tak beralasan, hanya karena rasa cemburu yang membakar hatinya.

Sifat cemburunya tak dapat lagi diterima akal sehat. Jika aku pergi kewarung untuk sekedar membeli keperluan dapur, dia akan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, “ Habis dari mana, tadi bertemu dengan siapa saja, kamu bicara dengan siapa saja, laki-laki mana saja yang ajak kamu ngobrol, kamu berbicara tentang apa saja..? dan banyak lagi.

Ya Allah…… aku sungguh tak tahan dengan keadaan ini. aku sungguh lelah…, aku merasa tepasung dalam istanaku sendiri…..

Jika dia berangkat kerja, aku selalu dikurung di rumah, jendela dan pintu selalu di tutup, aku sama sekali tidak diizinkan bergaul dengan lingkunganku. Terkadang aku malu dengan tetangga.

Hampir setiap hari kami bertengkar walau itu hanya masalah sepele. Dia selalu mengutamakan egonya.

Apalagi jika sa’at di panggil aku agak telat merespon, dia langsung marah.

Yang makin membuat hatiku sakit….tatkala malam tiba, dia seperti menganggap tak pernah terjadi apapun pada kami disiang hari, meski dia masih bisa melihat bekas tamparan tangan kekar nya dipipiku, dia dengan leluasanya menikmati “ sajian malam” nya tanpa rasa bersalah ataupun mengluarkan sebait kata ma’af karena telah menyakitiku. Terkadang aku bertanya dalam hati “ sebenarnya hati suamiku terbuat dari apa..”? Astaghfirulllah!..

nangis

Pernah suatu hari Ikhsan anak kami melihat pertengkaran kami. Dia sangat ketakutan tatkala suamiku memukul serta membanting tubuhku kelantai hingga pelipisku berdarah yang menyebabkan pendengaranku agak sedikit terganggu.

Anakku gemetar dan ketakutan hingga dia pipis dicelananya, anakku yang semula periang berubah menjadi pendiam, dia selalu ketakutan jika ada orang asing yang menyapanya, dia sangat susah didekati, dia tak mau lagi datang kesekolah. Dia selalu menangis jika disuruh kesekolah, hingga akhirnya aku terpaksa menitipkan dia untuk sementara di rumah orang tuaku, agar mentalnya kembali stabil. Dia mengalami depresi berat. Aku kasihan jika dia terus-menerus menyaksikan kami bertengkar..

Aku berusaha sekuat tenagaku mempertahankan pernikahanku, walau sejujurnya aku sudah tidak kuat diperlakukan seperti itu oleh suamiku. Dalam hati aku masih sangat menyayangi suamiku meski sikapnya seperti itu.

Aku sangat sedih dengan sikap suamiku..Bukankah seorang suami harus memperlakukan istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang…. ? Jikalaupun si istri melakukan kesalahan apa mesti di tegur dengan tamparan dan pukulan…?

Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Allah Mahalembut, menyukai orang yang lembut. Dan sesungguhnya Allah memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikannya kepada sikap kasar.” (HR. Muslim

Aku teringat lirik lagu yang pernah aku putar sewaktu aku belum menikah dulu.

“Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu keras membersihkannya Nanti ia mudah retak dan pecah…

Ia ibarat kaca yang berdebu jangan terlalu lembut membersihkannya… Nanti ia mudah keruh dan ternoda…

Ia bagai permata keindahan… Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
ia sehalus sutera di awan… jagalah hatinya dengan kesabaran…
Lemah lembutlah kepadanya namun jangan terlalau .. Tegurlah bila ia bersalah namun jangan lukai hatinya. “

Wanita diciptakan dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok, ketika dibiarkan dia akan makin bengkok namun ketika ditarik dengan keras dia akan patah.

RASULULLAH Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah sosok pria yang ketika beliau dengan kesabaranya menghadapi banyak sikap dari para istri beliau. Beliau adalah seorang suami yang rela berdiri berjam-jam untuk menjadi sandaran istrinya (‘Aisyah) ketika ia ingin melihat suatu pertunjukan olah raga pedang para sahabat. Padahal waktu itu usia beliau sudah masuk usia senja.

Beliau juga tidak serta merta memarahi istrinya (‘Aisyah) ketika ia salah memasukkan sesuatu kedalam minuman Rasulullah , yang seharusnya ia masukkan gula namun garam yang tercampur didalamnya. Namun dengan bijaknya beliau tersenyum dan berkata wahai Istriku minuman yang kau buat sangatlah nikmat, Aisyah pun menjawab benarkah Ya…Rasulullah?” Kemudian Aisyah mencicipi minuman tersebut dan….Wajahnya memerah karena sangat malu juga khawatir kalau kalau Rasulullah marah.

Namun Rasulullah sudah dapat membaca kekhawatiran tersebut dan tersenyum pada istrinya dengan penuh sayang.

Firman Allah Ta‘ala, “Dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa’: 19).

Setiap sujud malamku.. aku selalu ber do’a agar Allah melunakkan hatimu suamiku. Aku hanya bisa memohon kepada yang Maha membolak balikkan hati manusia agar engkau berubah , Aku tak ingin pernikahan ini hancur…, bagaimanapun aku sangat mencintaimu karena Allah, karena aku yakin Allah Maha Pemurah. Sehingga kuat keyakinanku bahwa kita akan memetik buah yang indah dan manis pada akhirnya ,

Kembalillah ke jalan Allah suamiku, simpan tangan dan kekuatanmu untuk menegakkan kalimat Allah, bukan untuk meremukkan tulang rusukmu sendiri. Simpan amarahmu untuk musuh – musuh Allah yang kita wajib bersikap keras terhadapnya, bukan kepadaku yang selalu mendampingimu. Kami merindukan imam yang tegas dalam hal yang Allah mengharuskan kita tegas terhadapnya dan lemah lembut terhadap keluarga dan sesame muslim .

Buat suamiku… semoga kau membaca note’sku ini..

Cece (indah_putri85@yahoo.co.id )

Jul
22nd

Doa Ibu yang Makbul

Files under Bengkel Hati | 1 Comment

Mungkin diantara kita sering mengalami kejadian seperti cerita dibawah ini, termasuk saya pribadi, sudah dilarang oleh orang tua (ibu) tapi masih juga kita lakukan, alhasil apa yang kita lakukan tidak berjalan dengan baik dan tidak berkah bahkan terkadang malah menjadi mudharat. Semoga cerita dibawah ini bisa menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kita semua. aminn

Kejadian Pertama

Hari itu, 31 Desember 1998, tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Malam menjelang tahun baru, saya masih berada di rumah. Ibu dengan dibantu beberapa ibu-ibu tetangga sedang memasak menu untuk acara syukuran di kompleks perumahan kami. Tri, kawan sepermainan saya, memanggil-manggil saya untuk ikut keluar. Keluyuran, menikmati suasana malam menjelang tahun baru.

Sebelumnya, ibu tidak mengizinkan saya. Saya diminta di rumah dan membantu beliau. Namun, saya tidak mengindahkan. Kata bapak, waktu itu ibu sempat mengatakan, ”Awas kalau ada apa-apa nanti di jalan.” Namun, saya tidak mendengarnya. Keburu keluar bersama kawan saya.

Kami naik motor. Tidak jelas tujuannya. Yang penting, kata Tri, jalan-jalan. Motor pun digeber cukup kencang. Sekitar pukul 20.00, saat melewati sebuah tikungan, Tri tidak mengurangi kecepatan. Tiba-tiba sebuah mobil Taft menyeruak di depan, Tri kaget. Karena panik, ia tak bisa mengendalikan laju motor. Motor bersama kami masuk parit, cukup dalam. Akibatnya, kami berdua terluka. Saya yang berada di boncengan mengalami luka serius di kaki.

Kendati meringis kesakitan, saya masih sadar. Berusaha meminta tolong. Pada saat itu, kaki kanan saya tidak kuasa menyanggah tubuh saya. Saya tidak bisa berdiri. Setelah dilihat, celana saya sudah berlumuran darah. Saya tak sempat melihat luka di kaki kanan saya tersebut. Yang jelas, darah yang keluar cukup banyak. Kepala saya mulai pening. Dalam kondisi setengah sadar dan pandangan yang mulai kabur, saya melihat kerumunan orang menuju ke arah saya. Setelah itu, saya tak tahu lagi apa yang terjadi.

Saat sadar, saya sudah berada di ruang perawatan khusus di RS Mekar Sari Bekasi. Menurut bapak, jika terlambat sedikit saja, nyawa saya saat itu mungkin tidak tertolong karena darah yang mengucur dari kaki saya cukup banyak.

Saya juga sempat melihat ibu. Tampak jelas beliau menahan tangis. Wajah saya dipeluk. Saya minta maaf kepada beliau. Setelah itu, saya kembali tak sadar. Pasrah pada apa pun yang terjadi.

Namun, saya sangat bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menghirup udara dunia. Setelah menjalani operasi, kondisi saya berangsur membaik. Memang lukanya cukup parah. Otot besar tepat di bawah dengkul robek. Dokter menjelaskan, saya bisa berjalan, tetapi pincang. Artinya, saya harus menerima kenyataan bahwa kaki kanan saya ini cacat.

Ibu berusaha terus membesarkan hati saya. Menghibur dan memberikan semangat agar saya tidak patah arang. Berhubungan atau tidak, saya percaya bahwa kejadian malam itu tak lepas dari doa beliau. Ibu bilang, beliau mendoakan keselamatan untuk saya. Dan itu dikabulkan oleh-Nya. Alhamdulillah.

Kejadian Kedua

Kala itu, selepas lulus dari IKIP Surabaya pada 2004 saya masih menjalani waktu-waktu tak menentu di Surabaya. Saya menganggur setelah sebelumnya sempat ”magang” di warung kopi milik paman. Tak betah, tapi saya tetap memutuskan untuk tinggal di Surabaya. Seolah dapat ilham, saya teringat ibu. Saya menelepon beliau dan menceritakan kondisi saya yang luntang-lantung di Surabaya. Sulitnya mencari kerja. Mau buka usaha pun tak sanggup. Mengirim lamaran kerja, sebagai guru dan pegawai swasta, tetapi belum kunjung ada panggilan. Semuanya saya ceritakan kepada beliau.

Di ujung telepon, pada pengujung pembicaraan, saya meminta restu ibu agar segera dapat kerja. Esoknya, saya dapat panggilan dari PT Tata Solusi Pratama (TSP) di divisi logistik. Hanya sekali ikut tes, saya dinyatakan diterima dan bekerja di sana. Meski hanya digaji Rp 800 ribu, saya sangat bersyukur. Alhamdulillah.

Kejadian Ketiga

Saya mulai tak kerasan di PT TSP. Saya sadar bahwa saya memiliki kemampuan lebih untuk sekadar jadi pegawai gudang (logistik). Saya ingin mengembangkan karir di bidang lain. Dan impiannya saya adalah jurnalistik atau pendidikan. Saya memberi tahu ibu soal niat saya untuk hengkang dari TSP. Beliau bilang, semua terserah saya. ”Pokoknya, apa yang terbaik menurutmu, ibu mendukung,” ucapnya waktu itu. Saya meminta restu beliau untuk mendoakan saya agar bisa mencapai apa yang saya cita-citakan.

Surat resign saya serahkan ke atasan. Dikabulkan. Saya resmi jadi pengangguran lagi. Namun, itu tak berlangsung lama. Secara tak sengaja, ketika ngopi di kawasan Ketintang, dekat kampus IKIP, saya membaca lowongan kerja. Terpampang jelas di situ, Jawa Pos butuh ”polisi EYD” alias tukang edit. Segera saya membeli amplop cokelat ukuran folio, kertas HVS selembar, dan menyiapkan berkas lain untuk mengirim surat lamaran kerja ke sana. Setelah siang saya mengirimkannya, malamnya saya telepon ibu. Meminta doa beliau.

Impian jadi nyata. Saya lolos tes administrasi dan ikut tes tulis. Setiap lolos, saya mengabarkan kepada ibu dan bapak. Ibu sangat antusias mendengarnya. Berharap saya bisa lolos dan meyakinkan bahwa saya pasti bisa. Ketika ikut tes ketiga, yakni psikotes, saya melaluinya dengan baik. Selanjutnya, saya menjalani tes wawancara dengan kepala editor (Pak Guntur) dan koordinator liputan (Pak Baihaqi). Saya sempat dicecar oleh Pak Baihaqi tentang kebiasaan membaca. Bahkan, beliau sempat melontarkan nada tinggi ketika saya agak gugup ketika menjawab. Namun, saya lolos! Gembira bukan kepalang. Saya merasa juara meski belum sepenuhnya diterima. Paling tidak, saya sudah menyisihkan banyak sarjana bahasa Indonesia dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Seingat saya, ada lulusan UGM dan Undip. Wajah mereka tampak pasti. Namun, seperti ibu bilang bahwa saya pasti bisa. Doanya menjadi penyemangat yang dahsyat. Kepercayaan diri saya berlipat-lipat.

Tiba tes terakhir, yakni kesehatan. Jujur, saya ragu. Pasalnya, saya punya sakit jantung lemah. Sehingga telapak tangan dan kaki saya selalu basah. Ini membuat saya nggak pede. Saya memohon doa kepada ibu. Tinggal selangkah lagi. Esoknya saya mengikuti serangkaian tes kesehatan lengkap. General check up. Saya yakin doa ibu selalu menyertai setiap langkah saya. Bismillah. Dan betul, saya dinyatakan lolos. Allahu akbar. Tak menyangka impian saya untuk menggeluti dunia jurnalistik benar-benar terealisasi.

Kejadian Keempat

Saya berkenalan dengan seorang alumnus Undip, kader Partai Keadilan Sejahtera. Perempuan berparas cantik dan murah senyum. Kami memutuskan bertaaruf. Sekali bersua, saya lantas nekat berkunjung ke rumahnya di Pekalongan. Mengutarakan niat kepada orang tuanya untuk melamarnya. Benar-benar bonek lah. Padahal, kala itu, saya belum punya tabungan untuk menikah. Pada pertemuan selanjutnya, orang tua saya sowan ke Pekalongan. Beberapa minggu kemudian, ganti keluarga calon mertua yang menyambangi rumah orang tua saya di Bekasi.

Semuanya terasa begitu cepat. Ibu sempat tanya ke saya, ”Apa kamu sudah siap?” Saya jawab, ”Insya Allah, Bu. Saya sangat siap.” Modal yakin saja. Allah pasti menolong saya, begitu pikir saya waktu itu.

Setelah lamaran, tanggal pernikahan kami pun ditentukan, 8 Maret 2009. Dan kantong ini belum cukup ”tebal”. Bahkan, saya belum mendapatkan kontrakan buat kami.

Saya bilang ke ibu tentang hal ini. Bapak hanya sopir, penghasilannya tak seberapa. Jika ada order, dapat uang. Jika tidak, ya nganggur. Tidak pasti setelah beliau pensiun. Ibu hanya menjual nasi bungkus dan bikin kue yang dititipkan ke warung-warung. Sangat membantu finansial rumah tangga. Karena itu, saya nggak tega untuk minta bantuan keuangan kepada ibu dan bapak untuk biaya menikah. Bingung. Gamang sekali waktu itu.

Ibu membesarkan hati saya. ”Minta sama Allah, Dia pasti menolong,” jawab ibu singkat. Saya bersemangat lagi. Tanggal pernikahan sudah dekat. Saya berusaha mencari dana untuk modal nikah. Kemudian saya bertemu dengan Mas Mierza, bendahara Badan Amil Zakat (BAZ) Jatim. Saya mengutarakan kesulitan saya. Tanpa tedeng aling-aling, beliau bersedia memberikan pinjaman tanpa anggunan sama sekali. Alhamdulillah walaa ilaha illallah…

***

Saya tak pernah menyangsikan kekuatan doa seorang ibu. Memang manusia hanya bisa berusaha, selanjutnya keputusan berada di tangan Allah.

Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Jangan mengabaikan (membenci dan menjauhi) orang tuamu. Barangsiapa mengabaikan orang tuanya, maka dia kafir.” (HR. Muslim)

Pada hadis lain disebutkan, ketika ditanya tentang peran kedua orang tua, Rasulullah SAW menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah)

Semoga Allah selalu melindungi ibuku, ibuku, ibuku, dan ayahku. Menyayangi mereka sebagaimana mereka menyayangi aku sejak kecil sampai sekarang. Aamiin.

Surabaya, 6 Juli 2011 (prasetyo_pirates@yahoo.co.id)

Jul
20th

Cara Transfer Domain di Dynadot

Tips Blog IT kali ini, saya akan memberikan langkah-langkah melakukan transfer domain di Dynadot, biar gak lupa dan sebagai database pengingat saja. Berikut langkah-langkahnya

    • Login di Acount dynadot anda
    • Masuk ke Manage Domain
    • Beri Tanda cawang di Domain yang ingin anda Push
    • Kemudian klik Set Lock

trasnfer dynadot

  • Anda akan diminta verfikasi memasukkan Info Birthday (tanggal dan Bulan) untuk Verification
  • Setelah itu masuk kembali ke Manage Domain
  • Beri Tanda cawang lagi  di Domain yang ingin anda Push
  • Kemudian Klik Change Account
  • Nanti ada pilihan untuk masukin forum name penerima
  • Baru masukkan Forum Name orang yang akan menerima Push Domain anda (forum name dilihat di account summary)
  • Nanti akan masuk ke Form Order Chart https://www.dynadot.com/order/cart.html
  • Setelah add item ke Keranjang belanja
  • Langsung masuk ke Step 4 Submit Order https://www.dynadot.com/order/submit.html

Setelah selesai tinggal suruh orang yang menerima domainnya untuk login dan menerima push domain dari anda.